Jika Tak Pernah Berkata YA, Kita Tak Akan Pernah Tahu Apa Yang Akan Terjadi


Katakan Ya"Tak adakah orang lain?" tanyaku menutupi keraguan akan diriku sendiri.

"Tak ada, semuanya full schedule" jawab Mikro di seberang sana.

"Tapi aku lama tak main gitar" kataku lagi, ragu.

"Sudahlah, terima saja job ini. Lagu oldies, tak ada masalah"

Akh, entah apa di benakku saat aku menerima permintaan Mikro untuk menggantikannya sebagai gitaris di Deluxe Cafe, Hotel Sintesa Peninsula Manado. Selama 2 tahun aku jarang main gitar, dan lebih dari enam bulan terakhir aku sama sekali tak memainkan lagu selain lagu Metal bersama Durhaka band.

Tapi ini tepat setahun pula sejak aku memutuskan untuk mengubah caraku berinteraksi dengan kehidupan.

"Jika tak pernah mengatakan YA, maka kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi"

Selama setahun aku berusaha untuk menerapkan hal tersebut. Dan memang, dengan berkata ya, kita tidak akan pernah diam di tempat. Kemana kita akan melangkah sesudah itu hanya ada dua jalan: baik atau buruk.

Seburuk-buruknya hal terburuk yang akan terjadi, pasti akan berlalu dan kita mendapat pelajaran kehidupan dari situ. Bila yang terjadi adalah hal baik, tentu akan membuat kehidupan juga menjadi lebih baik.

Dan aku menyanggupi tawaran tersebut.

Malam, jam sembilan, aku turun dari angkot tepat di depan gerbang ke hotel Sintesa Peninsula yang terletak di atas bukit. Hotel ini dulunya sebuah rumah sakit, dan aku pernah terbaring di sana selama sebulan saat duduk di kelas 4 SD.

Karena sakit?

Bukan. Tapi karena diriku yang tak bisa diam dan selalu ingin mencoba hal baru berujung pada kecelakaan yang mengakibatkan pembuluh nadi di tanganku hampir putus. Di rumah sakit ini pula aku bertemu seorang perempuan yang usianya dua tahun lebih tua dariku.

Ia menjaga ibunya, atau ayahnya, akh, aku lupa.

Yang ada dalam catatan otakku adalah saat ia membantuku membuat susu karena tangan kananku yang terluka menyulitkan aku untuk mengerjakan hal sederhana itu dengan tangan kiri.

"Woi Witho"

Sebuah suara lelaki terdengar. Aha, itu rekanku di tim sepakbola Fakultas Sastra. Namanya adalah... wew aku lupa. Dua bulan sudah aku menghilang dari Fakultas setelah pindah tempat tinggal, kost lagi. Dan dalam waktu sesingkat itu aku seolah asing dengan dunia.

"Manggung?" tanyanya. Seorang gadis cantik berpamitan padanya sambil naik ke angkot. Ia tampak kesulitan dengan pembicaraan dua arah ini.

Aku diam, menunggu sampai gadis itu lenyap ditelan gelapnya kaca angkot.

"Ya, manggung di atas" jawabku menunjuk ke arah hotel.

"Kami baru saja karaoke di atas" katanya.

"Oh ya? Jalan ke atas lewat mana?" Memang baru kali ini aku ke sini.

"Ya jalan ke atas itu" jawabnya.

"Oke deh, aku telat"

Aku menyusuri jalan setapak yang menanjak hingga sampai di depan hotel dimana aku kebingungan mencari tahu lokasi cafe tempat aku akan manggung.

Aku lupa nama cafe tersebut.

Seorang pria berambut panjang melewatiku. Sepintas ia melirik ke arahku, namun tampaknya tak mempedulikan. Kudekati office boy di depan hotel dan menanyakan letak cafe yang mempunyai jadwal manggung untuk band pada malam ini. Ah, ternyata cafe itu hanya terletak di samping hotel.

Aku masuk ke dalam cafe, kembali kebingungan mencari personil band yang lain. Panggung itu berada di tengah ruangan karaoke, tepat di bawah layar raksasa.

Lelaki berambut panjang itu kembali melewatiku, menuju ke toilet. Sekilas ia melirikku, namun tak mempedulikan. Aku kembali mencari Office boy yang bisa kutanyai.

"Permisi, personil band yang main di sini sudah datang?" tanyaku.

"Oh, itu yang berambut panjang tadi" jawab si Office boy sambil menunjuk ke arah toilet.

Aha, ternyata lelaki berambut panjang itu salah satu personil band di sini. Aku menunggu sampai ia keluar dari toilet dan menyapanya, memperkenalkan diri, memberitahu bahwa aku datang untuk menggantikan Mikro.

Meidy, nama lelaki itu. Ia adalah seorang gitaris, namun memilih untuk bermain bass di band yang memainkan lagu oldies.

Tak lama kemudian, personil band lainnya datang. Kami saling memperkenalkan diri, lalu memulai pekerjaan musisi kami.

Session pertama dimulai. Dengan insting musik yang tersisa, aku bisa mengikuti lagu yang dimainkan, namun tak ada satu pun melodi yang masih kuingat. Mata-mata personil yang lain melirikku dengan penuh tanda tanya saat aku tak memainkan intro lagu ataupun memainkan melodi dengan sekumpulan nada asal-asalan yang baru saja kubuat diatas panggung itu.

Buruk. Penampilan yang buruk. Tapi itu belum seburuk yang kau kira.

Menjelang berakhirnya satu jam di session pertama, seorang pria gagah berambut sebahu masuk dan duduk di bangku tamu. Dalam kondisi ruangan yang gelap aku masih bisa mengenali orang itu.

Dia adalah Once, vokalis band Dewa.

Tak lama berselang, seseorang yang lebih kukenal masuk. Kami harusnya saling mengenal saat di kampung dulu. Tapi saat ini aku yakin dia tak lagi mengenalku.

Itu Dirly, runner-up Indonesian Idol entah tahun berapa, aku lupa lagi.

Dan session pertama berakhir.

Aku duduk menyudut sendiri di kegelapan ruangan cafe, larut dengan gelengan kepalaku sendiri yang tiada habisnya mencaci-maki permainan gitarku tadi. Meidy menepuk bahuku, memberitahu bahwa kami bisa memesan minuman ringan atau kopi di bartender. Wah, sebuah tawaran yang tak bisa kutolak.

Dengan segelas Coca Cola bercampur es, aku kembali menyudut dan menggelengkan kepala.

Session kedua dimulai, heboh. Pengunjung meminta Once untuk naik ke panggung dan menyanyi. Ia menyanggupi, dan meminta lagu Smoke on the Water dari Deep Purple.

Hehehe... tentu saja lagu itu mudah bagiku. Aku hanya perlu mengingat-ingat melodinya saja.

"Intro, intronya" kata Once menyuruhku memainkan intronya. Belum sempat gitarku berbunyi, Meidy sudah menghantam bass memainkan intro lagu tersebut. Oke, tak apalah, tetap kedengaran sebagai variasi yang mantap.

Begitu tiba saatnya, dengan penuh percaya diri kurajam gitarku memainkan riff Smoke on the Water. Tapi aku terhenyak ketika mendapati bahwa aku memainkan akor yang berbeda dengan bass dan keyboard.

Aku berbalik untuk bertanya kepada Meidy akor apa yang dia mainkan, namun Once tak henti berteriak menyuruhku memainkan riff gitar lagu tersebut. Aku bingung, kesal, sialan!

Hilang sudah mood dan konsentrasiku. Bahkan akor pun tak kutahu. Irama lagu itu tak lagi merasuk ke perasaanku. Ketika saatnya memasuki bagian melodi...

Once lagi-lagi berteriak menyuruhku memainkan melodi. Bah, pusing aku jadinya. Gitarku melengking memainkan melodi pada akor yang berbeda... fals.

Dan aku berhenti sebelum bagian melodi selesai.

Teriakan Once tak juga berhenti.

"Melodi..., gitar..., melodinya..., mainin..."

Sialan!

Cerewet!

Terkutuklah si Mikro, membuatku terjebak dalam situasi goblok ini!

...

...

Dan aku pulang ke rumah. Merenung mengingat kejadian tadi.

Lalu tertawa.

Tertawa karena aku menerima tawaran untuk menggantikan Mikro.

Tertawa karena aku telah membuat keputusan yang tepat.

Jika aku tak pernah berkata "YA", maka aku pasti melewatkan sebuah pengalaman seru:

Menjadi goblok di atas panggung.
Share: