Apa Kabar Duniaaaaaaaaa



Akhirnya setelah perjuangan yang teramat sangat luar biasa berat sekali, saya bisa selamat sampai di sini dengan ketampanan yang tidak berkurang sedikit pun. Terima kasih kepada bapak, ibu, sanak saudara, keluarga, istri dan anak-anak, teman-teman, tetangga, tukang bakso, tukang sayur, dan masih banyak lagi yang tak mau saya sebutkan namanya (mereka memaksa, tapi saya tak mau). Kalian semua telah mendukung dan menggendong saya, mendorong saya ke dalam sumur, menjitak, menggigit, dan menendang saya serta mencuri beberapa barang saya . . . (Ehm...)

Bertahun-tahun sudah kuhabiskan waktu dengan mengurung diri di rumah, duduk di depan komputer, entah apa yg dilakukan. Berhadap-hadapan dengan layar monitor, saling memandang bisu, seperti orang baru jatuh cinta dan malu - malu. Lagi-lagi kegiatan utama pasti main game, sambil sesekali membaca berbagai ilmu dan pengetahuan lalu nonton video porno.

Setidaknya ada saat-saat dimana aku harus keluar rumah, yaitu pada saat harus manggung di cafe, menjalankan kewajiban sebagai musisi, dan ketika pergi ke kampus untuk minum kopi di kantin sambil mendengarkan bualan dari teman-teman di kampus. Ya begitulah, sehingga seorang (bukan) filsuf yang bernama Renato merenungi gaya hidup ini dan mengambil kesimpulan bahwa saya hanya punya tiga titik utama dalam kehidupan yaitu Rumah - Kampus - Cafe. Ia kemudian menjelaskan dengan gaya Socrates mengenai perputaran titik - titik ini terhadap poros pusatnya yaitu Rumah - Kampus - Rumah - Cafe - Rumah _ Rumah - Rumah - Rumah - (dan seterusnya) . . .

Akhirnya ia merumuskan sebuah teori yang menyatakan bahwa perputaran titik - titik ini tidak bisa dihitung karena akan menghasilkan pengulangan yang tidak terbatas atau endless looping. Ia kemudian menjelaskan bahwa ini jauh lebih rumit daripada perhitungan 10 dibagi 3. Bila perputaran titik-titik ini dihitung oleh sebuah mesin, termasuk komputer, akan menyebabkan terjadinya overheating yang berujung pada rusaknya mesin itu. Ini karena mesin harus menjalankan perhitungan yang tiada habisnya. Berbeda dengan perhitungan 10 dibagi 3 yang masih bisa dihitung oleh mesin dengan teknologi saat ini.

Semua ilmuwan yang hadir berdiri dan bertepuk tangan setelah mendengarkan penjelasan Renato yang luar biasa tersebut. Mereka tercengang dengan ilmu yang masih jauh di luar jangkauan rasio mereka. Sungguh menakjubkan karena tidak ada satu pun di antara mereka yang mengerti dengan penjelasan tadi.

Demikian laporan saya dari Konferensi Membual Internasional. Dan sekarang kita lanjut pada bualan selanjutnya.

Mengembara di dunia internet memang menyenangkan tapi juga melelahkan. Surfing, blogging, main game online, baca sana, baca sini, nonton ini, nonton itu. Awalnya memang menyenangkan tapi lama-lama membosankan juga. Ah, biarlah, setidaknya dengan begitu dapat melupakan kuliah yang tak kunjung selesai jua. Lagipula, koneksi internetnya gratis . . . (Ups).

Posting, nembak keyword, periksa statistik pengunjung blog, edit template, baca sana-sini, posting lagi, nembak keyword lagi, periksa statistik lagi, edit template lagi . . . semuanya berputar dan berulang di situ lagi serasa tak ada habisnya. Seorang (bukan) filsuf bernama Renato merenungi perputaran ini dan siap merumuskan teori baru tapi kali ini aku tak tinggal diam. Kujitak dia sampai pingsan, kemudian kuikat dan kubungkam mulutnya dengan selotip. Ah, akhirnya aku bebas dari bualan ilmiahnya yang memuakkan.

Kadang-kadang aku ingin membual, tapi aku ingin agar blogku stick to the theme. Maka jadilah segala bualan itu kutumpahkan kepada teman, tetangga, tukang bakso, tukang sayur, bahkan cicak dan tikus yang datang mendekatiku. Sayangnya, mereka semua bunuh diri setelah mendengarkan bualanku. Di antara mereka semua, aku paling merasa bersalah pada seekor tikus yang mati secara mengenaskan. Ia sedang asik melahap beras di yang kusimpan di kantong plastik ketika aku melihatnya. Tanpa meminta persetujuannya aku langsung membual. Belum lagi selesai bualanku, sang tikus segera melakukan pembelian racun tikus secara online yang segera dikirim dengan kiriman kilat yang segera dilahapnya tanpa banyak bicara. Ia tewas saat itu juga dan aku merasa bersalah pada keluarganya. Aku ingin minta maaf pada istri dan anak-anaknya, serta sanak-saudara, kerabat, handai tolan dan teman-temannya namun mereka semua telah angkat kaki dari rumahku. Entah dimana mereka berada sekarang, aku tak tahu. . .

Rental Playstation di rumah ternyata ada manfaatnya juga. Banyak anak-anak yang datang, membuat rumah semakin ramai, dan itu berarti semakin banyak target untuk melampiaskan semua bualanku. Sungguh menyenangkan membual dengan anak-anak karena mereka memiliki daya imajinasi yang lebih besar. Ujung-ujungnya, akulah yang mendengarkan bualan mereka dan hampir bunuh diri . . .

Akhirnya . . . !!!

Belum tahu bagaimana akhirnya. Begitu aku bangun (tidak) pagi (lagi), sudah ada blog ini dan aku membual di sini. Aneh juga . . .

Share: