Penggalan Kisah Yang Belum Berakhir 2


Pagi itu aku terbangun dengan rasa gundah yang mengelana di hati. Di kisi-kisi jendela yang berterali besi hitam agak karatan menyeruak cahaya mentari yang kasar. Di luar sana tak ada yang berubah. Begitu juga dengan kamar ini dan begitu pula dengan diriku.

Hidup didera oleh rutinitas yang memuakkan bahkan bagi seorang anak SD kelas 5 seperti aku.

Saatnya pergi ke sekolah.

Aku diam saja. Duduk di tempat tidur dan tidak melakukan apa-apa. Aku hanya duduk, tanpa berpikir, hanya menikmati seolah diriku berada dalam rangkulan kebebasan yang hangat dan lembut, yang meninabobokan jiwaku dalam kemanjaan seorang anak. Sungguh, aku ingin terus seperti ini, jika sesungguhnya aku tak dikejar rutinitas.

Seandainya aku tak perlu pergi ke sekolah.

Rasa damai yang kuciptakan semakin sempurna ketika dari telingaku merasuk segumpal nada dan irama yang menghangat di hati. Sebuah alunan keindahan melayang di jendela kamarku. Aku membuka mata, dan sadar akan keindahan yang ditawarkan oleh seberkas lagu yang berasal dari tetanggaku.

Bohemian Rhapsody dari Queen.

Bahkan bagi seorang anak kecil seperti aku, lagu itu bisa menawarkan kelepasan dari belenggu rantai kehidupan yang diciptakan oleh para manusia dewasa.

Aku baru sadar, saatnya pergi ke sekolah.

Setelah ritual persiapan dan segala aksesoris sebagai syarat menjadi manusia berpendidikan kupenuhi, berangkatlah aku ke sekolah sambil menatap punggung ayahku di Vespa bututnya yang sudah tidak layak lagi melaju di tengah ramainya lalu lintas pagi kota Manado.

Di kepalaku terus berulang-ulang lirik lagu yang tadi pagi kudengar.

“Mama.... Mama.... Mama....”

Dan terus berulang tanpa henti dalam kepalaku hingga saatnya kakiku menjejakkan tapaknya di depan kelas. Seperti boneka yang tak punya jiwa aku melangkah masuk, hanya untuk mendapatkan penghinaan dari guru.

Untuk menjadi manusia berpendidikan, disiplin adalah keharusan. Datang ke sekolah sebelum bel berbunyi dan pulang setelah bel berbunyi. Segalanya ditentukan oleh bunyi bel yang bahkan tak enak untuk didengar. Bunyi bel menjadi sesuatu yang menakutkan namun pada saat yang lainnya menjadi bunyi yang ditunggu-tunggu.

Kuterima hukumanku bagai seorang budak yang menuruti perintah tuannya, berdiri di depan kelas sambil melihat beberapa murid lain menertawakanku.

Inilah yang kubenci dari sekolah. Aku harus bertemu dengan anak-anak lain yang selalu menertawaiku, mengataiku bodoh, dan selalu mempermainkan aku. Di tempat ini aku selalu direndahkan.

Menjadi seorang anak penurut dan selalu menghindar dari masalah justru menjerumuskan aku ke dalam masalah yang tak pernah habis. Aku selalu menjadi sasaran kejahilan dari anak-anak lain yang merasa dirinya hebat.

Aku selalu dikucilkan.

Bel tanda istirahat berbunyi ketika sang guru sadar bahwa aku masih berdiri di depan kelas. Merasa bersalah dan kasihan, namun ditutupi dengan wibawa yang dibuat-buat ia akhirnya menyuruhku duduk.

Hanya delapan langkah dari tempatku berdiri menuju tempat dudukku, namun tatapan hina dan tawa merendahkan yang mengiringi membuatnya terasa panjang dan tanpa akhir.

Aku hanya diam dan menyimpannya dalam hati.

Hari itu seperti biasanya kantin sangat ramai. Siswa-siswa antri untuk membeli makanan. Kurogoh kantongku mencari uang jajan hari ini.

Dua ratus rupiah. Pas untuk sepiring nasi kuning.

Penjual di kantin itu adalah seorang wanita separuh baya yang gemuk dengan dandanan yang menor. Di mataku ia seperti tokoh wanita jahat di film, yang menangkap anak-anak kecil dan mengurungnya di penjara bawah tanah kemudian menyiksa mereka untuk kesenangan.

Kusodorkan dua ratus rupiah di tanganku kepadanya. Aku duduk sambil menanti datangnya nasi kuning pesananku. Lama aku menanti sampai aku sadar bahwa anak di sebelahku sudah mendapatkan nasi kuning pesanannya. Padahal aku lebih dulu memesan dari dia.

Kutanyakan lagi pesananku kepada wanita itu.

“Pesanan?! Kau kan belum bayar. Mana uangmu?!”

Jawaban itu begitu ketus sehingga membuatku merasa ingin menangis.

“Tidak tahu malu!. Belum bayar sudah minta nasi kuning!!!.”

Kalimat susulan itu disertai oleh pandangan mata dari semua anak-anak di kantin yang tertuju ke arahku.

Air mata yang kutahan kini tak lagi bisa dibendung. Aku menunduk dan berbalik, berdiri di luar dinding kantin dan menangis.

Tidak cukupkah segala penghinaan yang harus selalu kuterima? Mungkin aku harus melawan tapi aku tak mampu. Aku hanyalah seorang anak yang lemah, yang hanya bisa menerima apa pun perlakuan terhadapku.

Seandainya aku tidak perlu ke sekolah. Seandainya aku bisa duduk di kamarku di pagi hari sambil mendengarkan lagu yang diputar oleh tetanggaku. Seandainya aku bisa melarutkan diri dalam kebebasan dalam anganku selamanya.

Seandainya aku tak perlu lagi meneteskan air mata.

Segala pengandaian itu pudar ketika sepotong suara merdu membawaku kembali ke alam sadar.

“Kenapa kamu menangis?”

Seorang anak perempuan dari sekolah sebelah berdiri di depanku dengan wajah iba. Wajahnya begitu manis, dengan rambut panjangnya yang diikat menjadi dua. Matanya memancarkan cahaya yang berbinar dan berpendar, yang bahkan menghapus semua kesedihan dalam hatiku.

Ada rasa damai.

Ada rasa aman.

Ada aroma kejujuran dan ketulusan dalam lembut bicaranya.

Dengan polos aku menceritakan padanya tentang sepiring nasi kuning yang tak kunjung datang. Dia tersenyum, kemudian merogoh kantongnya dan memberikan dua keping logam seratus rupiah kepadaku.

“Masa laki-laki menangis cuma karena itu. Kamu beda dengan yang lain, karena kamu istimewa.”

Sesudah itu ia pergi dan menghilang di antara ramainya siswa yang berlarian. Aku tak melupakan dua ikat rambutnya yang bergoyang saat ia berjalan menjauh.

Aku terus memandangi dua keping logam di tanganku sampai saatnya bel tanda masuk berbunyi. Kusimpan dua keping logam itu di kantong celanaku dan memegangnya dengan erat sambil berlari ke kelas.

Dua keping logam itu tak akan pernah kupakai untuk membeli nasi kuning sampai kapan pun.
Share: