Golok Pembunuh Sapi Bagian 7


Golok Pembunuh Sapi Bagian 6

T-Obeng bertanya dengan rasa penasaran bercampur kaget. Si Buta Dari Goa Hantu adalah pendekar buta yang legendaris karena kesaktiannya. Sejak kecil T-Obeng sering membaca buku tentang pendekar ini dan menonton filmnya, baik versi layar lebar maupun versi sinetron.

“Ah, sekarang aku hanyalah seorang tukang pijit buta yang tidak dikenal” jawab Lukman.

Pertanyaan T-Obeng sedikitnya mengingatkan Lukman akan masa mudanya ketika ia berjaya sebagai Si Buta Dari Goa Hantu. Sayang sekali produksi filmnya harus dihentikan karena sinetron silat tidak mampu bersaing dengan sinetron hantu yang tiba-tiba menjamur di seluruh statiun TV. Dengan kecewa ia mengembara dan akhirnya tinggal di desa ini sebagai tabib sekaligus tukang pijit.

“Hahahaha ternyata benar kau adalah Si Buta Dari Goa Hantu” T-Obeng hampir tak percaya bahwa kakek buta di hadapannya adalah seorang pendekar legendaris yang menjadi idolanya sejak kecil. Dalam hatinya ia sangat gembira dan ingin meminta tanda tangan, namun perannya sebagai tokoh berwatak jahat dalam cerita ini membuat ia jaim alias jaga gengsi. Sungguh sayang memang, karena ia harus berhadapan dengan bintang film silat idolanya sebagai lawan tanding sehingga mau tak mau T-Obeng harus melupakan rasa kagumnya dan memandang kakek tua ini sebagai musuh yang harus dirobohkannya.

“Pendekar bodoh yang membutakan matanya sendiri karena kekasihnya dihamili Datuk Maringgih” ucapan ini mengandung nada ejekan. Ini memang sengaja dilakukan T-Obeng untuk memukul mental lawannya karena untuk adu tenaga, ia masih ragu kalau bisa mengalahkan pendekar tua ini. Sebagai penggemar sinetron Si Buta Dari Goa Hantu, tentu saja T-Obeng menonton seri pertama dari serial ini dan dia tahu alasan pendekar itu membutakan matanya sendiri karena kekasihnya diculik dan dihamili oleh musuhnya yang diperankan oleh Him Damsyik, yang populer dengan perannya sebagai Datuk Maringgih dalam film Siti Nurbaya.

Taktik T-Obeng ternyata berhasil. Walaupun tidak tampak lewat wajah Lukman, namun ucapan T-Obeng membuat pendekar tua itu teringat akan kisah cintanya yang gagal, yang membuat hatinya remuk redam. Satu-satunya hal yang menghibur hatinya adalah ketenaran sinetron Si Buta Dari Goa Hantu yang membuatnya jadi idola dan memiliki banyak penggemar. Setelah sinetron itu diberhentikan, ia mengembara tak tentu arah, kehilangan tujuan hidup. Tanpa disadarinya, kekecewaan hatinya membuat sifatnya berubah. Ia mulai menggoda gadis-gadis dan mengintip mereka mandi. Sebagai pendekar sakti yang buta, ia tak perlu mengintip dengan matanya, tapi hanya lewat suara saja ia sudah bisa menggambarkan keindahan tubuh gadis-gadis itu sehingga tak ada yang tahu kalau ia mengintip. Kebiasaan inilah yang tampaknya menurun kepada Witho yang selama ini tinggal bersamanya.

Melihat lawannya tak lagi memiliki semangat bertarung, T-Obeng tak mau melepaskan kesempatan berharga ini. Dengan cepat ia menerjang Lukman menggunakan jurus Infernal Saber of Ghost (Goyangan Hantu Ngebor). Jurus ini hanya terdiri dari 4 gerakan berputar sambil menusukkan golok yang sangat sederhana. Tapi justru karena terdiri dari gerakan tubuh yang sederhana dan mudah, maka jurus ini dapat dilakukan dengan kecepatan serangan yang luar biasa.

Menghadapi kecepatan T-Obeng yang kini mengurungnya dengan sinar merah bergulung-gulung, Lukman tak punya kesempatan untuk balas menyerang. Ia sibuk menghindari serangan-serangan golok itu dan sesekali terpaksa menangkis dengan tongkatnya. Kekuatan Chi T-Obeng tak bisa dianggap remeh walaupun mungkin masih di bawah Lukman. Dengan kekuatan Chi yang besar ditambah Golok Pembunuh Sapi di tangannya, perlahan ia mulai mendesak Lukman. Ini terlihat setiap kali tongkat Lukman bertemu dengan golok T-Obeng, Lukman terpental mundur sampai beberapa meter dan tangannya bergetar hebat sementara T-Obeng paling-paling hanya terdorong mundur beberapa langkah saja dan segera menerjang lagi.

Setelah 50 jurus akhirnya Lukman mulai merasakan pengaruh usia terhadap daya tarungnya. Kecepatannya menurun dan tangkisannya tak lagi bertenaga, membuatnya sering terpelanting bergulingan di tanah ketika senjata mereka beradu. Sampai pada batas daya tahannya, akhirnya dia tak mampu lagi membendung serangan-serangan T-Obeng. Dengan satu sabetan keras T-Obeng mematahkan tongkat Lukman. Ayunan Golok Pembunuh Sapi kini mengarah ke kepalanya. Lukman menjatuhkan diri ke tanah sambil menangkis dengan tangannya karena putus asa.

Detik-detik terakhir saat golok hampir menyentuh tangan Lukman, T-Obeng tiba-tiba menarik goloknya.

“Aku masih memperhitungkan kau sebagai tokoh idolaku saat kecil. Jika kau sudi memberi tanda tangan, maka aku akan mengampuni nyawamu”. Bagi seorang pendekar besar seperti Lukman, ini bukanlah sebuah tawaran melainkan ancaman yang merendahkan harga dirinya. Apakah yang tersisa dari pendekar tua yang tidak lagi berkecimpung di ajang persilatan? Jawabannya adalah nama baik!

Meskipun harus mengorbankan nyawanya, Lukman tidak akan pernah sudi menjadi seorang pengecut yang memohon pengampunan atas nyawanya.

“Cih, lebih baik aku mati daripada memberi tanda tangan pada seorang wanita iblis seperti kau”.

Betapa marahnya T-Obeng mendengar jawaban Lukman tersebut. Giginya bergemeretak.

“Kalau begitu matilah kau!” teriak T-Obeng sambil menghujamkan Golok Pembunuh Sapi ke dada Lukman.

Lukman memekik sesaat ketika cahaya merah itu menembus dadanya. Ia roboh dan tak bergerak lagi. Tewaslah tokoh Lukman yang diperankan oleh Dewa Sastra. Perannya dalam cerita ini selesai.

T-Obeng mencabut goloknya dan memandang Lukman yang telah tewas. Harga diri pendekar tua itu sungguh mengesalkan hatinya. Apalah susahnya memberi tanda tangan daripada harus mati? Sedemikian mahalkah tanda tangan dari seorang bintang sinetron silat seperti Lukman sehingga rela diganti dengan nyawa? T-Obeng tak dapat memahami kekerasan hati pendekar tua yang kini terbaring di hadapannya.

*


Setelah perannya dalam cerita Golok Pembunuh Sapi selesai, Dewa Sastra kembali ke Kerajaan Langit. Cepat-cepat ia memasuki ruang pribadi Sang Penulis Cerita dan menghaturkan hormat.

“Ah, Dewa Sastra, kau telah kembali. Selamat datang di Kerajaan Langit” sambut Sang Penulis sambil tersenyum.

Dewa Sastra menunduk dan berkata “Mohon maaf atas kelancangan hamba Yang Mulia. Hamba datang untuk mengajukan protes atas tindakan Yang Mulia karena telah mengutuk saya menjadi tokoh Lukman dalam cerita Golok Pembunuh Sapi”.

Senyum di wajah Sang Penulis seketika itu juga lenyap setelah mendengar penuturan Dewa Sastra yang berterus terang.

“Dewa Sastra! Apa kau tidak senang dengan peranmu sebagai Lukman? Bukankah kau menikmati saat meraba-raba dada Asih dan mengintipnya saat meditasi?! Kau seharusnya berterima kasih karena Aku tidak mengutukmu menjadi sapi!” Sang Penulis membentak Dewa Sastra dengan marah.

Dewa Sastra terkejut dengan kemarahan Sang Penulis. Ia takut kalau-kalau penulis egois ini akan mengutuknya lagi. Dengan cepat ia mundur dan berlutut.

“Maafkan hamba Yang Mulia, hamba merasa sudah terlalu tua untuk melanjutkan peran dalam cerita ini”.

“Apa sebenarnya maksudmu wahai Dewa Sastra?” tanya Sang Penulis dengan pandangan menyelidik.

Dewa Sastra terdiam beberapa saat. Terasa berat baginya untuk menyampaikan maksud hatinya.

“Hamba ingin berhenti dari cerita ini dan menikmati masa tua hamba dengan bersantai sambil dikelilingi wanita-wanita cantik. Karena itu hamba minta agar Yang Mulia segera membayar gaji hamba selama 6 episode”.

Sang Penulis bagai disambar petir. Selama ini Dewa Sastralah yang telah membimbing-Nya dan menjadi tempat bertanya soal penulisan karya sastra. Akan sangat sulit bagi-Nya untuk menyelesaikan cerita Golok Pembunuh Sapi tanpa nasehat-nasehat dari Dewa Sastra. Sang Penulis berusaha meyakinkan Dewa Sastra untuk tetap tinggal sampai cerita Golok Pembunuh Sapi selesai, tapi Dewa Sastra yang telah bertekad untuk pensiun dari dunia kesusasteraan sudah tidak dapat dibujuk lagi. Terpaksa Sang Penulis harus merelakan orang yang selama ini menjadi penasehat-Nya untuk pergi meninggalkan cerita ini.

“Baiklah Dewa Sastra, Aku dapat memahami keputusanmu yang sudah bulat” kata Sang Penulis dengan sedih. “Tapi sayangnya Aku belum dapat membayar gajimu karena simpanan-Ku di bank telah habis terpakai untuk membeli semua perlengkapan dalam cerita Golok Pembunuh Sapi”.

Dewa Sastra tersenyum. “Maaf Yang Mulia, tapi hamba tahu kalau Yang Mulia masih memiliki simpanan di celengan sapi Yang Mulia”.

Sungguh terkaget-kagetlah sang Penulis Cerita karena Dewa Sastra mengetahui bahwa selama ini Ia rajin menabung di celengan berbentuk sapi yang sangat disayangi-Nya. Padahal celengan tersebut sudah Dia sembunyikan di bawah komputer-Nya dan hanya dikeluarkan bila tidak ada orang yang melihat.

“Dewa Sastra, Aku tidak dapat membayarmu dengan uang di celengan tersebut. Kau harus menanti sampai Aku punya uang untuk membayar gajimu”.

Marah dan tersinggunglah Dewa Sastra mendengar perkataan Sang Penulis. Ia tidak lagi mempedulikan segala tata cara Kerajaan Langit dan bangkit berdiri sambil menuding Sang Penulis.

“Dengan segala hormat, kalau Yang Mulia tidak mau membayar gaji saya sekarang juga, maka saya akan melaporkan perbuatan Yang Mulia ke Serikat Pekerja dan menuntut Yang Mulia di pengadilan!”

Ancaman Dewa Sastra tersebut membuat Sang Penulis menjadi gentar. Keringat dingin segera membasahi wajah-Nya. Ia tak ingin dipenjara karena tidak membayar gaji pemeran dalam cerita-Nya. Dengan berat hati akhirnya Ia mengeluarkan celengan sapi kesayangan-Nya dari bawah komputer.

Sejenak ada keraguan dalam hati Sang Penulis untuk memecahkan celengan sapi yang sangat disayangi-Nya itu. Namun tatapan tidak sabar dari mata Dewa Sastra yang berapi-api membuatnya terpaksa segera membanting celengan itu.

“Praak!”

Uang receh dan kertas segera berhamburan dari celengan yang pecah itu. Setelah dihitung-hitung, ternyata uang itu tidak cukup untuk membayar gaji Dewa Sastra selama 6 episode. Untung Dewa Sastra mau berbaik hati dan merelakan perannya dalam cerita Golok Pembunuh Sapi Bagian 7 ini tidak dibayar.

Demikianlah, dengan uang tiga ribu lima ratus rupiah yang tersisa di tangan-Nya untuk membeli bakwan dan kopi, Sang Penulis memandang kepergian Dewa Sastra dengan mata yang berkaca-kaca.

Seminggu kemudian, terlihatlah Dewa Sastra sedang berjemur di pantai Gangga Island Resort, Likupang – Sulawesi Utara, dikelilingi gadis-gadis cantik yang menemaninya. Gayanya sungguh keren, dengan kacamata hitam dan celana renang ketat berwarna biru, sungguh tak ada seorang pun yang bisa menyangka kalau dialah yang berperan sebagai Lukman, tukang pijit sekaligus pendekar tua yang buta nan mesum yang ternyata adalah Si Buta Dari Goa Hantu dalam cerita Golok Pembunuh Sapi.

(Bersambung...)
Share: