Laskar Jihad Serang Pertunjukan Wayang di Solo


laskar jihad serang wayang
Wayang jadi sasaran Laskar Jihad
Sekelompok pemuda yang menamakan diri mereka "Laskar Jihad" pada Sabtu malam menyerang pertunjukan-pertunjukan wayang di desa Sembung Wetan, Sukoharjo. Mereka mengancam penonton dan memaksa mereka untuk bubar.

"Kami sangat mengutuk tindakan kekerasan ini," kata Ki Slamet Gundono, seorang dalang yang dikenal secara internasional.

Gundono mengatakan bahwa dia baru mengetahui perihal serangan tersebut dari seorang kenalan sesama dalang yang takut melaporkan insiden itu ke polisi.

"Kami memutuskan untuk bersatu dan melawan untuk melindungi seni dan budaya dari tindakan kekerasan oleh kelompok mana pun," katanya.

Gundono juga menyerukan agar para dalang tidak takut untuk menggelar pertunjukan lagi.

Joko Ngadimin, pendiri Sekarjagad, kelompok wayang dan musik gamelan, mengatakan bahwa serangan serupa sudah sering terjadi sebelumnya.

"Serangan terakhir pada hari Sabtu terjadi di dekat rumah saya," katanya.

"Dua orang terluka dan pertunjukan dipaksa untuk berhenti. Para penyerang dari Laskar Jihad melempar batu dan mengayunkan pedang."

Joko menambahkan bahwa para penyerang semuanya menggunakan sorban dan terus-menerus meneriakkan "Allahu Akbar!" sambil mengamuk.

Joko mengatakan bahwa serangan biasanya dilakukan terhadap pertunjukan kecil di akhir minggu.

"Para pengacau ini tampaknya hanya menyerang pertunjukan pada akhir minggu," katanya. "Tapi mereka belum berani untuk menggangu dalang-dalang senior."

Serangan pada hari Sabtu tersebut terjadi di rumah Ripto Anto Mulyono, seorang pembuat instrumen gamelan di desa Sembung Wetan. Ripto mengundang dalang Ki Agung Nugraha Sukresna untuk menggelar pertunjukan wayang di rumahnya sebagai bagian dari perayaan keluarga.

"Dia memintaku untuk tampil di rumahnya karena anaknya, Rahmat Nugroho, baru saja lulus tes PNS," kata Sukresna.

Dia menambahkan bahwa tidak ada pengisi acara atau pemain musik yang terluka dalam serangan tersebut.

"Awalnya aku tidak tahu siapa yang menyerang karena aku sedang memegang wayang di belakang layar," katanya. "Lalu, dalam sekejap, serangan itu berlanjut sampai ke tempatku."

Secara terpisah, Komisaris Sukiryono, Kepala Kepolisian Sukoharjo, mengatakan bahwa pihaknya tidak menerima laporan mengenai serangan pada hari Sabtu tersebut sehingga tidak tahu tentang kejadian itu. "Tapi kami akan menindaklanjuti informasi ini," katanya.

Saksi mengatakan bahwa para penyerang terprovokasi karena ada diantara penonton yang menenggak minuman keras pada saat pertunjukan, yang bisa berlangsung dari sore hingga subuh.

Ki Manteb Sudarsono, seorang wayang yang dikenal dunia, juga mengutuk penyerangan ini serta mengajak seluruh praktisi wayang untuk berdiri bersama dan menunjukkan perlawanan terhadap para penyerang.

"Saya tidak pernah mengalami hal serupa, tepi kekerasan ini menghancurkan budaya kita," katanya.

"Pemerintah dan kepolisian harus segera bertindak untuk menyelesaikan masalah ini."
Share: