Google Merdeka!!!


Google Merdeka!!!
Sebenarnya hari ini tidak berniat memposting apa pun di blog. Tapi tadi sekitar jam 2:00 WITA pas buka Google ternyata logonya diganti dengan logo bendera Indonesia. Kaget, aku tak dapat menahan senyum.

Google memang punya keterkaitan sejarah yang sangat erat dengan Indonesia. Coba baca sejarah Google di bawah ini.

Google masuk ke Indonesia pada awal abad ke-16 lewat jalur perdagangan video mesum. Kata "Google" berasal dari bahasa Melayu Bugil yang dapat diartikan sebagai telanjang. Indonesia yang pada masa itu merupakan pusat perdagangan alam semesta menjadi tempat persinggahan para pedagang dari berbagai planet dan galaksi. Asimilasi budaya dan bahasa membuat penyebutan Bugil berubah menjadi Bogel. Karena para para makhluk asing kesulitan mengucapkan "Bogel", mereka melafalkannya sebagai "Boogeel" yang menjadi Boogle dan akhirnya menjadi Google, yang pada saat ini memiliki arti "gambar mesum video panas gadis abg telanjang bugil".

Google adalah makhluk asing dari luar angkasa yang menangani urusan perdagangan rempah-rempah di Indonesia. Mereka mengambil rempah-rempah dari Indonesia dan menukarnya dengan gambar mesum. Karena kepintarannya dalam merayu, ditunjang dengan teknologi Gtalk, Google berhasil mempengaruhi webmaster-webmaster Indonesia pada masa itu dan mendapat ijin untuk mendirikan server-server di Indonesia, yang akhirnya menjadi data center mereka untuk search engine. Lama kelamaan Google mulai mengambil alih kekuasaan para webmaster dan menempatkan orang-orang mereka sebagai administrator. Google memperlakukan orang Indonesia sebagai budak dan mengelompokkan mereka berdasarkan PageRank. Saat itu hanya makhluk asing yang diijinkan mengecap Adsense. Orang Indonesia yang bisa merasakan manfaat Adsense hanya segelintir saja karena mereka beruntung bisa berbahasa alien.

Selama 350 tahun, Indonesia menjadi korban dari program Google Earth, yang bertujuan mengkolonisasi seluruh daratan di bumi ini untuk ditinggali para Gogelis, makhluk asli penghuni planet Google. Usaha-usaha perlawanan yang dilakukan selalu gagal karena Google menerapkan politik adu kambing yang terkenal dengan nama Search Engine Result Page (SERP). Mereka menyebarkan keyword-keyword yang bertugas untuk mempengaruhi webmaster-webmaster Indonesia agar saling bersaing memperebutkan posisi di SERP dengan segala cara, sehingga terjadilah perpecahan.

Kalah dari segi teknologi senjata membuat perlawanan dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, menggunakan taktik scraping, yang dikonsentrasikan di blog-blog scraper untuk menembak keyword-keyword yang dianggap populer. Taktik ini sempat membuat Google kewalahan, sehingga mereka terpaksa mengeluarkan senjata baru, yaitu Google Maps, untuk mencari lokasi persembunyian para blogger.

Edwin, salah satu blogger yang ikut berjuang pada masa itu, mengatakan bahwa monopoli Google terhadap perekonomian Indonesia menyebabkan munculnya para tuan tanah feodal yang disebut dengan Online Advertising. Mereka adalah para rentenir yang berusaha mengangkat nama mereka di Google SERP dengan memeras rakyat jelata.

"Para rentenir dan tuan tanah feodal selalu memeras rakyat yang masih newbie dengan membuat PTC-PTC yang hasilnya cuma secuil, bahkan banyak yg scam..." kata Edwin sambil mengenang masa lalu.

Akhirnya, pada tanggal 17 Agustus 1945, Malaysia meng-KLAIM Google sebagai milik mereka sehingga berakhirlah kolonialisme Google di Indonesia.

T A M AT
Share: