Sang Raja Yang Bijaksana


Konon, di sebuah negeri yang jauh yang bernama Indonesia yang berada di benua Asia, yang bersebelahan dengan benua Australia yang banyak guru-guru pintar yang dipanggil Kang Guru, terjadi gejolak politik yang meresahkan masyarakat. Keresahan ini timbul karena adanya ekspansi politik melalui program penghutanan kembali, atau lebih dikenal dengan nama kerennya Comeback Peng-forest-an Program. Mari kita lihat pengertian program penghutanan kembali yang dikutip dari Withopedia.

"Program penghutanan kembali adalah sebuah program untuk menebang semua pohon di hutan dan menggantinya dengan pohon baru, yang lebih menarik, berwarna-warni, dengan gambar digital dan tulisan menarik, yang dikenal dengan nama Baliho, untuk kepentingan negara maupun partai politik"

Di negeri Indonesia yang kacau balau ini, ada sebuah negeri fiktif yang tak terpengaruh dengan segala gejolak politik yang terjadi. Negeri ini adalah Likupang, sebuah negeri yang damai dan sejahtera, adil dan makmur, tidak ada pajak, tidak ada kemiskinan, tidak ada perang, tidak ada wabah penyakit, tidak ada partai politik, tidak ada MLM, tidak ada homoseksual, tidak ada game online, dan tidak ada Microsoft Windows maupun Linux, dan yang paling penting, TIDAK ADA YANG LEBIH TAMPAN DARI SAYA!!!. Semua kedamaian ini bisa tercapai karena negeri ini adalah negeri fiktif, yang disesuaikan dengan ke-NARSIS-an dan ke-EGOIS-an pengarang.

Likupang dipimpin oleh Raja yang sungguh teramat sangat luar biasa bijaksana sekali. Nama dari Raja itu adalah Raja. Kebijaksanaannya yang luar biasa membuat ia dikenal oleh seluruh penduduk negeri itu. Jika saja di dunia fiktif ini ada negeri lain selain Likupang, pasti namanya dikenal juga di negeri lain itu.

Mari kita lihat kehidupan di negeri ini...

Ayam jantan telah ratusan kali berkokok ketika Leo bangun dari tidurnya. Ia melompat dari tempat tidur dan melakukan sedikit gerakan senam untuk melemaskan otot-ototnya. Dengan sebuah gelas kaca berisikan kopi dan gula ia bersantai di depan rumahnya, menikmati pagi sambil memakan segelas kopi. Betapa terharunya sang ayam jantan melihat usahanya membangunkan Leo akhirnya berhasil. Dengan suara yang parau setelah berkokok mati-matian, ia berkata lirih "kukuruyuk..." kemudian roboh, meninggal dunia dengan sebuah senyum kepuasan terlukis di wajahnya.

Baru saja Leo mulai mengunyah gelas kopi tersebut, matanya membelalak karena seekor kambing durjana sedang menatapnya dengan mata sayu sambil asyik mengunyah sayur kol di pekarangan rumahnya.

Leo gusar dan naik darah, tapi ternyata darahnya mogok sehingga ia harus jalan kaki mengejar kambing durjana itu. Tak lupa juga, ia membawa Golok Pembunuh Sapi warisan Witho, pendekar tiada tanding dari dunia sebelah. Golok ini sekarang diberi nama Golok Pembunuh Kambing, karena dengan golok inilah Leo menghajar kambing durjana tersebut sampai babak belur sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit.

*

Dengan langkah ringan bagai master ninja yang berilmu tinggi, Hans mengendap-endap di belakang rumah Budi. Pakaiannya sungguh keren, serba hitam. Wajahnya ditutupi dengan kain, yang makin membuatnya terlihat seperti master ninja yang berilmu tinggi.

Sungguh mujur nasibnya, jendela dapur rumah Budi tak dikunci. Dengan satu sentakan halus, Hans membuka jendela tersebut dan melompat ke dalam rumah. Mata Hans bersinar terang bak cahaya rembulan di siang hari ketika melihat seperangkat TV dan DVD Player di ruang tamu. Air liur menetes di sela bibirnya membayangkan uang yang akan didapatnya bila ia menjual barang tersebut ke tukang tadah.

Baru saja tangan Hans akan menyentuh TV tersebut, tiba-tiba terdengar suara Budi menggelegar menggetarkan seisi negri.

“PENCURIIIIIIIIIIII...II.II.IIII.IIIIII..II.I.IIII.II.IIIII....III...III.II”

Hans ia segera mempraktekkan ilmu ninjanya, membanting bom kabut. Kabut segera tersebar memenuhi seisi rumah tapi Hans justru menjadi kalang kabut karena tertutup kabut. Baru saja ia akan melompat keluar dari jendela, penduduk negri telah mengepungnya. Tak ada jalan untuk lari.

*

Hari ini Pengadilan Negeri Likupang digelar. Semua memberi hormat ketika Raja Raja memasuki ruangan. Raja menyuruh memanggil peserta pertama untuk menjelaskan kasusnya.

Kasus yang pertama melibatkan Leo sebagai tersangka, Kambing durjana sebagai korban, dan Alex, pemilik kambing sebagai pihak yang menuntut.

Alex menuntut Leo karena menghajar kambingnya sampai babak belur. Leo memberi alasan bahwa kambing itu memakan sayur di halaman rumahnya, terlebih lagi, sang kambing durjana memandangnya dengan tatapan menghina ketika mengunyah sayuran tersebut. Leo balik menuntut Alex karena membiarkan kambingnya berkeliaran memakan sayuran orang lain.

Kambing berdalih bahwa ia memakan sayuran Leo karena Alex tidak menyediakan makanan untuknya.

Raja mengangguk-angguk mendengarkan masalah ini. Ini bukanlah masalah besar, bahkan terlalu mudah bagi sang Raja. Tanpa perlu berpikir lama, sang Raja telah mendapatkan keputusan yang adil.

Leo harus dihukum penjara karena penaniayaan terhadap kambing durjana.

Kambing durjana dinyatakan bebas dari segala tuduhan karena tindakannya memakan sayuran Leo adalah akibat dari kesalahan Alex yang membiarkannya berkeliaran dan tidak menyediakan makanan untuknya.

Selama Leo berada di dalam penjara, Alex harus membawakannya makanan kambing sebagai ganti rugi atas sayuran Leo yang dimakan kambing yang disebabkan oleh kelalaian Alex menyediakan makanan bagi kambing. Setelah masa tahanan Leo habis, Alex dibenarkan menghajar Leo sampai babak belur sebagai balasan atas penganiayaan Leo terhadap kambing durjana.

Kasus yang pertama selesai. Raja memanggil peserta kedua untuk menjelaskan kasusnya.

Kasus yang pertama melibatkan Hans sebagai tersangka dan Budi sebagai pihak yang menuntut.

Budi menuduh Hans melakukan pencurian di rumahnya. Hans mengelak, mengatakan bahwa ia belum sempat mencuri apa pun dari rumah Budi. Dengan demikian ia menolak disebut sebagai pencuri, dan balik menuduh Budi sebagai pelaku fitnah karena meneriakinya sebagai pencuri.

Sang Raja mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari kedua belah pihak. Ini juga bukanlah perkara yang sulit baginya. Hanya dalam sekejap ia sudah memiliki solusi yang adil bagi kedua pihak.

Budi harus dipenjara karena melakukan fitnah, yang dinyatakan lebih kejam dari pembunuhan.

Hans dinyatakan bebas karena terbukti bahwa ia tidak melakukan tindakan pencurian seperti yang dituduh oleh Budi, melainkan hanya percobaan pencurian.

Setelah masa tahanan Budi habis, maka Budi dibenarkan untuk melakukan percobaan pencurian di rumah Hans, sebagai balasan karena Hans telah melakukan percobaan pencurian di rumahnya.

Demikianlah sidang pada hari ini selesai. Yang bersalah segera menjalani hukuman mereka dan yang bebas segera kembali menghirup udara segar. Ini sesuai dengan moto Pengadilan Negeri Likupang

“Menghukum Yang Bersalah dan Membela Yang Benar”
Share: