Penggalan Kisah Yang Belum Berakhir I


Akhirnya aku sampai juga di Fakultas. Peluh membasahi kemeja kotak-kotak yang kupakai. Rambutku yang tadinya kusisir rapi kini telah berhamburan. Aku memang setengah berlari dari kost menuju Fakultas.

Ketika melewati ruangan Kelompok Pecinta Alam, kusempatkan melirik jam dinding di situ. Jam delapan kurang lima belas menit. Bayangan wajah marah pak Alexis yang akan mengusirku melintas dalam benakku. Dengan jantung berdegup kudekati ruang kuliah pak Alexis. Telingaku tidak menangkap suara apa pun dari ruangan itu selain suara pak Alexis yang sedang mengabsen mahasiswa.

Mati aku! Pikirku. Kulangkahkan kakiku dengan perlahan memasuki ruangan. Puluhan mata bergerak bersamaan memandangku dengan jutaan rasa kasihan. Kuberanikan diri memberi salam.

“Selamat pagi pak”.

Aku melambatkan langkahku dengan ragu. Pak Alexis berhenti mengabsen dan berpaling ke arahku.

Deg ! habislah aku. Seperti yang sudah kuduga. Ekspresi wajah itulah yang kutakutkan pagi ini. Tidak semenit kemudian aku sudah melangkah tanpa semangat menuju kantin. Sia-sialah sudah usaha dan perjuanganku tadi pagi. Pertempuran habis-habisan melawan bantal dan selimut yang akhirnya kumenangkan dengan susah payah kini tak lagi berarti.

Kubanting pantatku di bangku kantin yang keras. Ratusan virus berkecamuk dalam otakku menciptakan sebuah pertanyaan.

Begitu sulitkah untuk kuliah pagi ?

Tujuh tahun lalu mungkin ini bukan hal yang luar biasa. Waktu itu aku masih mahasiswa baru di Fakultas ini dan kebiasaan bangun pagi bukanlah hal yang sulit. Jam sembilan malam aku sudah tidur sehingga jam setengah enam pun aku sudah bisa bangun.

Sekarang, entah kutukan apa yang telah menimpa diriku. Tidur bagiku merupakan sebuah hasrat yang tak kunjung terpuaskan. Matahari pagi telah menjadi sebuah keajaiban bagiku. Dan pagi ini, dengan usaha, perjuangan dan kerja keras, aku berhasil menciptakan keajaiban itu. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun ini aku bertemu dengan matahari pagi! Sayang, semua itu akhirnya sia-sia.

Lamunanku terpecah ketika lima orang gadis duduk di meja di depanku. Mereka bercakap-cakap dengan riang sambil tertawa. Tak satupun dari mereka yang kukenal. Aku menduga kalau mereka adalah mahasiswi semester satu. Tentu saja aku tak mengenal mahasiswa baru yang masuk setiap tahun karena aku tak pernah terlibat dalam kegiatan Bismaba. Aku tidak tertarik untuk melibatkan diri karena menurutku kegiatan tersebut hanya jadi ajang persaingan dan tebar pesona mahasiswa senior. Bismaba tak lebih dari sebuah kompetisi mendapatkan kekasih.

Kugilirkan pandangku pada mereka satu per satu. Tatapanku terhenti ketika mataku menangkap sebuah sosok di antara mereka.

Aku terpana.

Gadis di depanku ini begitu luar biasa. Matanya memancarkan cahaya yang berbinar dan berpendar, yang bahkan telah mengaburkan segala kekusutan dalam otakku. Dengan bebasnya dia tertawa seakan begitu menikmati kehidupan yang dimilikinya. Pandanganku seolah menembus jiwanya dan di situ kulihat seorang gadis yang tegar dan berani yang bisa menghidupkan jiwa-jiwa yang mati. Ya. Jiwa yang mati seperti jiwaku. Tiba-tiba aku sadar bahwa dia tahu aku memandangnya namun mataku tetap saja tak mau berpaling dari dirinya.

Seorang laki-laki datang menghampiri mereka. Aku kenal dia. Namanya lengkapnya Radja Seho, pengurus Senat Mahasiswa Fakultas yang setiap kali kulihat selalu dalam keadaan mabuk. Saking seringnya aku melihatnya mabuk, aku sempat berpikir kalau bukan alkohol yang membuatnya mabuk tetapi memang sudah bawaannya sejak lahir. Aku menduga bahwa seluruh garis keturunan dari nenek moyangnya adalah pemabuk. Bapaknya adalah seorang pemabuk berat dan ibunya sedang mabuk saat melahirkannya sehingga ia sudah mabuk sejak dilahirkan dan keluarganya memiliki kelebihan yaitu air liur mereka yang mengandung alkohol. Atau mungkin juga sejak dari nenek moyangnya, seluruh anggota keluarganya lahir dan tinggal di pohon Seho sehingga mereka berdarah Seho. Mereka tidak bisa menjadi donor darah karena dalam nadi mereka mengalir saguer murni. Terkadang aku ingin mengutuk pohon-pohon Seho itu seandainya saja tidak ada begitu banyak orang yang menggantungkan hidupnya dan membiayai sekolah anak-anaknya dari hasil pohon-pohon itu.

Kini aku sadar bahwa dugaanku ternyata hanya sekedar dugaan karena kali ini Radja tidak mabuk. Adakah sesuatu di dunia ini yang bisa membuat otaknya kehilangan kandungan alkohol? Aku merasa aneh melihatnya. Rasanya seperti melihat orang lain karena Radja yang kukenal adalah Radja yang selalu mabuk di setiap saat dan tempat sehingga aku muak melihatnya.

Radja duduk di samping gadis itu.

Situasi yang tadinya meriah kini jadi membisu. Tak ada di antara gadis-gadis itu yang bicara. Seorang di antara mereka menyibukkan diri dengan tombol-tombol di HPnya, seorang lagi mengeluarkan sebuah buku dan membacanya walaupun menurutku ia pasti sudah berkali-kali membaca buku itu. Dua orang lagi sibuk mengaduk minuman yang mereka pesan. Aku menangkap sebuah situasi yang ganjil. Tampaknya kehadiran Radja terasa mengganggu bagi mereka.

Gadis itu terlihat gelisah. Tidak nyaman dengan adanya Radja di sampingnya. Radja yang sadar akan situasi tersebut berusaha mencairkan suasana dengan mengajak gadis itu bicara. Aku tak lagi memandang mereka tapi bagaimanapun juga pembicaraan mereka tetap sampai ke telingaku. Dari pembicaraan mereka aku tahu kalau Radja dan gadis itu berpacaran. Rupanya Bismaba tahun ini cukup membawa berkah bagi Radja. Aku tidak menaruh perhatian lebih lama lagi terhadap pembicaraan mereka karena Ebes datang dan mulai bicara tentang dua hal yang selama tujuh tahun ini selalu dia bicarakan. Yang pertama mengenai motor dan yang kedua mengenai pacar-pacarnya yang paling dia sayangi namun tidak pernah mengerti tentang dirinya. Ebes adalah teman seangkatanku dan dia menjadi maskot pada waktu Bismaba karena bentuknya yang imut-imut, pendek dan gemuk. Dari pengalamanku selama tujuh tahun bersahabat dengannya, aku tahu bahwa ia akan berceloteh mengenai dua hal itu selama berjam-jam dan sebagai pendengar yang baik, aku akan mendapatkan segelas kopi hangat sebagai imbalan.

Tiga jam berlalu.

Ebes masih bersemangat dengan ceritanya yang sudah puluhan kali kudengar. Kulirik arloji di tangannya, jam sebelas lewat tiga menit. Radja dan gadis-gadis itu sudah pergi sejak dua jam yang lalu.

“Aku masuk kuliah dulu”. Aku menyela pembicaraannya sambil berdiri. Tatapan mata Ebes menyiratkan ketidakpuasan. Aku tidak mempedulikannya karena aku tahu sifatnya. Ia tidak akan marah dan pasti akan mencari teman yang lain untuk dijadikan pendengar ceritanya.

“Mata kuliah jurusan. Ini ketiga kalinya ku kontrak”. Aku mengatakan hal ini untuk mengurangi ketidakpuasannya.

“Oi”. Sebe menjawab pendek sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. Aku tersenyum dan segera beranjak menuju ruang kuliah jurusan.

Aku masuk ke ruang kuliah jurusan bersama dengan mahasiswa semester I. Wajah-wajah mereka begitu bersemangat dengan kehidupan barunya sebagai mahasiswa. Langkahku terhenti ketika mataku berpapasan dengan sepasang mata yang bercahaya.

Gadis itu.

Dia terkejut ketika melihatku. Mungkin ia juga tak menyangka kalau kami berada di kelas yang sama. Sekilas ia melempar sebuah senyum kikuk dan secepatnya menuju ke tempat duduk. Aku hanya terdiam. Entah darimana asalnya, sebuah semangat besar merasuki diriku. Dengan bibir tersenyum aku duduk di bangku terdepan penuh rasa tidak sabar untuk segera mengikuti kuliah.
Share: