Pembantu Pribadi


Hari ini seperti biasa aku tidur-tiduran di kasur di kamar kost sambil memperhatikan anakku Filagi main game di komputer. Saat gamenya loading, dia berdiri dari tempat duduknya dan langsung menerjangku.

"Jurus kepiting rebus!" teriaknya dan langsung menindih tubuhku.

"Ha ha ha . . . akhirnya Papa kalah!" tawanya girang karena aku tak melawan.

Tiba-tiba saja di otakku melintas sebuah ide untuk menipunya hingga membuatku tak bisa menahan senyum. Dengan posisi tubuh tetap ditindih aku mengajukan sebuah tawaran licik.

"Ayo bertarung. Kalau Papa menang, Aghi (nama panggilannya) harus menjadi pembantu pribadi Papa selama seminggu" rayuku.

Dia diam sejenak, tampaknya mempertimbangkan tawaran yang kuajukan.

"Kalau Papa kalah?" tanyanya.

"Papa tidak akan menggunakan komputer selama seminggu" jawabku. Tawaran ini tentu saja sangat menarik baginya. Jika dia menang, berarti dia tak akan digeser dari depan komputer saat main game.

"Setuju" katanya dan langsung memelintir tanganku ke belakang.

Bergulat dengan anak umur 4 tahun tentu saja tidak sulit. Aku bisa langsung membuatnya menyerah, tapi itu tak kulakukan. Malah aku mengulur-ulur pertarungan itu dengan berpura-pura terdesak, lalu balas menyerang. Saat dia terdesak dan hampir menyerah, aku pura-pura melemah sehingga dia tidak sadar kalau sengaja kulepaskan. Dengan demikian, pertarungan ini menjadi menarik dan menyenangkan baginya. Kami bergulat tanpa sadar bahwa kasur telah berantakan dan bantal berserakan di sana-sini.

Setelah bergulat cukup lama dan dia mulai kelelahan, kukerahkan jurus saktiku yang paling ditakutinya - Jurus Lem. Kutangkap dia dan kutempelkan di badanku. Mati-matian dia berusaha melepaskan diri namun badannya yang kecil itu tentu saja tak mampu melawan dekapanku.

Akhirnya dia menyerah kalah dan aku dapat pembantu pribadi selama seminggu he he he.

Besoknya, mulailah tugas pertamanya sebagai pembantu pribadi. Awalnya dia masih keberatan disuruh-suruh. Setelah kuingatkan bahwa dia telah kalah bertarung, maka dengan wajah orang kalah perang dia pun melakukan semua yang kusuruh (kejam nian).

“Filagi, beli rokok di warung”

“Filagi, bikin nutrisari”

“Filagi ambilkan minum”

Selama seminggu dia melakukan semua yang kusuruh. Walaupun sedang asik main game, kalau disuruh melakukan sesuatu, terpaksa dia berhenti dulu. Sungguh menyenangkan punya seorang pembantu pribadi, butuh apa pun tinggal suruh he he he . . .

Tak terasa seminggu berlalu dan tugasnya menjadi pembantu telah selesai. Saat dia sedang main game di komputer, kusuruh dia membeli rokok di warung.

“Tidak mau” jawabnya tanpa menoleh.

“Ah, masa disuruh beli rokok saja tidak mau” kataku membujuk.

“Aku kan bukan pembantu lagi. Tidak bisa disuruh”

Wah, anak ini sungguh teramat sangat tega sekali kepada ayahnya. Masa setelah lewat seminggu sudah tidak mau disuruh-suruh lagi. Terpaksalah aku sendiri yang beli rokok di warung. Baru saja mau melangkah keluar kamar, dia memanggilku.

“Papa, uangnya mana?” tanyanya.

Betapa senangnya aku mendengar itu. Akhirnya dia tidak tega melihat ayahnya yang dicintainya berjalan ke warung membeli rokok. Kuberikan uang untuk membeli rokok kepadanya. Dengan cepat ia mengambil uang itu dan berlari ke warung.

Tidak seperti biasanya, kali ini dia agak lama baru kembali dari warung. Betapa kagetnya aku ketika melihat dia kembali dengan es krim dan snack di tangannya.

“Eeh, rokok Papa mana? Kenapa malah beli es krim?” tanyaku heran.

“Papa kan tidak memberi uang buat beli rokok” jawabnya yang membuatku semakin heran. Jelas-jelas tadi aku memberinya uang untuk membeli rokok yang pasti sudah dipakainya membeli es krim.

“Lalu uang yang tadi?” tanyaku agak marah, karena dia berbohong.

“Itu uang gaji pembantu selama seminggu” katanya sambil tersenyum lebar.

Hilanglah marahku mendengar jawabannya.

“Waah curang, Aghi kan jadi pembantu karena kalah bertarung. Masa minta gaji?”

“Ih Papa. Perjanjiannya kan cuma jadi pembantu, aku kan tidak bilang kalau gratis. Dimana-mana yang namanya pembantu harus digaji” katanya langsung duduk lagi di depan komputer.

Kenapa ya . . . tiba-tiba aku merasa seperti baru saja ditipu oleh seseorang . . .
Share: