Lemari Kayu Tua Yang Sudah Lapuk


Rasa sakit itu terus-menerus menusuk kepalaku dengan bertubi-tubi. Sekejap kesadaranku hilang dan aku terkapar di lantai, pingsan. Beberapa menit berlalu dan aku mulai siuman namun tubuhku terasa kosong tak bertenaga. Pandanganku kabur dan wajahku terasa panas.

Aku mencoba bangkit dengan berpegangan pada lemari kayu tua yang sudah lapuk. Dengan susah payah aku berhasil berdiri. Aku terdiam sejenak sambil bersandar di dinding, pandanganku dengan sendirinya tertuju pada lemari kayu tua tersebut, seolah-olah ada yang menyuruhku demikian. Tiba-tiba sekelebat tanda tanya lewat di otakku.

Aneh, rasanya ada yang ganjil dengan lemari tua itu.

Aku ingat bertahun-tahun sudah lemari ini di kamarku dan selama itu pula begini jugalah keadaannya.

Tidak ada yang berubah.

Goresan-goresan, cat yang terkelupas, sisi-sisinya yang rusak dimakan rayap, bahkan debu di atasnya tidak berubah. Sepertinya lemari itu tidak hanyut bersama waktu.

Tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu; isi lemari itu !!!

Aku tak pernah tahu apa isi lemari itu. Seolah-olah sebuah misteri yang besar tersimpan di dalamnya. Tidak ada dalam ingatanku pernah membuka lemari tua itu.

Tanganku bergerak meraih gagang pintu lemari itu. Perlahan, dengan penuh rasa penasaran, gugup, dan takut yang membaur menjadi satu dalam keringat yang menetes di wajahku. Jari-jariku bergetar. Mereka seakan dikuasai rasa takut yang besar terhadap sesuatu di balik sepasang pintu itu.

Bunyi derit engsel menyarit telinga ketika aku membuka salah satu pintu itu dan jawaban atas misteri yang membumbung di otakku kini terpampang jelas di hadapanku.

Aku terbelalak.

Waktu seolah terhenti dan aku terpaku tak bergerak menatap isi lemari itu. Lama aku terdiam sampai tiba-tiba sebuah tawa terkekeh yang mengerikan menghujam dadaku.

Tawa itu sangat tajam menyayat dengan nada yang sangat menghina sehingga menarikku kembali ke ruang waktu.

Emosiku terbakar.

Suara tawa itu seolah menyiram minyak ke atas api kemarahan ruang bawah sadarku yang paling dalam. Aku berteriak melolong dengan suara kebencian yang memilukan dan menerjang dinding kamarku dengan membabi buta.

Aku telah kehilangan kesadaran. Kebencian dan dendam yang terpendam selama ini telah mengambil alih tubuhku.

Tak sampai semenit kemudian aku jatuh dan terkapar di lantai. Entah pingsan, entah mati, aku tak tahu.

Lemari kayu tua itu tak menjawab.

Di antara lubang-lubang di atas dinding kamarku, dua ekor tikus terkekeh-kekeh, kemudian berlari turun. Mereka memandang ke dalam lemari itu, tertawa, kemudian naik dan masuk kedalam lemari. Tak lupa mereka menutup pintu dan menguncinya dari dalam agar tidak ada pencuri yang masuk.
Share: