Legenda Toar Sang Pengkhianat


Sejak kecil Toar sudah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pengkhianat. Saat ia duduk di kelas 3 SD GMIM Likupang, dengan lantang ia menyuarakan cita-citanya untuk menjadi seorang pengkhianat, di waktu Guru Olaf menanyakan cita-cita para murid saat besar nanti.

Guru Olaf bertanya alasan Toar memiliki cita-cita sebagai seorang pengkhianat, namun Toar sekali lagi hanya menyatakan tekadnya untuk menjadi seorang pengkhianat.

Guru Olaf lalu menjelaskan panjang-lebar bahwa pengkhianat itu adalah cita-cita yang tidak baik. Ia membujuk Toar untuk memilih cita-cita lain yang lebih baik, misalnya dokter atau pilot, atau bahkan presiden. Lebih membanggakan, kata Guru Olaf.

Tapi Toar tetap tak bergeming. Ia bersikeras pada cita-citanya, menjadi seorang pengkhianat.

Ah, biarlah, pikir Guru Olaf. Namanya juga imajinasi anak-anak, pasti saat besar nanti ia akan lupa.

Lumimuut, teman sebangku dan sahabat dekat Toar, juga penasaran mengapa Toar bercita-cita menjadi seorang pengkhianat. Tapi saat ia menanyakan alasannya, Toar hanya tersenyum dan menjawab "Aku ingin menjadi seorang pengkhianat."

Enam belas tahun kemudian, Toar berpidato di hadapan masyarakat Likupang pada acara perayaan ulang tahun desa itu. Dua tahun sudah sejak Toar kembali ke Likupang dengan gelar Sarjana Sastra yang diambilnya di Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi Manado, gelar yang membuatnya terpandang di desa itu sebagai pemuda intelektual. Dua tahun pula ia dan Lumimuut resmi menjadi sepasang kekasih.

Dengan berapi-api Toar meyakinkan masyarakat untuk menjadi pengkhianat. Kepala Desa beserta perangkat desa dan seluruh masyarakat bertepuk tangan dengan pidato Toar.

"Memang begitu kalau Sarjana Sastra, intelektual. Segala sesuatunya menggunakan perumpamaan," kata Kepala Desa dengan kagum.

Namun Lumimuut tahu bahwa apa yang dikatakan Toar bukanlah sebuah perumpamaan. Ia tahu bahwa Toar masih teguh dengan cita-citanya untuk menjadi seorang pengkhianat. Tapi sampai sekarang pun, ia masih belum tahu mengapa Toar ingin menjadi seorang pengkhianat.

Sore itu Toar dan Lumimuut pulang bersama, dan Lumimuut mengutarakan rasa penasaran yang tersimpan di hatinya sejak masa kecil, yakni mengapa Toar ingin menjadi seorang pengkhianat. Toar hanya tersenyum dan menjawab "Aku ingin menjadi seorang pengkhianat."

Kemudian Toar menghilang. Bapak dan ibunya tak tahu ia kemana. Bahkan Lumimuut pun tak tahu. Toar lenyap, tanpa ada yang tahu dimana batang hidungnya.

Beberapa bulan kemudian, seluruh desa Likupang geger. Berita di televisi dan koran memberitakan bahwa telah terjadi pengkhianatan yang dipimpin oleh seorang pemuda bernama Toar. Ibu Toar pingsan, bapak Toar geram, Lumimuut menangis, Kepala Desa geleng-geleng kepala.

Polisi dan tentara dikerahkan untuk memadamkan pengkhianatan. Toar buron.

Lalu malam itu Lumimuut terkejut saat Toar mendatanginya. Kaget dan bahagia, Lumimuut menangis, bertanya mengapa Toar ingin menjadi pengkhianat. Kali ini Toar tak tersenyum. Ia menunduk dan berkata "Baiklah, aku akan membuka semua rahasia yang kusimpan sejak masa kecilku. Tapi rahasia ini hanya akan kukatakan kepadamu," kata Toar dengan lirih.

Toar lalu berbisik ke telinga Lumimuut, membeberkan semua rahasia yang selama ini dia simpan sendiri, rahasia dibalik cita-citanya untuk menjadi seorang pengkhianat. Lumimuut menangis, terharu, bangga, memeluk Toar dengan penuh cinta.

Kemudian teriakan dari pengeras suara polisi yang menyuruh Toar menyerah membahana di tengah malam. Toar melepas pelukan Lumimuut, berlari, menerobos hutan di tengah malam.

Anjing polisi menyalak, teriakan menyerah lewat pengeras suara, lalu senjata berdentum, berdentum lagi, lalu berdentum lagi untuk kesekian kalinya.

Toar terkapar, mati.

Petualangannya sebagai seorang pengkhianat berakhir di ujung bedil.

Beberapa hari kemudian, jasad Toar dikembalikan ke desa setelah selesai diotopsi untuk memastikan bahwa memang benar Toar telah mati. Ibu Toar menangis, Kepala Desa geleng-geleng kepala, Guru Olaf diam membisu, penduduk desa bisik-bisik.

Lumimuut berdebat dengan bapak Toar. Gadis itu tegar, bersikeras mewujudkan amanat terakhir Toar, ketegaran yang membuat bapak Toar mengalah.

Maka dikuburkanlah Toar di pemakaman umum desa Likupang, di samping makam kakeknya, dengan sebuah batu nisan bertuliskan:

Toar
Sang Pengkhianat
Share: