Golok Pembunuh Sapi Bagian 2


Golok Pembunuh Sapi Bagian 1

Setelah pingsan di antara sapi-sapi, Asih kembali dirawat di rumah Lukman. Tubuhnya menggigil dan ia mengigau sehingga Witho menjadi khawatir akan keselamatan jiwanya.

"Gadis ini memiliki energi Chi protektif yang besar, sangat berguna dalam pertarungan melawan musuh yang jauh lebih kuat" kata Lukman.

"Tapi Chi protektif mempunyai efek negatif yang berbahaya" lanjutnya.

"Apa itu?" tanya Witho.

Lukman berpikir sejenak, menumpukan dagu ke tongkat sambil berpikir.

"Chi protektif digunakan untuk memperkuat pertahanan fisik. Akibatnya, kekuatan fisik akan hilang karena aliran energi dalam tubuh diserap dan diganti oleh Chi protektif ini. Jadi saat Chi ini tidak digunakan, tubuh akan menjadi sangat lemah"

"Tapi bukankah Chi itu bisa melindungi dirinya?" tanya Witho lagi.

"Benar" Jawab Lukman. "Tapi luka di tubuhnya itu bukan sekedar luka biasa. Orang yang melukainya menggunakan jurus yang sekaligus melukai fisik dan merusak aliran Chi-nya. Walaupun lukanya telah sembuh, namun Chi-nya masih terganggu dan terus memakan energi fisiknya. Hanya ada satu aliran bela diri yang memiliki Chi seperti ini"

"Aliran apa itu?"

Lukman tak langsung menjawab. Ia memandang Witho dengan matanya yang buta, seolah mencari kepastian, mungkin pula menguatkan keraguannya. Dengan suara berat ia akhirnya berkata.

"Perguruan Dangdut Iblis"

Hening sejenak...

Witho tak dapat berkata. Perguruan Dangdut Iblis bukanlah nama yang bisa sembarangan disebut. Setiap sebutan nama perguruan itu akan membawa kisah kekejaman dan kebrutalan. Perguruan Dangdut Iblis adalah aliran sesat yang dimusuhi oleh perguruan aliran putih. Tiga perguruan aliran putih yang paling terkenal bahkan telah bersumpah untuk memberantas Perguruan Dangdut Iblis sampai ke akar-akarnya. Tiga perguruan ini adalah Perguruan Dangdut Metal, Perguruan Jombo Abadi, dan Kelompok Rocker Gagal.

Perseteruan antar aliran putih dan hitam ini telah berlangsung lama, sejak berakhirnya jaman penjajahan tempoe doeloe. Awalnya semua perguruan baik aliran putih maupun aliran hitam bersatu untuk mengusir penjajah Nusantara dari tanah Likupang ini. Setelah berhasil, terjadilah perseteruan mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin. Perguruan Dangdut Iblis berkoalisi dengan Perguruan Gadis Jablay dan Kelompok Perampok Tak Berbudi melakukan pembantaian besar-besaran terhadap perguruan lainnya.

Banyak perguruan yang menghilang karena pemimpinnya terbunuh pada saat itu. Perguruan yang tersisa adalah ketiga aliran putih yang bertahan sampai sekarang. Dalam pertempuran memperebutkan kekuasaan tersebut, aliran putih akhirnya menang dan mengangkat Capres mereka menjadi pemimpin serta Caleg-Caleg mereka menjadi anggota Dewan. Walaupun mereka menang, namun banyak murid-murid perguruan mereka yang tewas dibantai dengan keji oleh Perguruan Dangdut Iblis. Karena itulah ketiga perguruan aliran putih ini dilindungi oleh pemerintah dan ketiga perguruan aliran hitam tersebut dinyatakan sebagai perguruan terlarang dan tidak berhak mengikuti Pemilu.

Witho merenung sejenak. Keberadaan gadis ini akan membawa malapetaka bagi desa ini. Kalau bukan tentara pemerintah yang datang, pasti anggota Perguruan Dangdut Iblis akan mencarinya sampai ke sini.

"Apakah tidak ada cara untuk menolongnya?"

Lukman menggeleng. "Satu-satunya cara adalah dengan memasukkan Chi cadangan ke dalam tubuhnya. Secara sederhana, keadaannya sekarang seperti Handphone yang punya kemampuan untuk me-recharge diri sendiri, tapi baterainya sudah terlalu lemah, bahkan untuk me-recharge diri sendiri. Jadi satu-satunya cara adalah dengan menggunakan charger luar. Sayang, di desa ini tidak ada satu orang pun yang punya handphone"

Witho mengangguk-angguk tanda tak paham dengan penjelasan yang diberikan Lukman. Ia memandang gadis itu dengan tatapan bimbang. Antara kasihan dengan rasa was-was, bercampur-baur.

"Kau jagalah dia" kata Witho. "Aku masih harus mengantar daging sapi pesanan penduduk" lanjutnya sambil berlalu dari rumah Lukman.

Sepeninggal Witho, keadaan Asih semakin memburuk. Tubuhnya semakin dingin dan membiru. Dalam keadaan tak sadarkan diri, ia terus menggigil dan mengigau. Ia bermimpi mendapat penglihatan.

Ia mendapati dirinya berada di Kerajaan Langit. Dihadapannya seseorang yang agung duduk di singgasana, dengan segelas kopi di depan komputer-Nya. Dialah Sang Penulis Cerita, yang menciptakan segalanya di dunia cerita ini. Asih takjub dengan keagungan Sang Penulis. Apakah ia telah mati sehingga berada di Kerajaan Langit dan bertemu dengan Sang Penulis?

Namun keagungan dan ketakjuban itu sekejap sirna tatkala gadis itu melihat bahwa ternyata Sang Penulis tak lain dan tak bukan adalah Witho, penjual daging yang pekerjaannya membantai sapi yang tak berdosa.

"Ini tidak mungkin!" teriak Asih. "Mana mungkin tukang daging mesum seperti kamu adalah Sang Penulis".

"Diam" bentak Sang Penulis.

"Jangan kau samakan Aku dengan karakter dalam cerita. Witho dalam cerita Golok Pembunuh Sapi hanyalah tokoh imajinatif yang Ku-karang. Akulah Witho yang sebenarnya."

"Lho, bukannya kamu juga hanyalah tokoh imajinatif dalam cerita?" Witho yang asli kan yang sedang mengetik cerita ini" ejek Asih.

Sang Penulis tersinggung dan geram. Baru kali ini harga diri-Nya dihina, malah oleh makhluk duniawi.

"Pokoknya Akulah Sang Penulis cerita Golok Pembunuh Sapi! Akulah yang berkuasa atas cerita ini!" sebersit amarah terpancar dari kata-kata Sang Penulis.

Asih tertawa dalam hati. Di dunia maupun di Langit, orang di depannya ini sama saja; narsis. Tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya.

"Baiklah, jika kamu memang berkuasa atas cerita Golok Pembunuh Sapi, coba buktikan" tantang Asih kepada Sang Penulis.

Sang Penulis berbalik dan tertawa. Sebagai penulis, Ia berkuasa penuh atas cerita Golok Pembunuh Sapi. Pembuktian bukanlah hal yang sulit bagi-Nya. Ia bisa melakukan apa saja dalam cerita tersebut.

"Apa yang kau ingin Aku lakukan?"

"Mudah saja" jawab Asih.

"Aku ingin kau mengganti namaku dalam cerita itu"

Sang Penulis mendadak terdiam. Ia bisa membuat apa saja terjadi dalam cerita, tapi belum pernah terpikir oleh-Nya mengenai penggantian nama tokoh dalam cerita. Apakah ini tidak melanggar aturan kesusasteraan? Mana ada cerita yang mengganti nama tokohnya di tengah-tengah cerita.

Setelah berpikir sejenak, Sang Penulis masih merasa bimbang. Ia menyuruh pengawalnya memanggil Dewa Sastra untuk datang menghadap.

Segera, Dewa Sastra segera datang memenuhi panggilan Sang Penulis. Setelah memberi hormat, ia bersiap menerima titah dari Sang Penulis.

"Dewa Sastra, kaulah yang paling tahu soal kesusasteraan. Coba katakan pada-Ku, bisakah seorang penulis mengganti nama tokoh dalam cerita?"

Dewa Sastra terkejut dengan pertanyaan tersebut. Ia mundur dan menghaturkan hormat.

"Maaf yang Mulia. Tapi selama ini belum ada yang melakukan hal tersebut. Kalau pun nanti ditemukan ada penulis yang melakukan itu, ia harus dihukum karena melanggar aturan kesusasteraan yang telah ditetapkan oleh para leluhur sastrawan. Ini penghujatan! Blaspemi! Sesat! Arwah mereka tidak akan tenang."

Sang Penulis mengangguk-angguk kemudian berbalik kepada Asih.

"Kau dengar apa yang dikatakan Dewa Sastra. Permintaanmu tidak dapat Ku-kabulkan. Sekarang pulanglah kau ke dunia"

Asih tersenyum nakal. Ia melangkah mengelilingi Dewa Sastra, kemudian menjeling pada Sang Penulis.

"Aku akan pulang ke dunia, dan akan kukatakan pada semua orang bahwa ternyata Sang Penulis adalah seorang pengecut yang tidak punya kuasa apa-apa terhadap alur cerita Golok Pembunuh Sapi"

Sang Penulis berbalik dan menatap Asih dengan geram. Sungguh lancang makhluk duniawi ini mengancam Sang Pencipta. Ia bisa saja membinasakan gadis ini dalam cerita, tapi itu akan merusak alur yang telah disusun.

"Kau sungguh lancang! Mentang-mentang kau adalah pemeran utama wanita maka kau sesuka hati mengeluarkan ancaman!"

"Ya... kalau kamu tidak suka, silahkan cari pemeran yang lain" sambil mengucapkan itu, Asih berjalan ke arah gerbang.

Sang Penulis bimbang. Mencari pemeran baru bukanlah hal yang mudah di saat seperti ini. Semua pemeran wanita sudah dikontrak oleh penulis yang lain. Jika Ia harus menunggu sampai kontrak mereka selesai, cerita Golok Pembunuh Sapi bisa terbengkalai.

"Tunggu!" sergah Sang Penulis.

Asih tersenyum. Ia tahu bahwa ia telah berhasil memaksakan kehendaknya pada Sang Penulis.

"Baiklah, Aku akan mengabulkan permintaanmu" kata Sang Penulis.

Dewa Sastra terkejut dengan keputusan Sang Penulis yang akan melanggar aturan kesusasteraan yang suci, yang sudah ditetapkan sejak puluhan generasi sebelumnya.

"Yang Mulia, mohon pertimbangkan kembali keputusan ini" Dewa Sastra memohon sambil bersujud di kaki Sang Penulis. "Coba Yang Mulia renungkan. Apa reaksi pembaca nantinya? Apa kata dunia nanti?"

Sungguh malang bagi Dewa Sastra, nasehatnya justru membangkitkan amarah yang meluap-luap dari Sang Penulis.

"Dewa Sastra! Karena kau telah lancang menghalangi keputusan-Ku, maka aku mengutukmu menjadi tokoh Lukman dalam cerita Golok Pembunuh Sapi!"

Petir menyambar disertai suara gemuruh. Tubuh Dewa Sastra diselubungi cahaya dan sekejap kemudian menghilang. Asih bergidik dengan kekejaman di depan matanya.

Sang Penulis berpaling kepada Asih

"Sekarang katakan, nama apa yang kau inginkan?"

Asih berpikir sejenak. Mulan Jameela, Nafa Urbach atau Dhea Imut adalah nama yang bagus.Tapi Asih tak merasa nama-nama itu cocok untuknya. Bisa-bisa ia malah diterpa gosip video mesum di internet. Akhirnya sebuah nama melintas di benak Asih.

"Aku ingin namaku diganti menjadi Aura Kasih, supaya bisa tetap dipanggil Asih"

"Baiklah, mulai sekarang namamu adalah Aura Kasih"

"Horeee" Asih melompat kegirangan sambil mengucapkan terima kasih karena telah diijinkan mengganti namanya.

"Eh, aku punya satu permintaan lagi" kata Asih.

Sang Penulis menggerutu mendengarnya. Macam-macam saja keinginan gadis ini. Tapi akhirnya Ia mengiyakan untuk memenuhi 1 lagi permintaan Asih.

"Aku ingin diberi bonus Chi Premium selama ½ jam" pinta Asih.

Dibandingkan dengan mengganti nama, memberi bonus Chi terasa tidak ada apa-apanya bagi Sang Penulis. Hanya dengan mengibaskan tangan-Nya ke arah Asih, tubuh gadis itu langsung diselubungi cahaya kebiru-biruan.

"Sekarang kembalilah kau ke dunia supaya cerita ini bisa Ku-lanjutkan"

"Makasih" itulah kata-kata terakhir Asih sambil tersenyum. Pandangannya mulai kabur dan ia kehilangan keseimbangan. Antara sadar dan tidak sadar, ia merasa terjatuh dari tempat yang sangat tinggi, ke dalam jurang yang tak berdasar.

Share: