Surat Untuk Joan : Sebuah Cerita Dari Seorang Lelaki Narsis


Pasar malam itu dipenuhi lampu-lampu yang menerangi malam dan musik yang memecah keheningan. Betapa pun cahaya itu berpendar, wajahmu tetap ditelan gelap. Sungguh, bukanlah merupakan sebuah pujian ilahi bila kukatakan bahwa engkau sungguh jelek. Bukan juga merupakan suatu kenarsisan bila aku merasa bahwa engkau memanfaatkan ketampananku untuk pamer kepada teman-temanmu. Awalnya aku tak peduli memang. Kejelekan itu akan hilang ditelan gelapnya malam.

Aku menginginkan tubuhmu.

Bisa saja dikatakan bahwa aku adalah seorang lelaki biadab. Tapi bukankah semua lelaki memang seperti itu? Adalah sebuah dosa bila seorang lelaki mencampakkan takdir yang diberikan Tuhan bagi kaumnya.

Ketika tiba waktunya seorang gadis pura-pura menubrukku dalam gelap dengan alasan mabuk, aku tak pernah tahu kalau dia adalah saudaramu. Dia cantik, sangat cantik. Langit dan bumi pun tak cukup membandingkan perbedaan antara kau dan dia. Entah dosa atau kutukan hingga perbedaan itu sangat mencolok dalam pertalian darah yang teramat dekat.

Aku menginginkan tubuhnya.

Maka engkau demi melihat pandanganku terhadap saudaramu, kau menebar kelicikan. Kau rekatkan dirimu di rengkuhan lenganku dan kau proklamasikan diriku sebagai kekasihmu.

Semua kawanmu bahagia.

Mungkin mereka bahagia karena kau telah menemukan keajaiban di dunia ini.

Percayalah, kau takkan pernah.

Ada sesuatu yang aku tahu. Saudaramu memandangmu dengan perasaan iri. Aku tahu apa yang ada dalam pikirannya.

Dia cantik dan kau jelek.

Mengapa bukan dia yang saat ini berdampingan dengan seorang lelaki tampan yang mempesona. Mengapa saat ini justru dia dikelilingi oleh sekelompok lelaki pecundang yang membosankan dan tidak menarik.

Dia menginginkan aku.

Teguk demi teguk kau rengkuh alkohol itu ke dalam pikiranmu. Kesadaranmu semakin menjauh dan kau pun terkapar tak berdaya.

Aku tidak butuh seorang setan untuk berbisik kepadaku. Aku adalah seorang manusia bebas. Bebas menentukan apa yang akan kulakukan.

Aku memutuskan untuk menikmati tubuhmu.

Maka kubawa kau ke tengah sawah di mana tak ada cahaya selain bulan yang menunjukkan wajahnya. Di situ pun bunyi musik masih terdengar menghentak dari pasar malam.

Di pematang sawah itu, di atas timbunan tanah berumput tebal, kureguk kenikmatan dari tubuhmu.

Tak ada penolakan.

Yang ada hanyalah kepasrahan dan harapan untuk dicintai.

Pasar malam itu masih saja terang dan gaduh. Saudaramu masih saja bersama para lelaki pecundang itu. Tak lama berselang, ia melangkah pulang, meninggalkan mereka.

Demi malam yang semakin larut, engkau pun melangkah pulang. Aku ikut, dalam keterpaksaan yang kau tancapkan. Berbagai alasan kupaparkan demi melepas belenggu diri. Kau tetap memaksa, dengan kemarahan seorang wanita yang ingin bermanja dengan kekasihnya.

Ketika kulangkahkan kaki ke dalam rumahmu, ada rasa enggan dan khawatir. Aku tidak jelas dengan rasa itu tapi semakin aku melangkah, semakin kuat desakan dari dalam diri.

Kupaksa diriku untuk duduk di ruang tamu sementara kau bergegas ke dapur menyiapkan sepasang mi instan. Aku semakin gelisah ketika ibumu dan dua orang adik laki-lakimu memandangku dengan tatapan aneh yang mencurigakan. Aku hendak menghibur diriku dengan pemikiran narsisku, menyatakan pada diriku bahwa mereka sedang mengagumi ketampananku.

Di kamarmu adikmu sedang mengganti bajunya. Pintu yang terbuka meniadakan penghalang sehingga pandanganku menembus ke arah tubuhnya. Entah tidak disengaja atau mungkin juga pura-pura tidak tahu dengan kehadiranku. Setelah itu ia kembali ke pasar malam setelah melempar senyum pahit kepadaku saat ia melewati ruang tamu. Di wajahnya terlihat gambaran ketidakrelaan yang tak kumengerti.

Aku baru sadar kalau semua orang di rumahmu kini telah menghilang. Aku bisa mendengar suara ibumu dari warung di sebelah rumah. Kau memaksaku untuk duduk di kamarmu sambil menunggu mie instan yang sedang dimasak.

Ini tidak benar. Aku bisa merasakan sesuatu yang ganjil.

Kukeluarkan HP-ku dan menulis SMS kepada temanku yang tinggal di di kompleks yang berdekatan dengan rumahmu.

“Qt da d joan p rmh napa dia so kurung d kmr p qt. Qt so tako. Tolong kua dtng kmri skrng. PLEASE! QT SERIUS INI!”

Bersamaan dengan selesainya kegiatan memasakmu, temanku datang. Kau tampak terganggu, seolah ada skenario besar yang gagal di tengah pementasan. Maka dengan dibantu oleh temanku, aku menghabiskan mie instan buatanmu.

Temanku mengatakan bahwa kami berdua akan segera pamit tapi kau memaksa diriku untuk menginap di rumahmu. Temanku tahu ada sesuatu yang tidak beres dan mengarang berbagai alasan, bahkan terkesan memaksa aku untuk pulang malam itu.

Kau tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Kau melepas kepulanganku dengan janji untuk bertemu lagi yang tak kujawab tapi kau terus memaksa sehingga aku harus berkata ya.

Tapi itu hanya di bibir.

Sesungguhnya aku tak sudi lagi untuk bertemu denganmu karena apa yang kuinginkan telah kudapatkan. Seandainya kau lebih cantik aku pasti kembali untuk menemuimu.

Mungkin saja aku kembali ke rumahmu, tapi yang pasti itu bukan untuk menemuimu. Jika saja adikmu menjadi kekasihku, pasti aku akan kembali ke rumahmu dan dengan penuh kerelaan aku akan menginap di rumahmu, dengannya, bukan denganmu.

Aku sadar kalau apa yang kukatakan pasti terasa sangat kejam bagimu tapi sungguh aku merasa sangat benci dan jijik terhadapmu karena malam itu setelah pulang dari rumahmu, temanku menjelaskan padaku mengenai kebiasaan di kompleksmu.

Ya. Aku tahu bahwa malam itu engkau berniat untuk membuatku tertangkap basah di rumahmu dan memaksaku untuk menikah denganmu dengan hukum adat. Aku tahu itu benar karena aku juga bertemu dengan adikmu. Ia menceritakan padaku mengenai rencanamu itu, setelahnya ia tidur denganku.

Sayangnya ia tak mau menjadi kekasihku karena terlalu haus dengan kebebasan pergaulan, yang justru membuat aku semakin menginginkan dirinya. Padahal, aku mau saja tertangkap basah bersama adikmu itu.

Maka janganlah kau mengharap apa pun dari diriku karena aku tak sudi lagi menemuimu, bahkan aku tak sudi lagi untuk mengingatmu. Aku juga bukan seorang lelaki baik-baik yang bertanggung jawab atas perbuatanku. Aku hanyalah seorang lelaki biadab yang memanfaatkan harapan dan kebodohanmu dan menjeratmu dengan ketampananku.

Aku tahu pasti kau sangat membenciku.

Itu bagus. Berarti kita saling membenci. Karena itu marilah kita berdua saling melupakan satu sama lain dan anggaplah segala yang pernah terjadi di antara kita hanyalah sebuah khayalan yang tidak pernah nyata.....

Dari kumpulan surat yang tak pernah terkirim
Share: