Demi Sebuah Janji


Suara kolintang itu tak menghentak. Tak jelas pula lagu apa yang dimainkan. Aku lebih paham dengan bisikan angin laut yang berhembus pelan, membawa kebekuan di malam ini.

Panggung yang sederhana itu telah tiada. Sebagai gantinya, sebuah panggung raksasa yang menelan empat pemain kolintang di atasnya. Tak ada pula mata-mata yang biasanya berbaris di sepanjang beton di depan panggung. Terlebih, tidak ada lagi wajah-wajah familiar yang ramah yang selalu menabur canda, atau setidaknya menawarkan sebatang rokok. Setelah empat bulan, Bahu Mall terasa berbeda.

Aku duduk di atas batu besar yang hitam itu, memandang laut yang tertutup kegelapan. Entah, apa yang kupikirkan, aku sendiri tak pernah tahu. Lampu-lampu di tengah laut menandakan masih ada orang yang berjuang dalam kehidupan ini. Ah, aku tak lagi salah satu dari pejuang itu. Derasnya arus hidup telah membuatku hanyut, hilang di antara ombak-ombak yang saling berlomba menuju daratan. Mungkin suatu saat aku akan terdampar di atas pasir pantai yang putih dan indah. Di pulau yang tak ada seorang pun bisa menjangkau.

Dia mencolek pinggangku dari belakang, mengagetkan aku dari lamunanku yang tak berujung. Masih seperti dulu, senyumnya misterius dan menembus batas-batas pemahaman mengenai arti sebuah senyum. Masih kulihat pula sebatang surya di antara bibirnya.

“Aku datang menepati janjiku.”

Dia duduk di sampingku dan memberikan bungkusan rokok yang masih setengah terisi. Aku mengambilnya sebatang.

“Kau bilang, aku harus mengatakannya sendiri. Iya kan ?”

Aku mengangguk membenarkan perkataannya sambil menyalakan rokok di mulutku.

“Sekarang akan kukatakan padamu . . .” ia tak langsung menyelesaikan kalimat yang diucapkannya. Ia menanti sampai aku memandang wajahnya yang tak lagi dihiasi senyum misterius. Senyumnya kali ini meyakinkan aku akan sebuah kebahagiaan yang tak dapat kubayangkan.

Dan bibirnya bergerak mengucapkan kata-kata itu;

“SURGA ITU INDAH.”

Suara kolintang masih mengiringi kesepianku di depan deburan ombak yang menghantam batu-batu hitam yang kaku. Tak jelas lagu apa yang mereka mainkan. Ingatanku berkeliaran mencari butir-butir kenangan masa lampau.

***

"Wit, kau tahu apa yang terjadi setelah manusia mati?"

"Tidak"

"Tak lama lagi aku akan mengetahuinya"

Aku menarik napas, memandang cahaya redup dalam dirinya. Cahaya yang semakin meredup digerogoti terkaman penyakit.

“Kalau kau mati, aku tak mau mendengar dari mulut orang lain. Aku ingin kau sendiri yang mengatakannya langsung kepadaku. Lewat telpon pun tak boleh. Janji?”

“Tenang kawan. Aku janji kepadamu”

“Benar?”

“Iya. He he he”

Angin yang bertiup kencang di bulan Desember menusuk tulang. Di panggung itu jemari kami menari bersama di depan mata-mata yang berbaris.
Share: