LAN


Hari itu, seperti biasanya, mentari pagi enggan menyapaku. Mungkin ia malu. Mungkin juga ia muak dengan wajahku yang tak pernah dikenalnya. Hanya bunyi alarm digital yang sudi membangunkanku dengan setia.

Ayam jantan ? lebih baik pertanyaan itu kau lontarkan pada programmer-programmer nakal yang sering bermain peran sebagai Tuhan dengan menciptakan makhluk-makhluk mengerikan yang tak dapat dilihat mata. Entah atas kuasa siapa mereka berhak mencabut nyawa bangsa ayam yang tak berdosa dengan virus ciptaan mereka.

Bangsat !

Seperti biasa, tidak ada harum aroma kopi panas yang menggelitik hidungku. Hanya sebungkus kopi bubuk dan dispenser pinjaman yang selalu menyediakan air panas dengan setia, menanti untuk dipersatukan dalam gelas kaca.

Seperti biasa pula, aku akan duduk di depan kamarku, mengangkat kakiku ke atas kursi sambil menikmati secangkir kopi nikmat buatan sendiri.

Kali ini tidak.

Baru saja kopi itu bersetubuh dengan air panas ketika seraut wajah tak bermuka mengintip dari balik pintu sembari berkata

“LAN ?”

Aku hanya tertawa kecil.

“Tidak”. Jawabku sambil mengunci pintu kamarku. Pikirku “ada baiknya aku menikmati kopi di kamar teman sebagai pengganti suasana”.

Dengan kemalasan yang masih menggeliat aku menaiki tangga. Sesosok raga sedang duduk di bawahnya. Ia memandangku dan berkata

“LAN?”

Aku hanya tersenyum.

“Tidak”. Jawabku sambil terus menapaki anak tangga satu demi satu. Pikirku “daripada mengganggu teman yang masih tidur, ada baiknya aku duduk di balkon sambil menikmati kopi”.

Dengan kemalasan yang mulai mengendap aku duduk di balkon. Menghisap sebatang rokok sambil meneguk kopi. Sosok itu berdiri membelakangiku di tengah taman yang terletak tepat di bawah balkon. Perlahan ia berpaling memandangku dan berkata

“LAN?”

Aku mengernyitkan keningku.

“Tidak”. Jawabku sambil berdiri dan kembali ke kamarku. Pikirku “ada baiknya aku jalan-jalan saja untuk menghilangkan rasa bosan”.

Kutinggalkan kopi itu di depan kamarku dan berjalan keluar rumah. Di depan pintu pagar wajah itu berdiri menunduk. Ia mengangkat kepalanya dan memandangku sambil berkata

“LAN?”

Aku berhenti di depannya, menarik nafas panjang dan menjawab dengan kesal.

“Tidak”

Aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju jalan raya. Di sebuah warung terlihat beberapa orang sedang bercakap-cakap. Muka itu ada di antara mereka. Dengan mata yang liar ia memandangku sambil berkata

“LAN?”

Aku mendengus.

Dengan marah kudekati dia. Aku sudah tidak tahan lagi.

“TIDAK!” teriakku sambil berlari menuju jalan raya.

Aku terengah-engah. Napasku memburu. Mungkin kurang olahraga atau mungkin karena amarah yang meledak-ledak.

Sebuah sosok tiba-tiba mengagetkanku dari belakang. Aku berpaling. Wajah itu tepat di depanku. Ia tertawa dan berkata

“LAN?”

“TIDAK!!!” Aku berteriak sambil melompat ke tengah jalan raya. Sebuah mobil sedan hampir saja menabrakku. Pengemudinya melongok keluar dari jendela mobil dan berteriak

“LAN?”

Aku melongo. Mulutku ternganga.

“Bajingan!” umpatku..

Kupandang wajah pengemudi itu dengan tatapan ganas.

“TIDAAAK!!” teriakku.

Sekuat tenaga aku berlari di sepanjang jalan raya. Klakson-klakson mobil memekakkan telingaku dengan teriakan mereka

“LAN?”

“LAN?”

“LAN?”

“TIDAAAAAK!!!” aku terus berlari sambil menutup kedua telingaku.

Aku memasuki sebuah gedung olahraga. Berhenti dengan napas yang hampir putus. Dengan lunglai aku duduk bersandar di dinding gedung. Perlahan gedung itu memalingkan wajahnya memandangku dan berkata

“LAN?”

Aku terkejut setengah mati.

“TIDAAAAAK !!!” teriakku sambil melompat dan kembali berlari ke jalan raya.

Awan hitam menutupi langit. Petir menyambar dengan kilatan yang menyilaukan mata diikuti oleh gemuruh suara guntur yang berteriak

“LAN?”

Aku berhenti.

“Biadab!” pikirku. Kupandang langit itu beserta awan-awan yang menutupinya. Sekuat tenaga aku berteriak

“TIDAAAAAAAAAAAAAK!!!!!!”

Awan-awan itu bergerak ditiup angin. Langit kembali cerah. Dari langit secercah cahaya terang menyoroti tubuhku.

Aku lelah.

Aku sangat lelah.

Di pinggir jalan raya aku tergolek tak berdaya. Cahaya dari langit itu masih menyoroti tubuhku. Dari langit terdengar sebuah suara yang lembut berkata

“LAN?”

Aku tertawa putus asa. Aku tak percaya dengan semua ini.

Laknat !

Perlahan aku bangkit dan berdiri di atas kakiku. Kuatur irama napasku. Kupandangi langit itu. Dengan semua tenaga yang tersisa aku berteriak

“TIDAAAAAAAAAAAAK!!!!!! PROF. WITHO BANGSAT ABADI TELAH MERUSAK KOMPUTERKU!!!!!”

Aku terjatuh dan tergeletak di pinggir jalan, tak berdaya, tapi masih sadar. Tak ada lagi petir dan guntur. Cahaya itu kembali ditelan langit dan suara klakson mobil kembali terdengar. Gedung olahraga itu kini membisu. Orang-orang yang lewat memandangku dengan heran sambil terus berlalu.

Badanku didera rasa lelah yang teramat sangat.

Aku tertawa.

“Sebaiknya aku minum obat dan tidur”.
Share: