Abu Bakar Ba'asyir Terancam Hukuman Mati


Abu Bakar Ba'asyir Terancam Hukuman Mati - Abu Bakar Ba'asyir terancam hukuman mati atas tuduhan mendanai dan membangun kamp pelatihan militer terorisme. Ba'asyir dikenai lima pasal berlapis dari Undang-Undang Terorisme dengan hukuman maksimal hukuman mati.

Abu Bakar Baasyir"Maksimal hukuman mati," kata M. Yusuf, Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. "Dia dituntut atas kepemilikan senjata api ilegal, melindungi buronan tersangka teroris dan menyembunyikan informasi mengenai aksi terorisme."

Tapi pasal yang paling memberatkan Ba'asyir adalah tentang menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme.

Bersama dengan hasil investigasi, Densus 88 juga memasukkan puluhan barang bukti kepada jaksa penuntut, termasuk 66 jenis senjata api yang terdiri dari A 47 dan M16, sejumlah amunisi, dokumen, telpon genggam, mobil Kijang dan sebuah motor.

Yusuf menjanjikan akan menghukum Ba'asyir secepatnya. "Kita akan proses kasus ini secepatnya. Kita ingin dia dihukum secepat mungkin."

Ba'asyir "menolak dan menyangkal semua tuntutan terhadapnya," kata pengacaranya, Achmad Michdan. Ba'asyir memilih bungkam selama proses penyidikan, beranggapan bahwa penangkapan dirinya merupakan desakan dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, kata Michdan.

Ba'asyir, yang dikenal anti Barat, telah dua kali ditangkap atas aktivitasnya yang berkaitan dengan kelompok militan. Edward Aritonang, juru bicara kepolisian, mengatakan pihaknya memiliki bukti kuat bahwa Ba'asyir memainkan peran penting dalam membangun jaringan teroris dan kamp latihan militer di Aceh.

Densus 88 menyerbu kamp tersebut pada bulan Februari dan menangkap belasan milisi yang sedang merencanakan serangan teror di Indonesia, mirip dengan yang terjadi di Mumbai, India pada tahun 2008.

Pihak berwajib mengindikasikan bahwa Ba'asyir tahu tentang kamp tersebut, membantu mendanainya dan menyediakan tokoh-tokoh agama untuk membekali para milisi dengan idiologi spiritual. Ba'asyir menempatkan seorang buronan bernama Dulmatin sebagai Koordinator Lapangan.

Dulmatin tewas dalam sebuah serbuan oleh Densus 88 tak lama kemudian.

Hari Jumat, 10 Desember 2010 lalu, Densus 88 juga menangkap Abu Tholut, Koordinator Lapangan jaringan terorisme Indonesia yang menggantikan Dulmatin. Ba'asyir mengatakan bahwa penangkapan Abu Tholut dilakukan untuk memberatkan dirinya.

Pada bulan Mei, beberapa anggota dari organisasi Jama'ah Ansharut Tauhid (JAT) yang didirikan Ba'asyir, juga ditangkap atas tuduhan menggalang dana untuk membiayai kamp militer tersebut.

Ba'asyir pertama kali ditangkap setelah peristiwa bom bali yang membunuh lebih dari 200 orang pada tahun 2002. Saat itu, dia adalah pemimpin spiritual di Jemaah Islamiyah yang bertujuan membangun sebuah negara Islam yang mencakup Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Filipina Selatan.

Ba'asyir dihukum penjara selama 18 bulan atas tuduhan terorisme dan pelanggaran imigrasi.

Dua tahun kemudian, Ba'asyir ditangkap lagi atas tuduhan membantu pelaksanaan aksi bom di hotel Marriott Jakarta pada bulan Agustus 2003. Ba'asyir dihukum 2,5 tahun penjara dan dibebaskan pada tahun 2006.

Pada tahun 2008, Ba'asyir mendirikan Jama'ah Ansharut Tauhid.
Share: