Penggulingan SBY, Kemesuman Politik Indonesia


Menjelang genapnya satu tahun pemerintahan SBY-Boediono, isu penggulingan SBY mulai gonjang-ganjing terdengar di dunia politik Indonesia. Apakah ini nyata, atau hanya sekedar kemesuman politik dalam negeri?


penggulingan SBY
Sastrality.com - Pada 20 Oktober 2010 mendatang, pemerintahan SBY-Boediono genap satu tahun. Dalam rentang waktu setahun ini, memang masih banyak pekerjaan rumah yang belum tergarap. Persoalan penegakan hukum dan isu terorisme menjadi isu sentral setahun ini.

Persoalan penegakan hukum sepertinya menjadi isu yang sangat sensitif pada tahun pertama pemerintahan SBY-Boediono. Betapa tidak, bergulirnya skandal bailout Bank Century membayangi dari awal duet presiden dan wapres ini. Isu ini berkelindan dengan kepentingan politik dari pihak-pihak tertentu.

Hasil dari setahun memerintah, kasus Bank Century sudah mulai ditangani, akan tetapi belum tuntas. Aparat penegak hukum dikesankan menutup rapat celah untuk membongkar kasus ini secara menyeluruh. Belum kelar kasus Bank Century, muncul lagi kasus kriminalisasi pimpinan KPK Bibit S Riyanto-Chandra Hamzah. Hingga kini kasus ini juga belum selesai. Belum lagi kasus mafia pajak Gayus Tambunan.

Bergulirnya tiga kasus besar itu memaksa pemerintahan SBY-Boediono kalang kabut. Kasus ini pun benar-benar menyita energi pemerintah. Bahkan kasus ini telah "mempermalukan" institusi penegak hukum yakni, kepolisian dan kejaksaaan. Dua institusi ini babak belur setahun ini.

Departemen Hukum dan HAM juga tidak luput dari cibiran. Kasus fasilitas mewah Arthalyta Suyani alias Ayin, membuka fakta bahwa adanya mafia terselubung di lembaga pemasyarakatan. Fasilitas yang tidak boleh bagi narapidana, justru dihadirkan secara megah di lembaga itu.

Lembaga kepolisian mungkin menjadi institusi yang benar-benar apes. Setelah dihantam kasus Bibit-Chandra dan kasus Gayus Tambunan, isu terorisme juga masih lekat. Perampokan Bank CIMB Niaga di Sumatera Utara menjadi PR bagi kepolisian untuk mengurai lagi benang kusut terorisme. Kerja polisi tidak mulus, karena ada suara sumbang tentang profesionalisme Densus 88 dalam penanganan berbagai kasus dengan embel-embel terorisme.

Rapor hijau setahun pemerintahan SBY-Boediono adalah di sektor perekonomian. Negeri ini lolos dari lubang krisis kedua pada 2008. Bahkan negeri ini menjadi tiga negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi dunia selain China dan India. Nilai tukar rupiah dan juga harga saham gabung, tergolong terbaik performance-nya di Asia.

Namun, dari pertumbuhan ekonomi yang bagus, ternyata angka pengangguran masih tinggi. Demikian juga dengan melonjaknya angka orang kaya di Tanah Air, ternyata angka kemiskinan juga masih tinggi. Intinya disparitas kaya dan miskin masih mengangga. Pekerjaan rumah yang harus ditangani di sisa pemerintahan SBY-Boediono.

Melihat kinerja tersebut, kini muncul wacana di sejumlah aktivis untuk menggalang upaya penggulingan pemerintahan SBY-Boedino pada 20 Oktober mendatang. Sepaham dengan Ketua Partai Demokrat Annas Urbaningrum, wacana itu hanyalah bentuk kemesuman segelitir aktivis saja.

Jika kita ingin menyelamatkan negeri ini, suksesi konstitusional di situasi normal seperti saat ini jauh lebih elegan. Tentunya situasi normal saat ini, sangat berbeda sekali dengan situasi abnormal pada 1998 silam, saat mahasiswa dan rakyat bersatu untuk melengserkan rezin Orde Baru.

Saat ini, sebenarnya belum ada kondisi abnormal, yang memaksa dilakukan upaya suksesi paksa. Bukankah negeri ini sedang bangkit kembali? Memang banyak pekerjaan rumah yang belum selesai, tapi itu adalah pekerjaan untuk 4 tahun ke depan. Itulah tugas SBY-Boediono mencoba menyelesaikan sampai akhir pengabdiannya sebagai presiden dan wapres.

Dan sebaiknya, jika ingin suksesi, tunggu nanti di Pemilu 2014. Di sanalah alam demokrasi akan lebih fair untuk mengukur keberterimaan para kandidat.
Share: