Golok Pembunuh Sapi Bagian 5


Golok Pembunuh Sapi Bagian 4


“Tungguuuu!!!” teriakan Witho ini membuat para perampok yang sudah siap mencabut nyawanya berhenti.

“Aku adalah tokoh utama cerita ini” kata Witho dengan napas memburu dan dada yang hampir pecah. Keringat telah membasahi seluruh tubuh dan wajahnya. “Kalau aku mati, berarti cerita ini tamat dan kalian kehilangan pekerjaan”

Para perampok yang mengejar Witho itu berpandangan satu sama lain. Salah seorang dari mereka berkata “Jangan mencoba menipu kami! Kami hanyalah figuran tanpa nama. Masih banyak cerita silat lain yang membutuhkan jasa figuran seperti kami”. Teman-temannya mengangguk setuju.

“Eits... sabar dulu” bujuk Witho. “Kalau kalian tidak membunuhku, aku akan meminta pada Sang Penulis Cerita untuk memberi kalian nama. Dengan demikian, kalian bukan lagi figuran, melainkan tokoh dalam cerita ini. Setuju?”

Sejenak kelima perampok itu saling berpandangan, mempertimbangkan tawaran yang diajukan Witho. Tak dapat dipungkiri, itu adalah sebuah tawaran yang sangat menggiurkan. Mereka berlima adalah kawan baik sejak masih belajar ilmu bela diri di kampung mereka. Bersama-sama mereka datang ke kota dengan harapan menjadi bintang cerita silat yang tenar. Menjadi figuran hanyalah sebuah langkah awal menuju kesuksesan. Siapa sangka setelah bertahun-tahun ternyata mereka masih saja menjadi figuran yang tak dikenal dan mimpi untuk menjadi bintang cerita silat yang tenar seolah terkubur makin dalam.

Kini mereka ditawarkan untuk menjadi tokoh dalam cerita ini, yang berarti mengangkat derajat mereka sedikit lebih tinggi dari status mereka sebagai figuran. Jika mereka bisa tampil baik dalam cerita ini, ada kemungkinan mereka bisa mendapatkan peran dalam cerita silat yang lain. Tentu saja ini adalah kesempatan yang tak bisa disia-siakan. Jalan untuk menjadi bintang seolah terbuka kembali, bercahaya menyinari wajah mereka yang berseri berkilauan. Langkah mereka untuk menggapai mimpi bertambah selangkah.

Hanya dengan saling berpandangan lima sekawan itu tahu isi kepala masing-masing. Serentak mereka mengangguk tanda setuju dengan tawaran yang diberikan Witho.

“Namaku Figuran1” kata yang bertubuh jangkung dan berwajah lumayan tampan.

“Aku Figuran2” kata yang bertubuh tegap dengan lekuk wajah yang keras.

“Aku bernama Figuran3” kata yang bertubuh tinggi besar dan brewokan.

“Aku biasa dipanggil Figuran4” kata yang berbadan kecil dan berkulit agak gelap.

“Dan aku bernama Figuran5” kata yang bertubuh pendek gemuk dengan perut buncit, hampir menyerupai bola.

Witho tersenyum kepada lima orang yang yang baru saja melepas status ke-figuran-an mereka. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan dada sebagai tanda hormat “Aku mengucapkan selamat kepada kalian. Mulai sekarang kalian adalah tokoh dalam cerita ini”.

Witho dan kelima orang itu bercakap-cakap dan bersenda gurau sambil tertawa dengan riang. Lima orang itu menceritakan pengalaman mereka sejak dari kampung hingga kedatangan mereka ke kota dengan tujuan menjadi bintang cerita silat. Mereka kini telah akrab dengan Witho dan menganggapnya sebagai sahabat mereka.

“Keparat, kenapa kalian belum membunuh dia?!”

Senda gurau mereka terhenti setelah mendengar bentakan Bangka Hijau yang muncul di tempat itu. Lima sekawan itu kini bingung, tak tahu apa yang harus mereka lakukan.

“Aduh bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan” desis Figuran4 dengan nada bingung dan khawatir.

“Tenang saja” kata Witho kepada para sahabatnya. “Kalian hajar saja aku seperti yang sudah ditetapkan dalam alur cerita, tapi jangan pakai senjata. Sebagai aktor kita harus berakting secara total, tidak boleh setengah-setengah. Hajar aku sekuat tenaga kalian!”. Ucapan Witho ini mengandung wibawa dan kegagahan seorang aktor yang berjiwa besar, yang tidak pernah takut menghadapi bahaya. Para sahabatnya itu sampai terharu dan menitikkan air mata mendengar perkataan Witho yang menyentuh hati mereka.

Lima orang itu kembali mempertemukan pandang mata mereka mencari persetujuan masing-masing lalu serentak mengangguk, membuang senjata mereka dan menghajar Witho dengan tangan kosong.

“BLESS”

“BUK”

“Aduh”

“Ah..kakiku”

“BUK”

“Eeeh..hati-hati dengan wajahku!”

Debu menggumpal bertebaran di udara saat lima orang itu menghajar Witho sampai babak belur. Bunyi pukulan dan keretak tulang terdengar menghiasi teriakan kesakitan.

“POW”

“BRAK”

“BOOM”

“PLAK”

“DESS”

Bunyi-bunyi itu terdengar bersamaan dengan terpelantingnya kelima orang itu sejauh beberapa meter. Dari dalam gumpalan debu itu Witho melesat menerjang Bangka Hijau yang terkejut dengan kejadian yang sangat cepat itu.

Dengan gelagapan Bangka Hijau menangkis serangan-serangan golok Witho yang sangat cepat berkelebat hampir tak dapat dilihat mata. Lima sekawan yang kini terkapar sambil memegang dada mereka yang kena pukul kaget melihat Witho yang tadinya berlari seperti orang bodoh kini bertarung dengan Bangka Hijau dengan gerakan bela diri yang sangat hebat.

Bangka Hijau melompat jauh ke belakang untuk menghindari serangan Witho yang ganas. Setelah pertarungan tadi ia paham bahwa pemuda di depannya memiliki kepandaian yang bisa dibilang cukup hebat, namun dari gerakan-gerakannya, ia menilai kalau pemuda itu hanya mengandalkan tenaga luar saja. Bangka Hijau segera merapal Chi keseluruh tubuhnya.

“Ayo lihat sampai dimana kemampuanmu” Kalimat ini diucapkan Bangka Hijau sambil melancarkan serangan tusukan tombak yang sangat lambat. Walaupun gerakannya lambat, Witho tahu kalau pukulan ini mengandung tenaga yang luar biasa dan itu bisa dirasakan dari desiran angin yang mendahului tombak tersebut. Tidak mau ambil resiko, Witho melompat ke samping namun serangan tombak yang tadinya lambat kini berbalik arah mengejarnya dengan kecepatan luar biasa. Cepat ia mengangkat goloknya untuk menangkis namun ia kaget sekali karena tangkisannya hanya mengenai angin dan tongkat itu kini mengarah ke pinggangnya. Hampir saja Witho tak sempat mengelak kalau ia tak cepat melempar tubuhnya ke belakang dengan gerakan berguling di tanah. Baru saja ia mengangkat wajahnya, tombak itu kini mengarah ke lehernya. Dengan sangat terdesak, ia menjatuhkan diri ke tanah sambil mengibaskan goloknya menangkis tombak tersebut.

Sungguh luar biasa ilmu tombak Bangka Hijau. Jurus yang dikeluarkannya tadi adalah jurus penuh tipu muslihat yang bernama Mengalihkan Penjaga Toko - Mencuri CD-ROM. Jurus ini menggunakan Chi untuk menciptakan rangkaian serangan yang kelihatannya sangat cepat dan bertubi-tubi, namun sebenarnya semua serangan itu hanyalah tipuan untuk membuat lawan terdesak dan serangan yang sebenarnya dilakukan pada saat lawan sudah berada pada posisi yang tak mampu menangkis atau menghindar lagi.

Bangka Hijau sedikit kaget karena pada saat terakhir, Witho mampu menangkis serangannya yang asli, padahal serangan tipuannya telah berhasil menyudutkan Witho. Ia maklum bahwa lawannya memiliki kegesitan yang cukup tinggi.

Secepat apapun gerakan Witho, tentu tak akan mampu menghadapi kecepatan pergerakan yang menggunakan Chi. Bangka Hijau pun segera merapal teknik Step (rangkaian pergerakan kaki dengan menggunakan ilmu Kaki Ringan sehingga gerakan tubuh menjadi lebih cepat dan gesit) yang bernama Mencopet di Keramaian Kota.

Dengan jurus Step yang dikerahkannya, Bangka Hijau berhasil mengimbangi kecepatan gerakan Witho, bahkan mengunggulinya. Ia mendesak Witho yang terus mundur sambil bertahan dengan goloknya menghadapi jurus tombak Bangka Hijau. Akhirnya Witho tersudut. Punggungnya kini menyentuh dinding rumah Lukman, tak ada tempat untuk mundur lagi. Dengan putus asa dia menahan sabetan tombak Bangka Hijau dengan goloknya, namun karena hanya mengandalkan tenaga luarnya ia kalah kuat dengan sabetan tombak Bangka Hijau yang mengandung Chi.

Golok Witho terpental dari tangannya dan tombak Bangka Hijau merobek dadanya disusul sebuah tendangan keras ke arah kepalanya. Witho roboh dan tewas dengan darah muncrat dari dadanya yang robek.

Demikianlah para pembaca yang budiman. Dengan tewasnya tokoh utama dalam cerita ini maka seharusnya selesailah cerita Golok Pembunuh Sapi.

T A M A T

Share: