Penggalan Kisah Yang Belum Berakhir 3


Bis kota itu setengah penuh. Deretan-deretan kursi berbaris seperti laskar-laskar yang siap mati di medan pertempuran. Dibaris kelima dari belakang aku duduk di sisi jendela di sebelah kiri bis.

Tatapanku kosong menatap ke luar jendela bis. Anganku melayang. Jauh, entah di angkasa mana di antara dimensi aku ingin keluar dari belenggu gravitasi. Guncangan bis yang melaju di jalan raya bagaikan pegas yang mendorong pikiranku untuk melompat semakin jauh dari kenyataan-kenyataan yang menyesakkan di dunia ini.

Perjalanan pulang masih 2 jam lagi.

Di depan halte yang jauh dari keangkuhan gedung penopang langit, bis berhenti. Wajah-wajah yang bertumpuk di halte itu berebut naik diiringi nyanyian kondektur meneriakkan nama-nama orang mati.

Aku tak peduli.

Pikiranku sudah terlalu jauh di ruang hampa udara hingga frekwensi suara tak mampu menembus.

Sesosok makhluk duduk di sebelahku. Aku tak ingin menggubris tapi sepenggal aroma dari tubuhnya menusuk hidungku dan menarikku dari ruang tak berbatas yang bahkan cahaya pun tak mampu menjangkau. Di kursi itu ia berusaha menyamankan tubuhnya.

Cantik, memang. Wajah yang polos tanpa polesan topeng kepalsuan tertutup gerai hitam rambutnya.

Aku memandangnya, dia memandangku. Sekejap aku tersihir dengan matanya yang berbinar dan berpendar, yang bahkan menghapus segala kehampaan dalam diriku.

Sekilas tampak lidahnya ingin berkata, tapi dia lalu tersenyum dan berpaling. Melekatkan pandangannya pada tas merah muda yang ada di pangkuannya.

Bis kembali bergoyang di lekukan jalan yang tak seindah lekukan di balik kaos ketat itu.

Lengannya yang tak selembut sutra bersentuhan dengan kulit kasarku. Ia tak bereaksi.

Diam.

Entah apa pikirnya.

Aku kembali menatap jendela. Pantulan partikel-partikel cahaya di kaca memvisualisasikan wajahnya yang memandangku dengan matanya yang kecil berbinar itu.

Aku sengaja tidak tahu.

Bibirnya bergerak seperti mengucapkan sesuatu dalam hening yang tak bersuara. Tak ada satu kata yang bisa kutangkap. Kami lalu diam. Dingin hembusan menembus jaket tebalku. Aku kembali ke dalam ruang hampa, tapi kali ini tidak jauh.

Bis ini telah menjadi ruang hampa yang menyesakkan dan kami terjebak di dalamnya. Tak ada suara yang dapat bertahan hidup di sini. Waktu berlalu cepat seolah-olah kami melewati warp dalam lorong waktu.

Kondektur kembali meneriakkan kata-kata khayalan. Gadis itu memandangku, sejenak saja. Ia beranjak dan menuju pintu bis yang terbuka dengan sendirinya seolah-olah ingin memuntahkan orang-orang yang bersesakan.

Lagi-lagi pandangannya melayang ke arahku. Ia tenggelam dalam gelombang wajah-wajah yang turun dari bis. Dari balik kaca jendela aku melihatnya.

Ia melihatku.

Kami diam.

Bibirnya seolah ingin memuntahkan kata-kata yang ingin meledak memecahkan keramaian deru mobil.

Bis mulai bergerak.

Tatapan wajahnya berubah, panik !!! Tidak sedetik kemudian ia meneriakkan sebuah nama. Aku terpana. Dalam hati aku tertawa.

Dia lalu tersenyum, senyum puas. Bahagia.

Aku tersenyum.

Dan bis mulai melaju.

Perjalanan pulang tidak lama lagi.
Share: