Golok Pembunuh Sapi Bagian 6


Golok Pembunuh Sapi Bagian 5

“Hei cerita ini belum selesai!” teriak Bangka Hijau. “Karena akulah yang telah berhasil membunuh tokoh utama, maka sekarang akulah yang berhak menyandang peran sebagai tokoh utama”.

Anak buah Bangka Hijau bersorak-sorai menyambut kemenangan pemimpin mereka yang telah berhasil membunuh Witho dan merebut peran sebagai tokoh utama cerita ini. Mereka sudah membayangkan pesta besar-besaran yang akan dilangsungkan di markas mereka. Tak sabar lagi mereka menanti makanan dan minuman mewah yang akan dihidangkan serta gadis-gadis penghibur yang akan menemani mereka malam nanti. Diantara sorak-sorai tersebut ada beberapa orang yang tidak ikut berbahagia dengan kemenangan ini. Mereka adalah lima orang figuran yang kini telah menjadi tokoh dalam cerita sekaligus sahabat Witho. Tapi sebagai aktor-aktor profesional, mau tak mau mereka harus melakoni peran mereka sebagai anak buah Bangka Hijau dan ikut bersorak atas kemenangan yang diperoleh.

“Hahahaha! Akhirnya bocah tengik ini mati di tanganku!” Bangka Hijau tertawa terbahak-bahak sambil bertolak pinggang. “Aku memang pendekar hebat yang tiada tandingannya dalam cerita ini. Pemeran utama saja berhasil kubunuh, tak ada lagi yang kutakuti”. Anak buahnya bersorak-sorai gembira.

“Aku nyatakan hari ini sebagai hari libur perkumpulan Perampok Tak Berbudi! Setiap tahun kita akan merayakan kemenangan besar ini! Inilah hari kebangkitan perkumpulan kita! Saya berjanji akan membawa perkumpulan kita menuju kemakmuran! Hidup perampok!” Pidato kemenangan tersebut disambut dengan gegap gempita. Spanduk-spanduk yang mendukung Bangka Hijau dibentangkan dimana-mana, baliho bergambarkan wajah Bangka Hijau yang tersenyum manja dipasang di setiap penjuru dunia persilatan.

Dengan senyum kemenangan menyeringai di wajahnya Bangka Hijau mendekati mayat Witho dan membalikkan mayat itu dengan kakinya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat wajah mayat itu.

“Apa-apan ini?” umpat Bangka Hijau dengan gusar dan sangat marah. “Orang ini bukan Witho! Dia stuntman, pemeran pengganti khusus untuk adegan berkelahi!”

Anak buah Bangka Hijau segera mengerumuni mayat itu, ingin melihat sendiri kalau benar orang itu bukan Witho. Ternyata mayat itu memang bukan Witho. Orang yang tergeletak tewas itu adalah Beri Prima, bekas aktor silat gaek yang kini menjadi pemeran pengganti untuk adegan laga setelah kepopulerannya meredup. Ada rasa lega dalam hati lima sekawan yang kini menjadi sahabat Witho setelah mengetahui bukan sahabat mereka yang tewas di tangan Bangka Hijau.

Bagaimanapun juga, kejadian ini mengundang keterkejutan yang luar biasa. Ilmu menggunakan pemeran pengganti atau yang dalam dunia persilatan dikenal dengan nama Jurus Ganti Orang adalah ilmu keji yang dikabarkan telah hilang dari dunia persilatan. Ilmu ini dianggap sebagai ilmu sesat dan aksi pengecut karena menggunakan orang lain sebagai pengganti untuk bertarung. T-Obeng yang sejak tadi hanya berdiri menonton tanpa bersuara tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya setelah melihat Witho bisa menggunakan ilmu ajaib itu. Ini akan menjadi bahan perbincangan menarik bagi tokoh-tokoh dunia persilatan.

Beri Prima, setelah dikerubungi banyak orang akhirnya merasa tak nyaman. Ia sudah tak mampu lagi menahan napas dan berakting menjadi mayat. Dengan kesal ia bangun dan membuang bajunya yang berlumuran darah palsu, yang dibuat untuk spesial efek.

“Sialan, tadi di naskah tidak ada adegan dikerubungi banyak orang. Bau keringat kalian membuatku ingin muntah. Aku tak mau lagi menjadi pemeran pengganti di cerita ini. Aku berhenti” katanya sambil pergi meninggalkan tempat itu.

Bangka Hijau yang tadinya diliputi kebanggaan akan keberhasilannya membunuh Witho kini sangat marah sekali. Mukanya menjadi merah dan matanya membelalak, jelalatan mencari keberadaan pemuda gondrong bergolok narsis itu. Kemarahannya semakin menjadi ketika melihat ternyata Witho sedang asyik melahap makan siang di tenda bagian logistik.

“Dasar keparat! Kau curang!” teriak Bangka Hijau sambil mengacungkan jarinya menunjuk ke arah Witho yang terkejut sehingga tersedak karena teriakan Bangka Hijau dikerahkan dengan menggunakan Roar.

“Sabar... dulu...” kata Witho sambil menyambar segelas air. Setelah makanan yang tersekat di kerongkongannya lenyap ia berkata “Sekarang sudah siang, harusnya kita beristirahat dulu untuk mengisi perut. Berakting juga membutuhkan tenaga dan konsentrasi”.
Betapa marahnya Bangka Hijau mendengar kata-kata Witho itu. Baru kali ini ia merasa tertipu dan sangat diremehkan.

“Jangan banyak lagak! Ayo lawan aku” tantang Bangka Hijau.

“Aduh, orang ini benar-benar tidak sabaran” keluh Witho sambil berjalan mendekati Bangka Hijau.

“Baiklah kalau itu maumu, aku juga tak sungkan lagi”. Witho menjawab tantangan Bangka Hijau dengan gagah. Sejenak tempat itu terasa sunyi, tak ada satu pun orang yang bersuara. Sangat sunyi sehingga bisa terdengar suara angin membelah udara dan meniup rambut Witho yang berdiri tegak menyandang golok narsis di tangan kanannya. Pose seperti ini membuat Witho terlihat sangat keren dan tampan, sehingga beberapa pasang mata gadis-gadis terlihat mengintip malu-malu dari balik jendela rumah mereka.

Bangka Hijau menatap Witho dengan pandangan tajam, berusaha meyakinkan dirinya kalau orang di depannya ini adalah Witho yang sebenarnya, bukan lagi pemeran pengganti.

“Cih..” Bangka Hijau meludah ke tanah di depan Witho. “Kau kira pose narsismu itu bisa menolongmu dari terkaman tombakku? Tanpa pemeran pengganti kau bukan lawanku. Mulai sekarang tidak ada parodi lagi! Serius Mode = ON” begitu mengucapkan ini, Bangka Hijau langsung menerjang Witho dengan hujaman tombaknya.

Benar saja, segera setelah serius mode diaktifkan, Witho kewalahan. Berkali-kali ia kena tusukan dan sabetan tombak Bangka Hijau. Pundak dan pahanya kini mengalirkan darah. Masih untung karena dengan kegesitannya yang luar biasa ia belum tewas di ujung tombak. Tapi arah pertarungan ini sudah jelas, Witho bukanlah tandingan Bangka Hijau. Napasnya sudah terengah-engah dan tangannya gemetar.

“Mampus kau!” Bangka Hijau berteriak sambil menerjang maju. Tombaknya diarahkan ke leher. Witho melompat mundur sambil terhuyung. Dengan gerak refleks ia menyilangkan goloknya melindungi leher.

“Trang!”

Tusukan tombak mengenai golok, membuat Witho terseret beberapa meter ke belakang. Bangka Hijau memutar tombaknya memanfaatkan tenaga dari benturan tadi, menancapkan tombaknya ke tanah, kemudian menjadikan tombaknya sebagai pendorong tubuhnya untuk melesat ke depan dan mendaratkan tiga tendangan beruntun ke dada Witho.

“Aaakh!!”

Witho terpelanting jauh ke arah dinding rumah Lukman ketika tiba-tiba sesosok wanita menahan tubuhnya dari belakang.

“Asih? Meditasimu sudah selesai?”

Asih menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Witho, menyalurkan Chi penyembuh sehingga dada Witho yang tadinya sesak akibat tendangan Bangka Hijau kini lega, seolah ada gelombang yang menelan rasa sesak yang tadi menghimpit dadanya.

“Belum. Waktunya tidak cukup” kata Asih sambi menyalurkan Chi pelindung lewat kedua telapak tangannya yang masih menempel di punggung Witho. Chi yang disalurkan Asih membuat Witho merasa tubuhnya panas seperti terbakar dan dari dalam tubuhnya terasa ada hawa yang bergulung-gulung dan mendesak ingin keluar seolah-olah tubuhnya akan meledak. Tubuhnya terhuyung karena pandangannya gelap dan kepalanya pusing akibat dorongan tenaga dari dalam tubuhnya itu. Namun hanya sekejap saja ketika dorongan tenaga itu mampu dikuasainya, Witho merasa jauh lebih kuat dan tubuhnya sangat ringan.

“Haaaaaaaaaaa...” Bangka Hijau menerjang penuh tenaga ke arah Witho dengan sabetan tombaknya yang dipenuhi Chi.

“Prakk!!”

Bangka Hijau melompat mundur saking kagetnya karena serangan tombaknya yang dilakukan dengan mengerahkan Chi dapat ditangkis Witho dengan golok tanpa bergerak dari tempatnya berdiri. Bahkan tombaknya yang dialiri Chi patah!

“Kalian bandit tak tahu diri! Gara-gara kalian gadis ini terpaksa menghentikan meditasinya dan aku tak dapat lagi mengintipnya!” tanpa disadari Witho, tubuhnya yang kini dipenuhi Chi membuat suaranya lantang menggema ke seluruh desa sampai ke telinga penduduk yang mengunci diri di rumahnya masing-masing karena takut dengan kedatangan gerombolan bandit ini.

Asih yang berdiri di belakang Witho juga kaget dan membelalakkan matanya. Pipinya merah karena malu dan kesal. Teringatlah dia akan Sang Penulis Cerita. Pasti penulis narsis itu mempermainkan dia dalam cerita ini sebagai pembalasan karena dianggap telah lancang meminta penggantian nama.

“Dasar penulis narsis kurang ajar, beraninya mempermainkan orang dalam cerita” umpat Asih dalam hati. Tapi tak ada yang dapat dilakukan Asih karena sebagai karakter dalam cerita, terpaksa dia harus pasrah dengan alur cerita yang sudah ditetapkan penulis.

Dengan kekuatan yang menjalar dan berapi-api di tubuhnya Witho menerjang Bangka Hijau. Chi di tubuhnya mengalir ke tangan dan terus ke goloknya hingga golok itu diselubungi cahaya biru. Kini yang tampak hanya sinar biru yang bergulung-gulung mengepung Bangka Hijau.

T-Obeng yang tadinya hanya berdiri menonton pertarungan ini kaget bukan main melihat golok di tangan Witho yang kini berupa gumpalan cahaya biru.

“Golok Pembunuh Sapi” desisnya seolah tak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya. Dalam hati T-Obeng bertanya-tanya siapa gerangan pemuda goblok yang sok tampan dan over confidence ini. Jurus Ganti Orang yang digunakannya saja sudah sangat mengejutkan karena jurus itu seharusnya sudah musnah dari dunia persilatan. Sekarang ia malah memegang Golok Pembunuh Sapi yang legendaris, yang dicari-cari oleh seluruh tokoh-tokoh dunia persilatan. Pasti pemuda ini bukan orang sembarangan. T-Obeng kini memusatkan pandangan matanya pada Witho, tak mau terlepas sedetik pun, menanti kejutan apa lagi yang akan ditunjukkan oleh pemuda itu.

Menghadapi serangan Witho yang kini semakin cepat dan asal-asalan namun mengandung Chi yang besar, Bangka Hijau kewalahan hebat. Mati-matian ia menghindar berusaha menyelamatkan diri dari sabetan-sabetan ngawur itu. Selincah apa pun Bangka Hijau, bahkan walaupun ia telah menggunakan jurus Step Mencopet di Keramaian Kota, tetap saja akhirnya ia tersudut dan tak dapat berbuat apa-apa ketika hujaman cahaya biru itu mengarah ke dadanya.

“Plak!”

Sebelum cahaya biru itu menyentuh dada Bangka Hijau, tiba-tiba saja T-Obeng berkelebat menangkap tangan Witho dan pukulannya mendarat di dada pemuda itu. Witho terbanting ke belakang, terhuyung dan jatuh. Goloknya kini berada di tangan T-Obeng.

“Hahahaha... sungguh tak kusangka pemuda tengik ini memiliki Golok Pembunuh Sapi yang dikabarkan telah hilang dari dunia persilatan” T-Obeng benar-benar terpesona dengan golok di tangannya. Dikerahkan Chi-nya ke golok itu dan tiba-tiba saja warna biru tadi berubah menjadi warna merah karena Chi yang dialirkan T-Obeng ke golok itu jauh lebih besar dari Chi Witho yang hanya diberikan oleh Asih. Inilah keistimewaan Golok Pembunuh Sapi yang mudah dikenali. Golok ini akan bercahaya bila dialiri Chi dan warna cahaya itu berbeda-beda, tergantung kekuatan aliran Chi dari orang yang menggunakannya.

“Tak salah lagi... ini Golok Pembunuh Sapi yang legendaris itu!” serunya dengan mata bersinar-sinar liar seperti kesetanan.

“T-Obeng! Kau pengkhianat!“ teriak Asih sambil memeriksa Witho yang terkapar tak berdaya. Ternyata hanya satu pukulan saja dari T-Obeng sudah hampir menewaskan pemuda itu. Cepat-cepat Asih mengalirkan Chi penyembuh ke tubuh Witho.

“Ah, adik seperguruan. Aku hanya ingin membuktikan bahwa ayahmu sudah terlalu tua untuk menjadi ketua perguruan. Sudah saatnya dia mundur dan mewariskan kedudukan ketua pada yang lebih muda”

“Puih! Aku tak sudi mengakuimu sebagai saudara seperguruan. Tidak ingatkah engkau bahwa ayah adalah gurumu yang mendidikmu sejak kecil? Kau wanita keji berwatak iblis” bentak Asih.

Mendengar bentakan Asih tersebut, T-Obeng tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya menyeramkan sehingga membuat semua orang yang mendengar menjadi bergidik.

“Kau memang gadis manja! Perguruan kita adalah aliran sesat Perguruan Dangdut Iblis. Bukankah wajar jika aku memiliki watak iblis?” T-Obeng tertawa mengejek. “Kau saja yang terlalu lugu dan menghabiskan waktumu bermain-main dengan pemuda kampung seperti dia” katanya sambil menatap ke arah Witho dengan senyuman nakal. “Tapi dia lumayan tampan juga untuk dijadikan bahan permainan”

“Wanita keji, kubunuh kau” Asih membentak marah. Ia menerjang ke arah bekas saudari seperguruannya dengan jurus Bloody Hands of Dangdut (Telapak Sakti Penabuh Gendang), jurus tangan kosong dari perguruan Dangdut Iblis yang menggegerkan dunia persilatan karena jurus inilah yang pernah menewaskan ratusan anggota perguruan aliran putih dengan jantung dicabut keluar dalam pertempuran memperebutkan kekuasaan antara aliran putih dan aliran hitam.

Tentu saja walaupun Asih menyerang sekuat tenaga, T-Obeng tidak kesulitan menghadapi serangannya. Ia bisa menghindari semua serangan Asih dan bahkan hanya dengan satu gerakan balasan ia membuat Asih roboh terguling dengan sebuah tendangan di dada.

“Hahahaha... jangan mimpi untuk melawanku. Bahkan ayahmu pun tak akan sanggup mengalahkan aku, apalagi sekarang aku memiliki Golok Pembunuh Sapi di tanganku” T-Obeng memandang golok ditangannya dengan kagum. “Aku tak tertarik lagi untuk menjadi ketua perguruan. Dengan golok ini aku akan menguasai dunia persilatan!”.

“T-Obeng...!!” Asih berseru keras, membentak dengan marah. Pada saat itu pandang matanya beralih pada seorang kakek yang tiba-tiba muncul di tempat itu dengan sebuah lompatan ringan.

“Biar aku yang melawan wanita iblis ini. Kau bawalah Witho ke tempat aman dan sembuhkan lukanya” kakek yang tak lain adalah Lukman itu berkata sambil memasang kuda-kuda dengan tongkat kayu di tangannya.

“Eh... Lukman..” Asih kaget dengan kedatangan Lukman yang langsung menantang T-Obeng. Ia tak menyangka kakek mesum ini bisa ilmu bela diri. Bahkan Witho pun kaget. Selama ia tinggal bersama Lukman, ia tak pernah tahu kalau ayah angkatnya ini mempunyai ilmu bela diri. Ataukah ini hanya akal-akalan Lukman yang berpura-pura agar mereka bisa melarikan diri? Gawat, kalau begitu Lukman bisa terbunuh.

“Hmm... hanya seorang kakek tua yang buta” ujar T-Obeng. “Kalau tak ingin mati percuma, sebaiknya kau minggir kakek tua!” T-Obeng membentak sambil menerjang Asih dengan Golok Pembunuh Sapi yang kini diselubungi cahaya merah.

“Trang..!” Percikan api memecah udara ketika Lukman menghadang dan menyambut golok T-Obeng dengan tongkat kayu di tangannya. Benturan kedua senjata ini membuat T-Obeng terdorong mundur beberapa langkah, sedangkan Lukman terdorong hampir sepuluh meter ke belakang. Tangannya bergetar hebat karena benturan itu. Memang luar biasa Golok Pembunuh Sapi ini, pikir Lukman.

T-Obeng tampak tercengang. Dia merasa sangat heran karena bukan saja kakek buta ini telah menangkis Golok Pembunuh Sapi dengan tongkat kayunya, tapi juga membuat dia terdorong mundur. Asih yang tadinya sempat memekik ngeri karena mengira Lukman akan tewas, juga terheran-heran melihat kakek ini mampu menangkis serangan T-Obeng. Padahal Asih tahu betul kemampuan T-Obeng sebagai murid dengan level tertinggi di perguruan Dangdut Iblis dan salah satu dari 4 Jendral Bayangan, yang bahkan hampir saja mengalahkan ayahnya, pendiri perguruan Dangdut Iblis.

“Asih! Cepat bawa Witho ke tempat aman!” Roar ini dilakukan Lukman dengan mengerahkan Chi yang sedemikian besar sehingga anak buah Bangka Hijau yang berilmu rendah jatuh pingsan terkena hantaman Chi dalam suaranya.

Dengan cepat Asih menggendong Witho dan berlari dengan ilmu Kaki Ringan, ke arah bukit di belakang desa itu. T-Obeng bergerak untuk mengejar tapi Lukman segera menghadang dengan tongkat kayunya. Melihat T-Obeng dihalangi kakek itu, Bangka Hijau segera melesat dengan ilmu Kaki Ringan mengejar Asih.

“Kakek jelek! Siapa sebenarnya kau?” geram hati T-Obeng melihat kakek di hadapannya ini ternyata memliki kesaktian yang cukup tinggi.

“Aku hanyalah seorang tukang pijit buta” Lukman menyerang T-Obeng dengan jurus tongkatnya yang meliuk-liuk bagaikan seekor belut. T-Obeng yang kini menyadari kehebatan kakek buta ini tak lagi memandang rendah, langsung melayani dengan jurus golok paling sakti dari perguruan Dangdut Iblis, Soul Destroyer (Irama Perusak Jiwa). Jurus ini adalah sekumpulan gerakan terhuyung-huyung seperti orang mabuk oleh minuman keras digabung dengan kecepatan gerakan tangan seperti orang yang berlaku curang saat berjudi. Jurus ini dikenal di dunia persilatan dengan nama gaulnya Miras dan Judi Merusak Jiwa.

Lukman menyadari jurus golok yang dikeluarkan T-Obeng mengandung kekuatan Chi yang sifatnya sangat tajam, yang bisa merusak aliran Chi dalam tubuh lawan bila terkena sabetan goloknya. Ia segera tahu bahwa jurus inilah yang telah melukai Asih dan merusak aliran Chi dalam tubuh gadis itu.

“Keparat, mati kau!” Tiba-tiba saja T-Obeng mengangkat goloknya tinggi-tinggi dengan dua tangan sambil berbalik membelakangi lawan. Lukman yang pernah mendengar sepak terjang Kaisar Kegelapan, pencipta jurus-jurus perguruan Dangdut Iblis sekaligus ketua perguruan itu segera mengenal bahwa ini adalah jurus Infernal Saber of Hades (Petikan Raja Dangdut). Jurus ini mengerahkan seluruh Chi yang ada dalam tubuh ke pergelangan tangan, menimbulkan kekuatan sabetan yang luar biasa, yang tidak dapat ditangkis oleh lawan.

Menyadari betapa berbahanyanya serangan lawan, Lukman mengerahkan jurus Step yang bernama Si Buta Melompati Sumur. Ini membuat sabetan golok T-Obeng hanya membelah angin karena dengan gesitnya tubuh Lukman mengikuti ayunan golok dan menghindari setiap serangan yang dilakukan T-Obeng.

T-Obeng melompat mundur karena kaget melihat jurus Step Lukman. Ia merasa pernah melihat jurus Step ini dalam salah satu sinetron silat di TV.

“Kau... Si Buta Dari Goa Hantu?”

Share: