Golok Pembunuh Sapi Bagian 4


Golok Pembunuh Sapi Bagian 3

Nyanyian Bangka Hijau dan anak buahnya yang bertubi-tubi tersebut membuat Witho kewalahan menghadapi mereka. Ia terdesak hingga harus melempar dirinya ke belakang untuk menyelamatkan nyawanya.

Dikeroyok banyak orang, Witho tak mau banyak bicara lagi langsung menggerakkan goloknya. Ia berlari ke hadapan Bangka Hijau dan mengayunkan goloknya. Golok Witho bergerak cepat, berkelebat kesana-kemari mengikuti gerakan tubuhnya seolah golok itu telah menyatu dengan dirinya. Gerakannya terlihat aneh, bahkan terkesan ngawur, tidak terlihat seperti gerakan ilmu bela diri yang terlatih dengan baik. Kadang gerakannya cepat, kadang lambat, dan kadang terlihat ia mengayunkan goloknya secara asal-asalan namun semua gerakannya itu mengandung tenaga yang sangat hebat. Entah jurus golok dari perguruan apa yang dipakainya.

Memang, tidak ada seorang pun di desa ini yang tahu darimana asalnya pemuda ini. Bertahun yang lalu, penduduk desa menemukan seorang bocah laki-laki terbaring di pinggir pantai dengan sebilah golok terpegang erat dalam genggamannya. Dalam keadaan tak sadarkan diri pun, golok itu tetap tak mau dilepas dari tangannya, seolah telah menjadi bagian dari dirinya. Lukman mengobati dan merawatnya. Setelah sadarkan diri, ternyata bocah itu tidak ingat apa pun. Ia tidak tahu nama dan asal-usulnya, juga bagaimana ia bisa sampai ke desa itu. Pasti dia telah mengalami sesuatu yang buruk, sesuatu yang menggoncangkan jiwanya sehingga ia hilang ingatan. Lukman kasihan dengan nasib malang yang menimpa anak itu dan mengajak ia tinggal dirumahnya. Karena melihat di golok tersebut tertulis “WITHO PE GOLOK”, maka penduduk desa memanggilnya dengan nama Witho. Entah itu benar-benar namanya atau bukan, tidak ada yang tahu, tapi yang mengherankan adalah keahliannya menggunakan golok yang sangat luar biasa. Padahal bagi orang biasa, mengayunkan golok itu saja sudah sulit karena beratnya golok tersebut.

Awalnya penduduk enggan menerimanya tinggal di desa itu karena takut keahlian menggunakan goloknya bisa membawa hal buruk. Hanya Lukmanlah yang tetap menahan Witho untuk tinggal di rumahnya dan menganggapnya sebagai anak, walaupun pada kenyataannya mereka lebih terlihat sebagai sepasang sahabat dan ternyata pemuda itu pun lebih suka tidur di kuil kosong di pinggir hutan meskipun siangnya ia tinggal di rumah Lukman.

Pada suatu hari desa itu digegerkan dengan cerita bahwa ada sapi raksasa homoseksual yang berkeliaran di hutan dan seringkali memperkosa penduduk yang mencari kayu bakar atau berburu.

Korban sodomi pun berjatuhan.

Sungguh malang karena tak ada seorang pun di desa itu yang berani untuk membinasakan sapi-dengan-penyimpangan-orientasi-seksual itu. Bahkan untuk masuk ke hutan pun mereka gentar. Ini membuat penduduk yang pekerjaannya berburu dan mengumpulkan kayu bakar kehilangan mata pencahariannya. Desa itu gempar ketika pada suatu pagi Witho keluar dari hutan dengan golok di tangannya, sambil menyeret seekor sapi yang berukuran tiga kali lipat ukuran manusia dewasa. Ia mengurung sapi mesum itu bersama Lukman yang masih tertidur di dalam kamarnya. Teriakan dan rintihan yang menyayat terdengar dari rumah Lukman. Tak ada yang tahu apa yang terjadi. Akhirnya sapi itu melarikan diri setelah bersumpah tidak akan mengganggu penduduk desa itu lagi. Penduduk pun berterima kasih kepada Witho karena telah menyelamatkan desa mereka.

Lama-kelamaan penduduk desa mulai menyadari bahwa keahlian pemuda itu ternyata berguna bagi kebaikan mereka. Semua pekerjaan yang menggunakan senjata tajam bisa lebih cepat bila dilakukan oleh Witho dengan goloknya, terutama dalam hal membunuh sapi, yang jarang orang di desa ini sudi melakukannya karena trauma dengan tragedi sapi mesum. Lagipula pemuda itu memiliki sifat yang baik, rajin, dan suka menolong. Hanya kebiasaannya mengintip gadis-gadis saja yang seringkali menjadi masalah bagi para orang tua yang memiliki anak gadis. Itu juga karena gadis-gadis itu seringkali dengan sengaja membiarkan Witho mengintip mereka dengan harapan ia akan jatuh cinta pada kemolekan tubuh mereka. Memang, ketampanan pemuda ini telah membuat gadis-gadis di desa jatuh hati kepadanya, ini membuat pemuda-pemuda lain di desa tidak terlalu suka dengan keberadaannya namun tak ada satu pun yang berani bersuara, bukan karena takut dengan golok besar yang tak pernah lepas dari tangan Witho, tapi karena kegagahan mereka sebagai laki-laki telah direnggut oleh sang sapi mesum.

Jurus golok Witho yang aneh dan asal-asalan membuat pengeroyoknya bingung. Formasi yang tadi mereka susun dengan rapi kini mulai kacau. Inilah saat-saat yang ditunggu Witho. Dengan cepat ia melompat ke tengah-tengah gerombolan tersebut, mengangkat golok narsis dengan kedua tangannya dan segera melantunkan jurus dari Dewa yang berjudul “Lelaki Paling Narsis Di Planetku Bumi”

Aku adalah lelaki paling tampan
Di planetku bumi akulah yang nomor satu
Kau tak akan bisa sukai lagi lelaki yang lainnya

. . .

Sampai di situ tiba-tiba serangan Witho terhenti. Gawat, ternyata ia lupa kelanjutan syair lagu itu. Gerombolan perampok yang tadinya kocar-kacir kini telah mengepungnya kembali dengan beringas.

Witho menyadari bahwa ia sedang dalam bahaya besar. Cepat ia memutar golok di tangannya dan mengeluarkan jurus dari Kuburan yang bernama “Lupa Lupa Tapi Ingat”

Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya
Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya
Ingat, ingat ingat ingat, cuma ingat kuncinya
Ingat, aku ingat ingat, cuma ingat kuncinya


Manuver serangan Witho yang luar biasa cepat membuat gerombolan itu kalang kabut. Dalam sekejap sudah banyak diantara mereka yang roboh karena tak tahan mendengar suara Witho yang sungguh teramat sangat luar biasa jeleknya. Beberapa orang penduduk yang tidak kuat mental juga pingsan terhantam kejelekan suara Witho.

“Cukuuuup! Hentikan semua kebodohan ini!”

Bangka Hijau berteriak histeris dengan mengerahkan Chi ke dalam suaranya sehingga suaranya menggema sampai ke pelosok desa. Ini adalah jurus tenaga dalam yang bernama Roar, yaitu menggetarkan pita suara dengan Chi sehingga suara yang dihasilkan pun mengandung Chi.

Bangka Hijau mengacungkan ujung tombaknya ke arah Witho. “Ayo kita bertarung layaknya pendekar seperti dalam cerita silat karya Ko Ping Ho”.

“Kuterima tantanganmu”

Tantangan Bangka Hijau itu disambut dengan tangan terbuka oleh Witho. Ia telah membaca beberapa buku silat karya Ko Ping Ho sehingga ia merasa tidak akan kesulitan untuk bertarung seperti itu.

Witho berbalik ke arah penduduk yang menonton pertarungan mereka. Ia menjura sebagai tanda hormat dan berkata “Kami persilahkan kepada saudara-saudara sekalian untuk merasa ketakutan lagi dan bersembunyi di rumah masing-masing”. Kepanikan segera melanda desa itu. Penduduk berlarian, berlomba-lomba masuk ke dalam rumah masing-masing dan mengunci pintu karena ketakutan.

Witho yang ingin mengintip lagi sebelum Asih selesai bermeditasi tak mau menyia-nyiakan waktu dengan gerombolan ini. Ia menghantamkan goloknya ke tanah dan melompat dengan bertumpu kepada golok itu. Kaki kanannya tiba-tiba menendang kapak dari pengeroyok di depannya. Gerakan ini sering ia lihat di film-film kung-fu dan ia merasa sangat keren ketika melakukan gerakan ini.

Orang yang diserang Witho kaget sekali dengan gerakan itu dan cepat melompat mundur sehingga tendangan Witho hanya mengenai angin.

“Gubrak!”

“Aduh”

Akibat tendangannya yang tidak mengenai sasaran, Witho terjatuh ke tanah dengan bunyi berdebum. Cepat ia berdiri lagi dengan rasa penasaran karena ternyata gerakan tadi tidak semudah yang dilihatnya di film. Pengeroyoknya menjadi was-was dan siaga. Mereka khawatir kalau itu adalah salah satu gerakan tipuan Witho, apalagi setelah sebelumnya melihat ia menggunakan jurus golok yang aneh untuk membongkar formasi mereka.

Witho berdiri seperti kehilangan keseimbangan. Ia menancapkan goloknya ke tanah sebagai tumpuan. Para pengeroyoknya melompat mundur, khawatir kalau-kalau itu juga adalah sebuah gerakan yang tak terduga.

“Akh, punggungku sakit sekali” teriak Witho sambil memegang punggungnya yang terasa nyeri bukan main akibat terjatuh tadi.

Melihat tubuh lawan terbuka, 5 orang pengeroyok segera memanfaatkan kesempatan. Mereka menyerang dengan tusukan tombak dan bacokan kapak. Namun tanpa disangka-sangka, Witho melompat ke atas, berkelit dari serangan mereka dan secepat kilat berlari keliling desa sambil berteriak minta tolong. Sebagai seorang tukang daging yang kerjanya membunuh sapi yang tak berdosa, keahlian Witho dalam menggunakan golok tak diragukan lagi, bahkan ia sangat ahli dalam hal bergolok ria. Tapi itu tidak berarti ia bisa ilmu bela diri. Seumur hidupnya ia belum pernah belajar ilmu bela diri, bahkan ia belum pernah berkelahi karena di desa ini tidak pernah terjadi perkelahian! Sekarang ia harus menghadapi 5 orang pengeroyok yang rata-rata memiliki ilmu bela diri yang cukup baik, satu-satunya cara adalah, LARI!!!

Para pengeroyoknya tak mau melepaskan Witho begitu saja. Mereka mengejar Witho yang berlari keliling kampung diiringi suara teriakan minta tolong dan bacokan kapak serta tusukan tombak. Tentu saja di desa ini tak ada yang dapat menolong Witho karena tak ada satu pun orang yang bisa ilmu bela diri.

Setelah hampir kehabisan napas karena berlari tanpa henti, akhirnya kaki Witho yang lemas tersandung batu dan ia jatuh terjerembab. Dengan ganas perampok-perampok itu segera menyerbu untuk menghabisi nyawanya.

Share: