Axis Belum Bayar Honor Kolintang dan Kabasaran


Sampai tulisan ini diposting, Axis belum membayar honor saya untuk main kolintang di acara launching mereka di Manado. Acara peluncuran tersebut dimeriahkan oleh hadirnya artis ibukota seperti Edwin, Jody, dan Helena Andrian dari Indonesian Idol.

Menurut Slemmersindo, Event Organizer yang mengatur jalannya keseluruhan event yang dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2010 tersebut, mereka belum menerima dana dari Axis untuk membayar paket pertunjukan tradisional Minahasa yaitu musik Kolintang dan Tarian Perang Kabasaran. Pihak Axis, saat ditanya mengenai hal tersebut, hanya menjawab singkat.

"Urusan klaim-mengklaim nanti besok saja"


Terus terang, saya yakin bahwa Axis pasti akan membayar honor saya. Tapi pembayaran di hari sesudah acara dilaksanakan, menurut saya, tidak etis, dan memandang rendah nilai kesenian. Dalam urusan sebagai seorang pemain musik tradisional Kolintang, memang saya tergolong pemula. Selama saya main musik bersama band, menjadi home band di cafe atau hotel, dengan jadwal tetap dan kontrak yang panjang, wajar jika pembayaran honor dilakukan perminggu atau perbulan. Tapi kalau untuk event, urusan antara pengisi acara dengan yg menggelar acara hanya dari check sound, test run down acara, sampai saat event tersebut berakhir, selesai. Kenapa harus diulur-ulur lagi sampai hari berikutnya. Artis yang didatangkan dari ibukota, sejak datang dari bandara dijemput, diantar ke hotel, dan dijaga kalau-kalau ada yang mereka perlukan. Selesai event, mereka ditemani pulang ke hotel, diantar menikmati hiburan malam dan bla bla bla bla bla. Apakah mereka seniman karena mereka datang dari ibukota, sedangkan kami para 'orang kampung(an)', tidak layak disebut pelaku seni juga?


Setidaknya di kampung, saya lebih dikenal daripada beberapa artis hehehe.. (ya jelaslah semua orang juga begitu, tapi tentu saja tidak termasuk Ariel Peterpan, karena dialah artis paling dikenal saat ini).


Selama 10 tahun sebagai gitaris entertainment, hal ini jarang terjadi, atau setidaknya tidak pernah terjadi dalam ingatan saya. Baik saya mengisi acara di event bersama band, mengiringi artis, ataupun menjadi additional/replacement player untuk band lain, tidak ada yang namanya penundaan honor. Begitupun saat dipanggil mengisi gitar untuk rekaman penyanyi solo. Begitu selesai rekaman, langsung dibayar, dan urusan selesai. Entah bunyi gitar di dalam rekaman tersebut mau terjual 999,999,999,999 copy atau pun karatan di toko kaset, saya tidak bisa lagi mencampuri urusan tersebut. Intinya mudah saja, selesai main, tanda tangan kwitansi tanda terima, ambil duit, dan bersenang-senang dengan wanita panggilan pulang.


Herannya, hal-hal seperti ini sering terjadi selama saya manggung bersama group kesenian tradisional. Ini membuat sebuah pemikiran sempat tersirat di benak saya, apakah benar pandangan terhadap band dan group kesenian tradisional beda? Pemain band dianggap sebagai musisi, seniman, orang-orang berbakat yang gaul dan gaya hidupnya kueren abiezzz. Sementara group kesenian tradisional dianggap sebagai orang-orang kampung yang menghabiskan sepanjang hidupnya di sawah, udik, bego, rese, dan yang terutama, tidak tahu soal dunia entertainment sehingga mudah dibodohi.


Bukan uangnya yang saya permasalahkan, tapi respect terhadap pelaku seni. Modern atau tradisional, kami adalah orang-orang yang dedicated to serve. Saat anda menikmati malam minggu, valentine, dan malam tahun baru anda, kami mengorbankan punya kami untuk membuat punya anda lebih enjoyable. Berapa banyak bos-bos berduit yang menghabiskan uangnya di pub yang penuh hingar-bingar MUSIK, menonton LIVE MUSIC, atau sekedar menonton sexy DANCER? Kamilah para pelaku seni yang membuat otak anda tetap waras setelah bertarung habis-habisan di dunia bisnis sehingga rekening bank anda masih bisa terus dialiri uang. Have respect for us!

Share: