Pembelaan Pemerintah Terhadap Indomie Menuai Kritik


pembakaran indomie
Pembakaran Indomie di Jakarta
Badan Perlindungan Konsumen mengkritik pejabat kesehatan pada hari Rabu karena terkesan terlalu terburu-buru menyatakan bahwa Indomie aman untuk dikonsumsi tanpa terlebih dahulu melakukan tes ilmiah yang tepat, menyusul larangan di Taiwan.

"Setelah kekhawatiran terhadap bahaya Indomie di Taiwan, Badan Pemeriksa Obat dan Makanan di Singapura dan Brunei segera melakukan tes untuk memastikan keamanan mie. Tapi Indonesia, sebagai negara produsen Indomie, tidak repot-repot melakukan tes apa pun," kata Marius Widjajarta, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia untuk Kesehatan (YPPKI), pada hari Rabu.

Minggu lalu, Departemen Kesehatan Taiwan menarik mi instan Indomie yang diproduksi oleh CBP Indofood Sukses Makmur dari peredaran, mengklaim bahwa Indomie mengandung pengawet asam benzoat, atau metil p-hydroxybenzoate yang berlebihan, serta parahydoxy benzoat, pengawet yang sama.

Kustantinah, Kepala BPOM Indonesia pada hari Senin mengatakan bahwa mie itu aman karena kecap hanya berisi 250mg asam benzoat per kilogram.

Menurut Badan Standarisasi Makanan Internasional, Codex Alimentarius Commission, batas maksimum pengawet adalah 1.000 mg per kilogram.

Dalam siaran pers pada hari Rabu, Agri-Food dan Veterinary Authority Singapura mengatakan bahwa hasil uji coba tidak menunjukkan adanya asam benzoat dalam Indomie Goreng yang dijual di negara tersebut.

"Kalau saja kita melakukan tes serupa sebelum mengumumkan bahwa Indomie aman, tentu tidak akan ada kebingungan publik," kata Marius. "Tapi kalau pemerintah terlalu cepat melakukan klaim, kepercayaan publik akan hilang.

Markus menyatakan bahwa klaim BPOM bahwa Indomie aman untuk dikonsumsi tidak berdasar sebab tidak didukung oleh data ilmiah.

Dia mengatakan, ada dua jenis tes yang dibutuhkan untuk memastikan keamanan makanan, yaitu tes perpustakaan dan tes laboratorium.

"Sejauh yang saya tahu, di Indonesia hanya dilakukan tes perpustakaan, menentukan tingkat standar untuk zat secara teori, sedangkan tes laboratorium tidak pernah dilakukan, padahal itu bertujuan untuk mengetahui resiko dari konsumsi harian," katanya.

Marius juga mengatakan bahwa kurangnya tes laboratorium berarti Indonesia tidak berada di posisi untuk mempertahankan keamanan produk-produknya yang diekspor ke luar negeri.

Dia menambahkan bahwa BPOM tidak boleh hanya mengandalkan standar CAC untuk mengatasi kekhawatiran masyarakat.

"Cara ini bisa digunakan oleh kompetitor dari negara lain untuk menghancurkan produk kita karena kita tidak bisa membela diri secara ilmiah," katanya.

Roy Alexander Sparingga, wakil Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya di BPOM, mengatakan bahwa badan tersebut tidak perlu melakukan tes karena asam benzoat sudah lama dikenal aman sebagai pengawet asalkan tidak melebihi batas maksimum.

"Taiwan juga menggunakan bahan pengawet. Mungkin bukan metil, tapi etil atau jenis lain, tetapi tetap saja semua itu adalah pengawet yang pada dasarnya sama, aman untuk dikonsumsi pada tingkat yang rasional," katanya.

Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa asam benzoat jika dikonsumsi terlalu banyak dapat menyebabkan mual, penurunan fungsi ginjal dan mungkin asidosis metabolik, kondisi fatal.

Fransiscus Welirang, Direktur Indofood Sukses Makmur, telah menolak gugatan Taiwan dengan mengatakan bahwa Indomie telah memenuhi semua peraturan yang diperlukan.

Dia juga menyarankan bahwa mie Indomie di Taiwan mungkin telah ditujukan untuk pasar lain dan diimpor secara ilegal ke negara tersebut, yang memiliki standar keselamatan makanan lebih tinggi dari negara lain.

Fransiscus mengatakan bahwa semua produk Indofood Sukses Makmur secara keseluruhan memenuhi pedoman yang ditetapkan oleh CAC. Namun, ia mengakui bahwa Taiwan menggunakan pedoman yang berbeda.

Titi Sekarindah, ahli gizi di Rumah Sakit Umum Pertamina Jakarta, mengatakan bahwa asam benzoat tidak berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.
Share: