Saatnya Sastrawan Belajar Linguistik


Saatnya Sastrawan Belajar Linguistik - JGN DIBACA PLIZZZ!!!Arti sebuah nama?

Menurut bokapnya Romeo dan Juliet, nama itu tak ada artinya. Dia bilang meja tetap meja biar dibilang celana dalam. Nah ini yg gawat. Bang Seikspir memang seorang Literaturis yg luar biasa, tapi sayangnya dia mencoba melompati batas antara Literatur dan Linguistik. Urusan makna dari kata ya jelas urusan Linguistik, bukan Literatur.

Dari segi semantik, kalau meja sudah disebut celana dalam, maka dia bukan lagi meja, tetapi celana dalam. Secara fisik memang tidak berubah, tapi kata yang digunakan untuk mereferensikan benda itu telah berubah, dari meja menjadi celana dalam. Makna dari frase benda 'celana dalam' akan berubah, dari semula hanya segitiga tak berkaki, sekarang memiliki kaki. Sama saja dengan nama orang. Kalau seorang lelaki tampan bernama Witho sudah dipanggil dengan nama Buaya oleh teman-teman kostnya, maka Buayalah namanya. Jika masih ada yg memanggil Witho, maka Witho jugalah namanya. Tapi kalau tidak ada lagi yg memanggil Witho, maka bukan Witho lagi, tapi Buaya. Kalau ditanya tentang Witho, jawabannya adalah Witho? Siapa itu Witho? Tidak kenal yg namanya Witho. Itu loh, lelaki yg paling tampan di dunia itu. Ooo... itu bukan Witho. Itu si Buaya. Buaya? siapa Buaya? Itu kan Witho? Bukan, itu Buaya! Wah itu Witho! Masa itu Witho? Bukankah itu Buaya? Wah bagaimana ini, itu kan Witho! Tapi itu Buaya loh! Sumpah itu Witho! Akh mana mungkin, itu kan Buaya...

NAMA adalah sebuah faktor yg sangat penting dalam menentukan identitas seseorang. Nama merupakan verifikasi terhadap indentitas seseorang. Contohnya, jika anda adalah seorang pria berbadan kekar penuh otot, berahang persegi, berkumis tipis berjenggot lebat dan memiliki nama Juliawati Anastasyawati Perezwati, kemungkinan besar anda akan mengalami kesulitan kalau KTP anda diperiksa oleh Polisi bernama Evan Brimob saat anda sedang bersantai di kelab malam. Begitu juga kalau nama anda adalah Cap Tikus Tiga Strep, pasti anda akan populer di kalangan preman Manado.

Nah, bagaimana kalau ada seorang lelaki yg bernama Sweetly Lahope?

Tidak masalah, asal dia mengurung diri di Likupang dan tidak berurusan dengan orang luar sepanjang hidupnya. Yang jadi masalah adalah saat dia melakukan transaksi keuangan secara online untuk menyewa hosting server dari situs US, tidak ada yg percaya kalau namanya adalah sebuah nama. Belasan tahun lalu ada orang dari Philadelphia Adwords yg berkomentar mengenai nama itu.

"It's not a name, it's a word". Begitulah katanya.

Dan ternyata memang benar. Apa yg dikatakan pria itu kini terbukti mewakili cara berpikir orang di sana saat mendengar nama Sweetly. Transaksi keuangan, terutama yg dilakukan secara online menjadi sangat sulit, karena selalu timbul kecurigaan terhadap identitas si Sweetly ini. Berbagai prosedur yg merumitkan seperti upload gambar scan KTP, SIM atau Paspor harus dilalui untuk menyelesaikan transaksi. Jangankan transaksi yg serius, untuk main game online pun masih muncul juga masalah yg sama, dianggap mendaftar dengan Identitas palsu. Kesabaran demi kesabaran ada batasnya, lama-lama dia jadi bete juga dengan perlakuan yang diterima gara-gara nama yg tidak namawi itu. Yah, walaupun tidak ada hubungannya dengan tulisan ini, aku ingin mengatakan sesuatu, yaitu mungkin lebih baik memilih Pay Per Click in Philadelphia.

Begitulah hidup, memang harus berjuang, tapi kadang ada orang yg hidup bergelimang kemujuran, seperti seseorang yang tidak saya kenal, dan bahkan mungkin tidak ada di dunia ini yang sepanjang hidupnya selalu mengingatkan semua orang mengenai SEM in Philadelphia. Entah siapa dia, di kampung ini tidak ada yang mengenalnya. Semua cuma bisa berharap, dan berdoa agar diberikan kehidupan yang lebih baik.
Share: