Legenda Pulau Lihaga - Likupang


Pulau Lihaga di Likupang
Pulau Bangka adalah salah satu pintu gerbang antara dunia manusia dan dunia peri. Sampai saat ini, masih ada penduduk Bangka yang sering mengalami perpindahan dunia, kadangkala secara tak sengaja, kadangkala mereka mengaku diajak oleh peri berwujud wanita cantik untuk berkunjung ke dunia mereka. Para peri ini mengetahui rahasia untuk berpindah ke dunia manusia, sementara manusia, tidak. Sampai sekarang pun masih ada orang yang melihat peri-peri ini berkunjung ke dunia manusia. Penampilan mereka sebenarnya kelihatan sama dengan manusia, hanya ada satu perbedaan kecil yang diketahui, yaitu telinga mereka yang lebih panjang.

Legenda terciptanya pulau Lihaga di Likupang terjadi saat seorang putri dari dunia peri terpaksa melarikan diri ke dunia manusia karena dikejar oleh raksasa yang bernama Manupitu.

Manupitu menginginkan putri yang bernama Manuru untuk menjadi istrinya. Manuru tidak bersedia dan menolak permintaan Manupitu yang datang melamar dengan tidak sopan. Penolakan ini ternyata berakibat fatal karena Manupitu mengamuk dan mengacaukan dunia peri. Bahkan ketiga kakak Manuru yang kesemuanya memiliki kesaktian, tidak dapat menandingi Manupitu. Raksasa itu kebal terhadap senjata tajam maupun ilmu sihir, sehingga tidak ada yang bisa menghentikan amukannya.

Karena tidak ingin dunia peri menjadi hancur, Manuru memutuskan untuk melarikan diri ke dunia manusia melalui pintu gerbang pulau Bangka, sebuah pulau yang pada saat itu kosong, tak dihuni oleh manusia. Ia lalu bersembunyi di dalam hutan.

Manupitu yang sudah bertekad untuk memperistri Manuru walaupun harus memaksa dengan kekerasan, mengejar sampai ke dunia manusia. Dengan kesaktiannya, dalam sekejap ia sudah mengelilingi seluruh pulau Bangka, namun tidak bisa menemukan Manuru. Dengan marah, Manupitu menghancurkan hutan di pulau Bangka, merobohkan pohon-pohonnya.

Di daratan sebelah yang memiliki penghuni, ada sebuah desa kecil bernama Likupang. Penduduk desa Likupang melihat pohon-pohon yang tumbang di pulau Bangka. Mereka mengira bahwa seseorang yang sakti sedang menggunakan ilmunya untuk membuka lahan perkebunan. Karena penasaran ingin mengetahui siapa orang sakti tersebut, beberapa orang penduduk mengayuh perahu ke pulau Bangka. Belum lagi sampai di pulau tersebut, mereka melihat bahwa pepohonan itu roboh karena raksasa yang mengamuk. Dengan ketakutan mereka segera berbalik arah, kembali ke kampung mereka.

Manupitu melihat para penduduk itu menjauh tergesa-gesa dengan perahu mereka, mengira bahwa mereka telah menyelamatkan Manuru. Manupitu mengejar perahu tersebut, sehingga Manuru yang bersembunyi di hutan selamat dari amukannya.

Penduduk yang dikejar oleh Manuhitu menjadi sangat ketakutan saat raksasa itu mengejar perahu mereka. Mereka berteriak minta tolong dengan putus asa, karena daratan masih jauh. Teriakan mereka terdengar oleh seorang nelayan bernama Lahope yang sedang memancing bersama ayahnya. Melihat penduduk kampung mereka dalam bahaya, Lahope berteriak menantang Manupitu.

Saat melihat Lahope, tergelaklah Manupitu, sebab pikirnya, mana mungkin manusia yang kecil dan lemah berani menantang dirinya yang sakti, yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun di dunia peri.

Tapi Lahope lalu mengambil pisau, memotong pangkal pancingannya yang terbuat dari bambu, dan menajamkannya. Dengan sekuat tenaga ia melempat bambu tersebut ke dalam mulut Manupitu yang sedang tertawa terbahak-bahak. Bambu itu menancap ke dalam kerongkongan Manupitu sehingga ia meronta-ronta berusaha mencabutnya. Tapi walaupun telah berusaha sekuat tenaga dan mengeluarkan kesaktiannya, bambu itu tidak bisa tercabut dari kerongkongan Manuhitu. Akibat dari kesaktian Manupitu, ikan-ikan di sekitarnya mati dan terdampar di pantai. Ribuan ikan mati yang terdampar ini setelah beberapa hari kemudian menimbulkan bau busuk yang menyengat, sehingga pantai tersebut diberi nama Kinabuhutan, yang artinya ikan busuk.

Kinabuhutan
Manupitu yang kebal senjata tajam di dunia peri akhirnya tewas karena bambu yang tertancap di kerongkongannya. Tubuhnya mengapung di laut, lalu perlahan-lahan berubah menjadi sebuah batu karang. Manuru yang melihat bahwa Manupitu telah tewas, datang menemui Lahope dan berterima kasih. Lahope yang terkesima dengan kecantikan Manuru, jatuh hati kepadanya dan memintanya Manuru untuk menjadi istrinya. Manuru yang merasa berhutang budi, sebenarnya bersedia menjadi istri Lahope, namun ia terpaksa menolak karena mereka berasal dari dunia yang berbeda.

Manuru tidak bisa tinggal selamanya di dunia manusia. Semakin lama ia berada di dunia manusia, ia akan semakin lemah, dan pada akhirnya akan mati dan menghilang. Lahope juga tidak bisa tinggal selamanya di dunia peri karena fisik manusia yang lemah akan jatuh sakit dan mati jika terlalu lama di sana. Satu-satunya cara yang bisa ditempuh adalah tinggal terpisah dan sesekali bertemu.

Akhirnya mereka sepakat untuk bertemu sebulan sekali saat bulan bercahaya terang dan ikan cakalang berkilau di balik air tertimpa cahayanya. Tempat pertemuan mereka adalah tubuh Manupitu yang telah menjadi batu karang. Lahope melarang penduduk untuk berkunjung ke batu karang dengan membohongi mereka bahwa raksasa itu akan hidup kembali jika ada manusia yang menginjakkan kakinya di karang tersebut sebelum ia terkikis menjadi pasir dan menutupi seluruh permukaannya.

Pertemuan antara Lahope dan Manuru terus berlangsung selama bertahun-tahun dan setiap kali Manuru menanti kedatangan Lahope, ia akan menyanyikan lagu kerinduan. Sampai pada suatu saat, Lahope tak lagi datang ke batu karang tersebut sehingga Manuru terus menyanyi menanti kedatangannya sampai pagi tiba.

Saat bulan terang berikutnya, Lahope tak juga kunjung datang dan nyanyian kerinduan Manuru berubah, setiap bulan semakin sendu. Waktu berlalu dan Manuru terus menanti kedatangan Lahope setiap bulan terang sambil menyanyi. Saat nelayan mencari ikan di malam bulan terang, mereka akan mendengar nyanyian sendu dari batu karang tersebut sehingga mereka menyebutnya "I Hoga" yang artinya "Ih, hantu".

Seiring dengan waktu, batu karang tersebut terkikis menjadi pasir putih dan menutupi permukaannya sehingga menjadi sebuah pulau kecil. Namun penduduk desa tak ada yang berani mendekat ke pulau tersebut karena takut dengan nyanyian hantu. Lama kelamaan sebutan I Hoga menjadi nama untuk pulau tersebut, Lihaga.

Catatan:

Ada beberapa versi mengenai cerita ini. Ada versi yang mengatakan bahwa Manuru melahirkan anak yang bisa hidup di dunia manusia, asalkan anak itu tidak pernah masuk ke dunia peri. Lahope memelihara anak mereka di Likupang dan mengatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia. Karena itulah Lahope berhenti menemui Manuru, untuk memutuskan hubungan dengan dunia peri, agar anaknya tidak akan pernah pergi ke sana.

Versi lain mengatakan bahwa sebagai seorang manusia, Lahope akhirnya tidak tahan karena hanya bertemu dengan istrinya sekali dalam sebulan. Ia akhirnya tertarik dengan seorang perempuan manusia dan mengawininya. Karena merasa bersalah pada Manuru, dan juga tak ingin istrinya tahu perihal hubungannya dengan Manuru, Lahope tak pernah lagi menemuinya. Versi ini lebih dapat dipercaya, karena lebih masuk akal secara manusiawi.
Share: