Tragedi Termehek-Mehek Manado



Selama ini banyak penonton TV yang mengira bahwa acara Termehek-mehek adalah sebuah reality show. Mereka larut dengan skenario tragis yang menimpa sang klien dalam acara tersebut. Bualan luar biasa dari sang host semakin menambah kepedihan di hati penonton. Berjuta pemirsa larut dalam penderitaan khayalan skenario layar kaca saat menyaksikan sang klien berakting bercucuran airmata.

Kantor Pelelangan Ikan (KPI) menuding acara Termehek-mehek sebagai pembohongan terhadap penonton, tapi dibantah oleh pihak TrangTV yang mana mereka tidak pernah menyatakan bahwa Termehek-mehek merupakan reality show. Penontonlah yang mengambil kesimpulan bahwa itu adalah reality show.

Walaupun sudah diingatkan bahwa acara Termehek-mehek itu hanyalah sebuah drama yang mengikuti skenario, sulit bagi penonton setianya untuk menerima kenyataan tersebut. Penonton yang fanatik bahkan menuding bahwa semua itu adalah usaha-usaha untuk menghancurkan reality.

Pada tayangan tanggal 21 Juni 2009, syuting Termehek-mehek dilakukan di Manado. Episode kali ini sangat menggemparkan, karena kebanyakan penonton Manado mengenal tokoh-tokoh yang berperan dalam tayangan kali ini. Teriakan histeris terdengar dari setiap rumah yang memiliki TV. Awan gelap penuh kilatan halilintar segera menutupi kota Manado bersamaan dengan gempa bumi dan hujan deras disertai badai dan angin topan.

Saya sendiri hanya mengenal seorang pemeran saja, yaitu Tante Mien, yang saya kenal di stasiun TV lokal Manado. Ketika itu saya menjadi anggota Home Band acara komedi yang di-host oleh beliau.

Ending dari episode tersebut mengambil lokasi di desa Tandengan, Minahasa Selatan, dengan menampilkan sang Kepala Desa. Kebetulan tetangga saya yang adalah seorang penggemar berat Termehek-mehek, juga berasal dari Tandengan. Ia mengenal Kepala Desa tersebut, dan hampir bunuh diri saking shocknya setelah tahu bahwa acara itu hanyalah bualan belaka.

Andre Gusti Bara, seorang penyair besar, sutradara dan aktor teater asal Nanusa (kampung fiktif?) yang oleh Profesor Sastra Supardi Jacko Domino dijuluki sebagai penyair otak bebal, badan kebal, muka tebal, juga kebetulan menonton dan mengenal beberapa pemeran. Ia mengenal seorang aktor teater dari Balai Bahasa dan seorang anggota Teater dari Kotamabagu. Sungguh tragis, beliau menjadi gila saking shocknya karena melihat teman-temannya telah terkenal dan masuk TV Nasional.

Esok harinya, ketika saya membayar rekening listrik di kantor PLN, kebetulan saya mendengar orang-orang di situ ramai membicarakan tayangan Termehek-mehek semalam. Mereka heboh karena mengenal orang-orang yang berperan dalam tayangan itu. Beberapa orang ibu-ibu mengepalkan tangan dan menyatakan kebulatan tekad mereka untuk berhenti menonton acara Termehek-mehek. Seorang pemuda berseragam hijau dengan papan nama bertuliskan LINMAS bahkan bersumpah untuk memacari sang klien dalam episode tersebut yang kost di rumah tetangganya.

Akhirnya langit di kota Manado kembali cerah setelah penonton membersihkan serpihan-serpihan TV yang dibanting tadi malam.
Share: