Gagalnya Sebuah Syuting


GAGALNYA SEBUAH SYUTING

Narrator: “SORE ITU BEGITU CERAH, MATAHARI BERSANTAI, BURUNG BERMAIN SEPAK BOLA NAN SENANG, DI PINGGIR JALAN AWAN-AWAN BERENANG DENGAN RIANG, TAMAN DIPENUHI HANTU-HANTU YANG SEDANG TIDUR LELAP DAN PENYIHIR YANG BERMAIN CATUR”

Istana ini masih seperti dulu. Catnya yang putih masih saja putih, seperti waktu aku pertama membangunnya seribu tahun yang lalu, demikian pikir Ephenk.

Ephenk berada dalam kamar kerajaan yang mewah. Seluruh dindingnya dilapisi dengan busa yang tebal. Tak ada jendela di situ. Hanya ada sebuah pintu dengan kaca kecil tempat dia melihat ke luar.

Dia memang jarang keluar. Pengurus istana tidak mengijinkannya, karena masalah keamanan. Mereka sangat mempedulikan keselamatannya sebagai prioritas utama.

Ephenk setuju.

Sebagai seorang raja, dia harus menjaga keselamatan dirinya agar bisa terus memerintah.

Salah seorang pelayan berpakaian putih masuk ke kamarnya. Mereka memang selalu melayani dengan penuh dedikasi, selalu tepat waktu. Di tangannya tampak cawan kerajaan berisi pil keabadian, ramuan ajaib yang membuat Ephenk hidup selama-lamanya.

Perawat: “Sore Ephenk. Saatnya minum obat kan? Sedang apa dari tadi?”

Ephenk menatap wajah pelayan itu dengan kebesarannya sebagai seorang raja. Tampak baginya bahwa pelayan itu sangat mengagungkan dia.

Ephenk: (berwibawa) “Seorang raja punya banyak hal yang harus direnungkan. Kau hanyalah seorang budak dan tidak pantas mengetahui hal sesakral ini”

Pelayan itu tersenyum, kemudian menyuap pil keabadian ke mulut Ephenk. Tiba-tiba Ephenk memegang tangannya sekuat tenaga, ia terkejut.

Perawat: (mencoba melepaskan pegangannya) “Ephenk! Lepaskan tanganku! Atau kau ingin kusuntik?”

Ephenk tidak peduli dengan perkataan pelayan itu dan terus memegang tangannya makin erat. Pelayan malang itu kembali mengancam Ephenk untuk melepaskannya namun Ephenk malah semakin keras mencengkeram tangannya.

Ia meronta.

Ephenk terpaksa berdiri dan mencengkeram tubuh pelayan itu. Gadis malang itu meronta dan mencoba melompat-lompat menghempaskan tubuhnya dari dekapan Ephenk sambil berteriak-teriak.

Perawat: “SATPAM! SATPAM! TOLONG!!!!”

Hanya dalam sekejap, dua orang pengawal kerajaan segera masuk ke kamar Ephenk. Keduanya siap dengan tongkat di tangan masing-masing dan langsung memasang kuda-kuda bertempur.

Satpam: “Ephenk! Lepaskan dia! Kalau tidak kami akan memukulmu!”

Ephenk: “Kalian kan pengawal kerajaan! Kalian harus patuh pada perintahku!”

Salah seorang satpam segera menusuk Ephenk dengan tongkatnya, telak, tepat di pinggang. Sakitnya bukan main.

Ephenk meraung sambil memegangi pinggangnya. Sang pelayan yang terlepas dari dekapannya segera berlari keluar secepatnya. Dengan kompak kedua pengawal kerajaan itu bergantian memukul Ephenk dengan tongkat mereka.

Satpam: (sambil memukul sekuat tenaga) “Sudah mulai Keterlaluan kau ya? Sudah berani melawan perawat. Rasakan ini biar kau kapok!” (memukul lagi sekuat tenaga)

Ephenk berteriak dan melolong dengan rasa sakit yang teramat sangat menusuk sampai ke otaknya. Giginya bergemeretak. Hatinya dipenuhi dendam.

Ini adalah pengkhianatan.

Dia adalah seorang raja. Bagaimana mungkin pengawal kerajaan berani memukul seorang raja?

Tiba-tiba Ephenk melihat sebilah golok pembunuh sapi terhampar di atas ranjang. Dengan menahan rasa sakit, ia meraih golok itu dan mengayunkannya ke arah dua orang pengawal itu.

Sound Effect: “Sriiing!!!”

CROOTTTT!!!!

Darah berhamburan, dua kepala jatuh menggelinding. Tubuh kedua pengawal itu terkejut bukan main. Mereka gemetaran, kemudian secepat kilat berlari keluar dari kamar meninggalkan kepala mereka.

(SEMUA EFEK KEKERASAN YANG ANDA LIHAT DI SINI HANYA MERUPAKAN TIPUAN KAMERA BELAKA)

Baju putih Ephenk berubah menjadi merah seluruhnya. Amarah membara di dadanya. Dilihatnya lagi dua kepala di lantai kamarnya. Ternyata mereka bukan pengawal istana, melainkan satpam penjaga gedung.

Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dengan golok di tangannya meneteskan darah segar, membentuk titik-titik di lantai yang terlewati. Dilayangkanya pandangannya ke segala sudut ruangan.

Ini bukan istana.

Ini bukan kerajaan.

Dokter-dokter dan perawat-perawat berlari ketakutan sambil berteriak histeris. Dengan buas Ephenk mengejar mereka satu per satu dan mengayunkan golok di tangannya ke sana ke mari.

Sound Effect: “Sriiingg...Sriiiiinggg....Sriiiinggg....”

CROT!!!!! CROOOTTT!!!! CROOOTTTT!!!

Kepala-kepala bergelimpangan dan bergelindingan di lantai yang dipenuhi genangan darah dan tubuh-tubuh yang terkapar.
Beberapa orang satpam datang mendekat mencoba menangkapnya. Ephenk mengayunkan golok di tangannya ke segala arah.

Sound Effect: “Sriiing!!!”

CROOTTT!!!!

Tubuh-tubuh berjatuhan dan bergelimpangan di sekelilingnya. Kepala-kepala menggelinding dan hanyut terbawa darah yang mengalir. Ia meneruskan langkahnya menuju pintu keluar.

Tiba-tiba dari belakangnya terdengar seseorang berseru.

Pasien: (jari telunjuk mengacung pada Ephenk) “Hei, Kau!”

Ephenk berbalik dan melihat seorang ksatria berpakaian tempur berdiri dengan gagah di hadapannya. Di tangannya terpegang sebuah tombak dengan golok besar berukirkan naga di ujungnya.

Pasien: “Aku, Bangka Hijau, menantangmu untuk bertarung di luar”

Narrator : “EPHENK MENERIMA TANTANGAN BANGKA HIJAU. KEDUA KSATRIA ITU BERHADAPAN DI DEPAN RUMAH SAKIT”

Ephenk tetap berdiri lurus memandang Bangka Hijau. Golok di tangannya dipegang erat-erat.

Bangka Hijau memasang kuda-kuda tempur. Dari posisinya, Ephenk tahu kalau dia akan menggunakan jurus Langkah Pencuri dari perguruan Phan Chu Rie. Jurus ini sangat langka karena hanya sedikit orang yang bisa menguasainya.

Segera, dengan kecepatan bak menyibak angin Bangka Hijau merengsek maju, tombaknya menghujam ke arah leher. Ephenk menggeser kaki kirinya, memiringkan badannya.

Sound Effect: “Sheeeettt”

Hujaman tombaknya lewat di atas bahu Ephenk.

Melihat posisi lawan terbuka, Ephenk mengayunkan goloknya ke arah ketiak Bangka Hijau. Melihat serangan Ephenk, Bangka Hijau menghentakkan tangan kanannya, menghujamkan tombaknya ke tanah dan melompat dengan bertumpu pada tongkat itu.

Sound Effect: “Cleepp!! Shhhhzzzzz”

Serangan Ephenk membelah angin.

Mereka kembali berhadapan dengan mata waspada. Bangka Hijau menancapkan tombaknya ke tanah, merapatkan telapak tangannya, merapal ilmu tenaga dalam.

Sound Effect: “Nggggggggg”

Ephenk tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia memungut senjata AK-45 yang tergolek di tanah dan segera menghamburkan beratus-ratus peluru ke arah Bangka Hijau.

Sound Effect: “Ratatatatatatatatatatatatatatat.....”

Ketika Ephenk berhenti menembak, yang tersisa dari Bangka Hijau hanyalah serpihan daging dan cabikan pakaian dalam genangan darah yang mengental.

Melihat kejadian brutal tersebut, Penata Laga protes.

Penata Laga: “Hei! Kenapa kau membunuhnya dengan senjata mesin? Harusnya kau menggunakan jurus Golok Mata Sapi. Ini film Kung Fu, bukang film Perang!”

Ephenk mendekati Penata Laga dan mengayunkan Golok di tangannya.

Sound effect: “Sriiiing”

CROTT!!!

Kepala Penata Laga menggelinding di tanah, meninggalkan tubuhnya sendiri dalam kesepian tak berujung.

Melihat Ephenk membunuh Penata Laga, Sutradara berdiri dari kursinya, mendekati Ephenk dengan wajah marah. Ephenk tak memberi kesempatan. Begitu Sutradara mengarahkan jari telunjuknya ke wajahnya, ia mengayunkan peda di tangannya.

Sound Effect: “Sriiiiiing”

CROOOTT!!!

Tangan Sutradara putus, jatuh menggelepar di lantai. Darah muncrat dari lengannya yang buntung.

Ephenk mengayunkan lagi peda di tangannya.

Sound Effect: “Sriiiiing”

CROOTTTT!!!

Kepala Sutradara menggelinding di lantai. Darah muncrat dari lehernya. Tubuhnya mengejang, kemudian jatuh tak berdaya di lantai.

Melihat kejadian itu, Penata Lampu, Sound Effect, Kameraman, Penata Kostum, Stuntman, Groupies, dan semua kru lainnya segera bergegas melarikan diri.

Ephenk tidak bodoh. Tak akan dia biarkan mereka lolos semudah itu. Ia mengunci satu-satunya pintu keluar studio dan di sana ia berdiri, menghalangi mereka dengan golok di tangannya.

Ia mengayunkan golok itu.

Sound Effect: “...................”

Special effect: “..................”

Aneh, tidak lagi terdengar desingan bunyi golok yang diayunkan, begitu juga tidak ada darah yang menyemprot. Yang lebih aneh lagi, tidak ada kepala yang menggelinding.

Ephenk heran.

Narrator: “EPHENK LARUT DALAM KEBINGUNGAN. SETELAH IA MEMBUNUH SEMUA ORANG DALAM STUDIO, KINI TINGGALLAH IA SENDIRI DALAM SEPI”

Ephenk terkejut mendengar suara itu. Ia memalingkan wajahnya. Ternyata itu adalah suara Narrator. Secepat kilat tangannya meraih kembali golok itu dan mengayunkannya pada sang Narrator.

Ephenk: “Sriiiingg”

CROTTT!!!!

Setelah para kru tewas, mau tak mau Ephenk harus mengoperasikan sendiri segala spesial efek yang ada. Mulai dari suara desingan golok, darah yang menyemprot, kepala menggelinding, dan segala spesial efek lainnya.

Darah muncrat dari leher sang narator. Kepalanya menggelinding di lantai yang penuh genangan darah.

Ephenk memandang sekeliling. Tak ada lagi yang hidup. Ia bergegas menaiki pesawat jet di sampingnya dan terbang menuju sebuah tempat dimana dia akan mengakhiri semua ini.

Ia mendarat di atas sebuah rumah yang sangat besar, kemudian menuruni tangga menuju ruang pribadi Penulis.

Penulis sedang berkonsentrasi mengetik di komputernya sehingga tidak menyadari kedatangan Ephenk. Ephenk melangkahkan kaki perlahan mendekatinya, tanpa bunyi.

Segera diayunkannya golok di tangannya.

Diadaptasi dari naskah teater
Gagalnya Sebuah Pementasan
Karya Freddy. S
(Penulis Cerita Porno)

N.B: Ephenk adalah seorang aktor yang memerankan karakter dalam cerita-cerita terdahulu Penulis. Ia dipecat Penulis karena sering bertindak di luar alur cerita yang sudah ditetapkan Penulis.
Share: