Golok Pembunuh Sapi Bagian 3


Golok Pembunuh Sapi Bagian 2

Igauan Asih semakin lama semakin pelan dan nafasnya mulai melemah. Lukman panik ketika tiba-tiba Asih berhenti menggigil dan terdiam kaku. Ia meraba dada gadis itu mencari detak jantung namun yang ditemukannya hanyalah sebuah benda empuk yang kenyal.

“Hmm... ternyata ada untungnya juga dikutuk menjadi tokoh dalam cerita. Hehehehe...” guman Lukman yang kini diperankan oleh Dewa Sastra.

Lamunan Lukman buyar berganti keterkejutan yang sungguh teramat luar biasa ketika tiba-tiba Asih menepis tangannya dan melompat dari tempat tidur.

“Dasar kakek mesum! Orang sekarat malah dimanfaatkan!”

“Hehehe... sabar dulu non. Ini bukan keinginan saya. Semua kejadian ini sudah diatur oleh Sang Penulis Cerita sebagai balasan karena kamu telah lancang menghina-Nya” kata Lukman sambil terkekeh.

Mendengar keributan di kamar, Witho yang baru saja akan memasuki rumah Lukman segera menerobos masuk dengan golok narsis di tangannya, celingak-celinguk mencari musuh, siap membantai. Tapi yang dilihatnya dalam ruangan itu hanyalah Asih yang telah pulih dan Lukman yang senyum-senyum sendiri. Witho masih terheran-heran karena tiba-tiba saja Asih telah pulih dari keadaannya yang sekarat.

“Aku diberi bonus Chi selama ½ jam oleh penulis cerita ini” kata Asih menjelaskan. “Aku harus memanfaatkan Chi ini untuk menyembuhkan luka dalamku”.

“Kau bisa menyembuhkan diri sendiri?” tanya Witho agak terkejut.

“Ya. Chi yang kumiliki adalah Chi pelindung dan Chi penyembuh. Selama aku masih memiliki Chi, aku bisa menggunakannya untuk menyembuhkan diri sendiri dan orang lain” jelas Asih.

Witho dan Lukman mengangguk setuju dan meninggalkan Asih sendiri agar dia bisa berkonsentrasi melakukan meditasi penyembuhan.

Berdasarkan Pengalaman, Pengamatan, Penalaran dan Penghayatan (P4) Witho, ia mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar gadis itu akan membuka baju saat meditasi. Tidak sia-sia ia mengikuti penataran P4 yang membosankan itu karena kali ini P4-nya terbukti benar. Asih membuka baju luarnya dan hanya mengenakan baju dalam tipis berwarna merah sehingga terlihatlah lekuk tubuhnya yang indah tergambar jelas di balik kain itu. Inilah kesempatan yang tak mungkin disia-siakan oleh Witho. Dengan perlahan, hati-hati, dan tanpa suara ia berjingkrak memasuki kamar yang bersebelahan dengan kamar yang digunakan Asih. Dengan golok narsisnya ia melubangi dinding pembatas kamar.

Pemandangan tubuh Asih yang tertutup kain tipis membuat mata Witho membelalak dan mulutnya menyeringai. Tanpa disadarinya air liur berjatuhan dari mulutnya yang terbuka lebar karena terpana dengan pemandangan di kamar sebelah. Sesekali ia tertawa terkekeh namun berusaha menahan tawanya agar tidak terdengar oleh Asih. Teringatlah akan gadis-gadis yang sering ia intip, tak ada satu pun yang bisa menandingi kemolekan tubuh Asih. Baru kali ini ia melihat tubuh yang sempurna layaknya seorang dewi yang turun dari Kerajaan Langit. Asih merasakan ada sepasang mata yang sedang mengintipnya dan ia juga tahu siapa pemilik sepasang mata kurang ajar itu, tetapi ia telah terlanjur memulai semedi penyembuhan dan tak ingin semedinya itu terhenti karena ia harus mengulangnya dari awal, padahal waktu yang dimilikinya sangat terbatas.

“Hmm... tubuhnya memang indah”

Betapa kagetnya Witho mendengar suara persis di belakangnya sehingga ia melompat dari tempatnya mengintip.

“Luk.. Lukman...”

Witho makin kaget karena orang yang bersuara itu adalah Lukman yang tahu-tahu sudah duduk pula di belakangnya. Jadi sejak tadi Lukman juga ikut-ikutan mengintip bersamanya. Bertahun-tahun tinggal bersama Lukman, Witho tahu kalau Lukman dapat disebut dewa dalam hal mengintip. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh Lukman yang sekaligus membuat Witho heran. Sebagai orang buta, Lukman tak perlu menggunakan matanya untuk mengintip seolah-olah ia memiliki indra tambahan yang berfungsi untuk mengintip gadis-gadis. Biasanya mereka memang mengintip berdua, tapi yang selalu dituduh sebagai pengintip dan dikejar-kejar penduduk hanyalah Witho karena mereka sama sekali tidak mengetahui kemampuan tersembunyi Lukman ini.

“He he he . . .” Lukman terkekeh. “Ternyata kau tidak salah membawa gadis ini kemari. Dia lebih molek dari semua gadis di desa ini”

Setelah melihat tubuh Asih yang aduhai, kali ini Witho tak sudi berbagi dengannya, apalagi melihat wajah Lukman yang kini memancarkan ekspresi mesum yang luar biasa. Dengan cepat ia menggerakkan goloknya, menghajar Lukman dengan gagang golok sampai pingsan. Kejam memang, tapi memang beginilah nasib Lukman sesuai dengan alur cerita yang telah disusun.

Setelah menyeret Lukman keluar dari kamar dan menguncinya di kamar mandi, Witho cepat-cepat kembali ke tempat pengintipannya. Namun baru saja ia akan meletakkan matanya ke lubang, terdengarlah keributan besar di depan rumah.

“Sial, ada gangguan apa lagi ini” umpatnya dalam hati dan dengan gusar mendatangi sumber keributan tersebut untuk melihat apa yang terjadi.

Di depan rumah, segerombolan anggota Kelompok Perampok Tak Berbudi mendatangi rumah Lukman. Pemimpin gerombolan ini adalah Bangka Hijau, Kepala Divisi Pencurian Hardware Komputer dan Barang Elektronik dari Kelompok Perampok Tak Berbudi. Witho semakin geram dengan kedatangan para bandit ini yang mengganggu aktivitas favoritnya.

“Hey bandit! Apa yang kalian lakukan di sini?!” sergah Witho menghadang mereka.

“Kami mencari gadis bernama Cenderawasih. Kami tahu ia berada di sini” jawab Bangka Hijau dengan lantang.

“Tidak ada seorang pun di sini dengan nama itu” sahut Witho tak kalah lantangnya.

Tiba-tiba dari arah belakang rumah keluar seorang anggota gerombolan tersebut sambil berlari-lari.

“Lapor Ketua, ada seorang gadis yang sedang bermeditasi di dalam rumah.... ” orang itu tak melanjutkan kata-katanya. Ia mendekat pada Bangka Hijau dan membisikkan sesuatu. Mata Bangka Hijau langsung melotot dan wajahnya berubah mesum. Ia tertawa menyeringai meneteskan air liur.

Menyadari bahan intipannya diintip orang lain, amarah Witho naik setinggi 2 meter. Ia melangkah maju sambil mengacungkan golok narsisnya ke wajah Bangka Hijau.

“Bukan itu gadis yang kalian cari. Namanya adalah Aura Kasih!”

Suara bisik-bisik segera terdengar dari barisan belakang gerombolan itu. Bangka Hijau kembali berbisik dengan anak buahnya yang tadi datang dari belakang rumah.

“Hei pemuda kampung, apa kau kira kami bodoh?” teriak Bangka Hijau kepada Witho. “Mana mungkin Aura Kasih artis seksi itu bisa ada dalam cerita ini? Kami semua adalah penggemar setianya. Kami punya posternya di kamar masing-masing. Kami hafal betul wajah dan lekuk tubuhnya, bahkan kami hafal lagunya!!!”

Mendengar teriakan Bangka Hijau, sebersit pikiran terlintas di benak Witho. Benar juga kata Bangka Hijau. Seingatnya, pada cerita Golok Pembunuh Sapi Bagian 1, tidak ada satu pun gadis dalam cerita ini yang bernama Aura Kasih. Aneh...

Dari belakang Bangka Hijau muncul seorang wanita berpakaian serba hitam. Wajahnya tertutup tudung dan seluruh tubuhnya terbalut jubah tebal. Matanya dalam dan tajam, memancarkan hawa membunuh yang sangat besar. Wanita ini bernama T-Obeng, pimpinan dari 4 Jendral Bayangan perguruan Dangdut Iblis. Ia melangkah ke samping Bangka Hijau dan berkata dengan dingin “Dialah gadis yang kita cari”.

Mendengar perkataan T-Obeng, Bangka Hijau segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyeret gadis itu keluar. Tentu saja Witho segera menghadang. Dengan gagah dia berdiri di hadapan mereka, dadanya dibusungkan, rambutnya berkibar ditiup kipas angin dan tangan kanan mengacungkan golok ke wajah Bangka Hijau.

Bangka Hijau mengangkat tangan kanannya ke atas, memberi tanda kepada anak buahnya. Gerombolan perampok itu dengan cepat membentuk barisan dengan formasi 4-5-1 dengan Bangka Hijau sebagai ujung tombaknya, formasi menyerang habis-habisan.

Melihat pergerakan para bandit itu, Witho segera waspada dan mundur beberapa langkah ke belakang sambil memegang Goloknya erat-erat, siap membantai siapa saja yang menerjang. Dengan memperhatikan formasi lawan, ia sudah dapat menduga kalau Bangka Hijau akan melakukan penyerangan dengan mencoba menguasai lapangan tengah.

“Aku Bangka Hijau” teriak Bangka Hijau memperkenalkan dirinya. “Mohon kau memberitahu namamu agar aku tahu siapa yang kubunuh”

Witho hanya tertawa kecil mendengar gertakan tersebut. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memperkenalkan dirinya.

“Aku adalah Witho, tokoh utama cerita ini, suka menolong, rendah hati, tidak sombong, tidak gendut, digilai gadis-gadis, dan yang terutama lebih tampan darimu”

Panas hati Bangka Hijau mendengar ejekan Witho. Ia tak sabar lagi untuk memberi pelajaran kepada pemuda itu agar tahu siapa sebenarnya Bangka Hijau.

“Anak-anak, ayo tunjukkan kemampuan kalian! Tunjukkan bahwa kalianlah yang terbaik! Jangan takut! Jangan menyerah! Jangan pernah mundur!” Begitu Bangka Hijau menggerakkan tangannya sebagai tanda untuk beraksi, barisan perampok itu bergerak maju dan serentak menyanyikan jurus dari Aura Kasih yang berjudul “Mari Mencuri”.

Berdansa dan menari ikuti alunan lagu
Semua matapun kini hanya tertuju padaku
Tapi tatap matamu seolah menuduh aku
Ingin dekati aku dan geledah kantongku
Tapi tunggulah dulu kau jangan coba menuduh
Tunggu tunggulah dulu kau jangan geledah aku
Sabar sabarlah dulu kau jangan marah padaku
Bukan salahku jika dompetmu hilang


Suara tepuk tangan segera membahana di seluruh penjuru desa. Penduduk yang tadinya bersembunyi di dalam rumah karena takut akan kedatangan bandit-bandit ini segera keluar dan memberikan aplaus yang luar biasa terhadap penampilan Bangka Hijau dan anak buahnya. Bangka Hijau sangat terharu, baru kali ini anak buahnya tampil dengan performance yang dianggapnya sempurna. Tepuk tangan penonton merupakan penghargaan yang tak ternilai bagi mereka. Tak terasa air mata menetes di pipi dan mereka berpelukan bahagia, puas karena latihan mereka selama ini tidak sia-sia.

Share: