60 Km/Jam


Waktu KKN aku dibonceng teman dengan motor saat kami pulang dari pertandingan voli di desa sebelah. Memang sempat muncul perasaan tidak enak untuk dibonceng teman se-posko yang mabuk. Saat motor melaju di jalan yang sempit dan berliku, kuperhatikan speedometernya hampir mendekati 60 Km/Jam. Dalam hati aku merasa takut juga.

Temanku rupanya tahu perasaan takutku dan malah semakin tancap gas untuk menakutiku. Mendekati tikungan, insting narsisku bergetar, memberitahu adanya bahaya menanti di depan. Kupaksa dia untuk menurunkan kecepatan, dia tidak mau.

"Tenang saja, aku berpengalaman" katanya yakin.

"Ya, tapi turunkan kecepatan" bentakku.

Dia tetap bersikeras bahwa dia pengendara motor berpengalaman. Terpaksa kuraih pedal gas dan kuturunkan sendiri. Dia marah-marah karena tindakanku. Pada saat itu sebuah mobil box meluncur keluar dari tikungan, aku sempat memandang mobil box yang lewat itu, seolah ada sesuatu yang menarikku.

Motor yang telah berkurang kecepatannya itu kini memasuki tikungan, dan...

"PRAK!!"

Begitu cepat segalanya terjadi, yang kurasakan hanyalah terseret di aspal. Untung aku memakai celana dan jaket jeans tebal sehingga aku hanya lecet ringan walaupun terseret hampir 20 meter di aspal. Tentu saja celana dan jaketku robek di sana-sini.

Yang parah adalah keadaan temanku, ia hanya memakai celana pendek dan kaos oblong. Akh, sampai sekarang tak ingin kuingat lagi keadaan kulitnya yang dimakan aspal. Aku bergidik membayangkan mobil box yang baru saja lewat. Berdasarkan perhitungan para ahli matematika dan fisika dunia dalam konferensi Menelaah Kecelakaan Motor, jika kecepatan motor tidak diturunkan maka kami akan tergilas oleh mobil box itu. Hiii... geli!!!

Sampai saat ini aku masih trauma bila melihat jarum speedometer berada di angka 60 Km/Jam.

Waktu berlalu. Kali ini aku berada di dalam mobil yang di-supir-i oleh temanku yang biasa dipanggil Bean, seorang pemain bass yang agak sinting. Dia punya reputasi mencelakakan mobil yang ditumpangi seluruh anggota bandnya gara-gara menyetir dengan kaki!

Melewati jalan di tepian pantai yang sepi namun berkelok-kelok, dia tancap gas. Mataku tertuju ke jarum speedometer yang baru saja melewati 60 Km/Jam. Walaupun kali ini insting narsisku tidak bergetar, tapi ingatanku dengan angka 60 tersebut membuat aku menyuruhnya menurunkan kecepatan.

Dasar sinting! Orang-orang ini memang aneh. Entah mereka berpikir dengan logika terbalik atau otak mereka memang miring. Disuruh menurunkan kecepatan dia malah makin tancap gas untuk menakutiku.


"Tenang saja, aku berpengalaman" katanya yakin. Sebuah pernyataan yang sudah pernah aku dengar.

"Ya, tapi turunkan kecepatan" kataku. Walaupun aku memaksa dia tetap tidak mau menurunkan kecepatan.

"Ini belum apa-apa" katanya. "Sepupuku malah lebih gila lagi, dia biasa lewat jalan ini dengan kecepatan 120 Km/Jam!"

"Kau yang lebih gila!" bentakku. "Bagaimana kalau kita bertemu dengan sepupumu yang datang dari arah berlawanan dengan kecepatan 120 Km/Jam?"

Sejenak dia berpikir dan berkata dengan ragu "Ah, biasanya jam segini dia tidak lewat di sini".

Setelah berkata begitu akhirnya dia menurunkan kecepatan. Entah karena takut bertubrukan dengan sepupunya atau bangga karena dibilang lebih gila dari sepupunya.

Apa pun alasannya, aku tak peduli. Yang penting sekarang jarum speedometer itu tak lagi melewati 60 Km/Jam.
Share: